Masker Masih Diabaikan saat Kabut Asap, ISPA Jadi Keluhan Terbanyak Pasien
- 06 Okt 2026 20:57 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Di tengah kabut asap yang masih menyelimuti Pontianak, Kalimantan Barat dalam beberapa bulan terakhir, kesadaran masyarakat untuk mengenakan masker dinilai masih rendah. Padahal, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi keluhan yang paling banyak dialami pasien yang berobat ke fasilitas kesehatan.
Kepala sekaligus dokter umum di Klinik Pratama Pacificus Bos di Kota Pontianak, dr. Angelina Putri, mengatakan banyak pasien yang datang berobat dengan keluhan gangguan pernapasan. Namun, tidak mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah.
“Masih banyak sekali yang berobat, baik membawa anaknya maupun untuk dirinya sendiri, itu belum pakai masker. Sementara keluhannya datang dengan infeksi saluran pernapasan,” ujarnya saat diwawancarai RRI Pontianak, Selasa, 6 Oktober 2026.
| Baca juga: Tetap Sehat meski Terkepung Asap |
Menurut Angel, rendahnya kesadaran memakai alat pelindung diri ini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi tenaga medis selama masa kabut asap. Ia dan tim di kliniknya pun terus mengingatkan pasien pentingnya masker untuk mencegah paparan asap lebih lanjut.
“Itu mungkin salah satu tantangan untuk kita semua, terutama tenaga medis di klinik ini, untuk terus mengingatkan pasiennya pakai masker dan alat pelindung diri,” katanya.
Minimnya penggunaan masker ini berbanding lurus dengan tingginya angka kasus ISPA yang ditangani kliniknya. Angel menyebut, sejak kabut asap mulai menebal pada Agustus lalu, ISPA menjadi keluhan yang paling banyak dialami pasien, disusul diare.
“Sejak kabut asap mulai tebal, pasien mulai berdatangan dengan beberapa keluhan, seperti infeksi saluran pernapasan atas dan diare yang paling sering,” ujar dokter yang sudah bertugas di klinik tersebut sejak Maret 2025 itu.
Ia menjelaskan, lonjakan pasien ISPA mulai terlihat jelas bersamaan dengan kebijakan meliburkan sekolah akibat kabut asap. Meski data jumlah pasien secara rinci belum sempat direkap, Angel memastikan terjadi peningkatan signifikan pada Agustus dan September, terutama pada pasien anak-anak dan pasien dengan penyakit penyerta atau komorbid, seperti diabetes melitus (DM), asma, dan hipertensi, serta kelompok lanjut usia yang rentan terdampak kabut asap.
Selain ISPA, kasus diare turut meningkat akibat kualitas air yang terdampak kabut asap. “Diare di sini maksudnya buang air besar cair, frekuensinya meningkat dari biasanya, konsistensinya cair, disertai muntah-muntah. Kebetulan di Pontianak kabut asap ini juga berdampak pada kualitas air PDAM,” katanya.
Terkait kasus berat, Angel mengatakan kliniknya melayani rawat inap bagi pasien anak-anak dan pasien dengan penyakit bawaan yang kondisinya memburuk. Ia juga mencatat sejumlah pasien remaja yang mengalami diare cukup parah hingga lemas dan dehidrasi, serta pasien dengan riwayat asma yang kambuh akibat paparan kabut asap sehingga membutuhkan observasi selama beberapa hari di klinik.
Di luar persoalan masker, Angel menambahkan, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masyarakat juga masih perlu ditingkatkan. Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan setelah beraktivitas atau sebelum makan, menurutnya, masih kerap diabaikan, padahal berkontribusi menekan risiko penularan penyakit di tengah kondisi kabut asap saat ini.
“Paling itu saja, lebih menyadarkan masyarakat betapa pentingnya menggaungkan pola hidup bersih dan sehat,” katanya, mengakhiri.
Rico Ferdinand/MagangHub II 2026
Baca juga: Beban Ganda Guru Pontianak: Mengajar di tengah Kepungan Asap
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....