Sugar Addiction Ancam Generasi Muda, Risiko Diabetes Meningkat
- 06 Jun 2026 07:19 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Konsumsi makanan dan minuman manis yang semakin menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda dinilai perlu mendapat perhatian serius. Ketua Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) Kalimantan Barat, Tri Hidayat, SGz, MGz, RD, mengingatkan bahwa kebiasaan mengonsumsi gula secara berlebihan dapat memicu sugar addiction atau kecanduan gula yang berdampak pada kesehatan fisik maupun mental.
Menurut Tri Hidayat, sugar addiction merupakan kondisi ketika seseorang memiliki dorongan kuat untuk terus mengonsumsi makanan atau minuman manis secara berulang meski tidak sedang merasa lapar.
“Sugar addiction adalah kondisi ketika seseorang memiliki keinginan yang sangat kuat untuk mengonsumsi makanan atau minuman manis secara berulang meskipun sebenarnya dia tidak lapar. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun mental seseorang,” ujarnya dalam Program Indonesia Sehat, Jum’at, 5 Juni 2026, bersama Host, Dian Lestari.
Ia menjelaskan, gula tidak hanya berasal dari permen atau kue, tetapi juga dari berbagai minuman kekinian seperti kopi susu, boba, minuman energi, teh kemasan, hingga makanan olahan yang banyak beredar di pasaran.
Tri Hidayat mengungkapkan bahwa saat seseorang mengonsumsi gula, otak akan melepaskan dopamin yang memberikan rasa senang dan puas. Jika terjadi terus-menerus, pola ini dapat mengubah sistem penghargaan di otak sehingga memicu perilaku yang menyerupai kecanduan.
“Ketika gula dikonsumsi berlebihan, seseorang akan sulit berhenti. Bahkan setiap hari merasa ada yang kurang jika belum mengonsumsi makanan atau minuman manis. Kondisi ini mirip dengan mekanisme kecanduan karena melibatkan sistem penghargaan di otak,” katanya.
Akibatnya, seseorang cenderung mencari makanan manis saat stres, ingin menambah porsi konsumsi, dan terus mengulang kebiasaan tersebut untuk mendapatkan rasa puas yang sama.
Kebiasaan mengonsumsi gula berlebih juga meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, terutama obesitas dan diabetes melitus tipe 2.
“Minuman manis mengandung kalori tinggi tetapi tidak memberikan rasa kenyang yang bertahan lama. Akibatnya asupan energi meningkat, berat badan naik, dan risiko obesitas menjadi lebih tinggi,” kata Tri Hidayat.
Ia menambahkan, kasus diabetes tipe 2 yang sebelumnya identik dengan kelompok usia lanjut kini semakin banyak ditemukan pada usia muda.
“Dulu diabetes tipe 2 identik dengan orang tua. Sekarang kasus diabetes pada usia muda semakin meningkat akibat pola makan dan gaya hidup yang kurang sehat, termasuk konsumsi gula berlebihan,” ujarnya.
Selain berdampak pada kesehatan fisik, sugar addiction juga dapat memengaruhi kemampuan belajar dan kondisi psikologis remaja.
Menurut Tri Hidayat, lonjakan kadar gula darah memang dapat memberikan energi dan meningkatkan fokus dalam waktu singkat. Namun setelah kadar gula kembali turun, tubuh akan mengalami kelelahan, mengantuk, hingga sulit berkonsentrasi.
“Banyak orang merasa lebih fokus setelah minum yang manis, tetapi efeknya hanya sementara. Setelah kadar gula turun, seseorang bisa merasa lemas, sulit konsentrasi, dan mood menjadi tidak stabil,” katanya lagi.
Kondisi tersebut bahkan dapat memicu kecemasan berlebihan hingga gangguan suasana hati apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Tri Hidayat mengingatkan bahwa Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan konsumsi gula maksimal 50 gram atau setara empat sendok makan per hari.
Namun, menurutnya, satu gelas minuman kekinian saat ini sering kali sudah mendekati bahkan melampaui batas konsumsi gula harian tersebut.
“Masalahnya, satu gelas minuman kekinian kadang sudah mendekati atau bahkan melebihi batas konsumsi gula harian yang dianjurkan,” ucapnya.
Bagi masyarakat yang sudah terbiasa mengonsumsi makanan atau minuman manis setiap hari, Tri Hidayat menyarankan agar pengurangan dilakukan secara bertahap.
“Jangan langsung berhenti total. Kurangi sedikit demi sedikit agar tubuh bisa beradaptasi. Misalnya dari tiga sendok gula per hari menjadi dua sendok, lalu dikurangi lagi secara bertahap,” katanya.
Selain itu, masyarakat juga dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih, membaca label kandungan gizi pada makanan kemasan, mengonsumsi buah utuh, tidur cukup, rutin berolahraga, dan mengelola stres dengan baik.
Tri Hidayat menilai peran orang tua sangat penting dalam membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini. Ia mengingatkan bahwa generasi muda merupakan investasi masa depan yang harus dijaga kesehatannya.
“Yang berbahaya bukan gulanya, tetapi pola konsumsi yang berlebihan dan berlangsung terus-menerus. Mulailah membiasakan anak mengurangi minuman manis, memperbanyak air putih, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang,” katanya.
Ia pun mengajak generasi muda untuk lebih bijak dalam memilih makanan dan minuman sehari-hari. “Manis itu boleh, yang tidak boleh adalah berlebihan. Nikmati rasa manis secukupnya untuk masa depan yang lebih sehat,” ucapnya.
Baca juga: Hadapi Era Digital, Keluarga Harus Perkuat Komunikasi
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....