Kubu Raya Perkuat Strategi Hadapi Puncak Ancaman Karhutla
- 01 Agt 2026 16:00 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Kubu Raya - Pemerintah Kabupaten Kubu Raya memperkuat koordinasi menghadapi ancaman karhutla guna mengendalikan kebakaran selama puncak musim kemarau tahun ini.
Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kubu Raya masih menjadi perhatian serius memasuki awal Agustus 2026. Pemerintah Kabupaten Kubu Raya bersama Polres Kubu Raya memperkuat strategi menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September mendatang melalui penguatan koordinasi lintas instansi, penambahan personel survei, pembangunan embung darurat berbahan terpal, hingga penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan.
Wakil Bupati Kubu Raya, Sukiryanto, mengatakan berdasarkan pemantauan perkembangan titik api sejak 8 Maret hingga akhir Juli 2026, potensi karhutla masih berpeluang meningkat dalam beberapa pekan ke depan. Menurutnya, seluruh unsur harus tetap siaga mengingat kondisi cuaca yang masih kering.
"Perkiraan kami, hingga September nanti ancaman kebakaran masih cukup tinggi. Karena itu seluruh unsur harus tetap siaga," ujar Sukiryanto saat Briefing Rutin Penanganan Karhutla di Ruang Rapat Praja Utama.
Ia menjelaskan, sekitar 80 persen wilayah Kubu Raya merupakan lahan gambut yang sangat rentan terbakar saat musim kemarau. Bahkan, di kawasan Sepakat, Sungai Raya, dan Sungai Ambawang, kedalaman gambut mencapai enam hingga delapan meter sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama serta ketersediaan sumber air yang memadai.
"Kita memiliki personel dan peralatan, tetapi ketika sumber air sulit didapat, pemadaman menjadi jauh lebih berat," katanya, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Saat ini Kubu Raya tercatat sebagai daerah dengan jumlah titik api tertinggi ketiga di Kalimantan Barat setelah Ketapang dan Kayong Utara. Kondisi tersebut juga menjadi perhatian karena Kubu Raya merupakan kawasan penyangga Bandara Internasional Supadio, sehingga kabut asap berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan apabila tidak dikendalikan sejak dini.
Untuk mempercepat penanganan di lapangan, pemerintah daerah mengusulkan pembangunan embung darurat berbahan terpal sebagai cadangan air di lokasi rawan kebakaran. Selain dinilai efektif, biaya pembangunannya relatif murah, yakni sekitar Rp3,6 juta per unit.
"Kalau tersedia cadangan air di dekat lokasi kebakaran, respons pemadaman tentu akan jauh lebih cepat," ujar Sukiryanto.
Sementara itu, Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa S. Aktadivia meminta seluruh jajaran meningkatkan koordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, BPBD, Manggala Agni, serta seluruh pemangku kepentingan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla. Personel juga diperintahkan mengecek embung yang telah tersedia di kawasan Jalan Angkasa Pura dan SMA Negeri 4 Sungai Raya sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi kondisi terburuk.
"Koordinasi dan kolaborasi harus terus diperkuat agar setiap titik api dapat ditangani secepat mungkin," kata Rensa.
Selain memperkuat upaya pemadaman, Polres Kubu Raya juga menegaskan akan melakukan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan secara sengaja. Penyelidikan akan dilakukan untuk mengungkap pemilik lahan, pelaku, hingga motif pembakaran apabila ditemukan unsur pidana.
"Cari tahu siapa pemilik lahannya, siapa yang melakukan pembakaran, serta apa motifnya. Jika ada unsur kesengajaan, tentu akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku," kata Kapolres usai melakukan pengecekan embung di Jalan Angkasa Pura.
Kapolres juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Menurutnya, langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah api meluas. "Kami terus mengedukasi masyarakat melalui Satbinmas bersama tokoh masyarakat agar tidak meninggalkan api yang berpotensi memicu kebakaran lebih besar," katanya, mengakhiri.
Baca juga: Satgas Udara Konsentrasi Pemadaman Karhutla di Tiga Kabupaten di Kalbar
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....