Hadapi Era Digital, Keluarga Harus Perkuat Komunikasi
- 06 Jun 2026 07:14 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi di era digital menghadirkan tantangan baru bagi kehidupan rumah tangga. Karena itu, membangun keluarga sakinah tidak cukup hanya mengandalkan cinta pada awal pernikahan, tetapi membutuhkan pondasi agama yang kuat, komunikasi yang sehat, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Hal tersebut disampaikan Ustadz Qomaruzzaman saat memberikan tausiah tentang pentingnya membangun keluarga sakinah di tengah kehidupan modern yang semakin kompleks, di acara Mutiara Pagi RRI Pro 1 Pontianak, Jum’at, 5 Juni 2026.
Menurutnya, keluarga sakinah adalah keluarga yang menghadirkan ketenangan, ketenteraman, dan kenyamanan bagi seluruh anggota keluarga. Konsep tersebut tidak dapat dipisahkan dari mawaddah (cinta kasih) dan rahmah (kasih sayang).
"Sakinah adalah ketenangan dan ketenteraman dalam rumah tangga. Mawaddah adalah cinta kasih yang tulus, sedangkan rahmah adalah kasih sayang yang membuat pasangan saling menjaga dan menerima kekurangan satu sama lain," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tantangan keluarga saat ini jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Jika dahulu rumah menjadi benteng yang melindungi keluarga dari pengaruh luar, kini internet dan media sosial telah menembus batas-batas tersebut.
"Handphone dan gadget memang mendekatkan yang jauh, tetapi ironisnya sering kali menjauhkan yang dekat. Suami dan istri duduk dalam satu ruangan, tetapi masing-masing sibuk dengan layar telepon genggamnya," katanya.
Menurut Ustadz Qomaruzzaman, pondasi utama keluarga sakinah di era modern adalah agama. Keimanan harus menjadi kompas yang membimbing keluarga menghadapi berbagai pengaruh negatif yang masuk melalui media digital.
"Di tengah tsunami informasi yang sering menggerus nilai-nilai moral, agama harus menjadi rujukan utama keluarga. Suami dan istri harus saling menguatkan untuk menjaga keluarga dari pengaruh buruk yang bertentangan dengan syariat," katanya, menegaskan.
Selain aspek agama, ia juga menyoroti pentingnya kesehatan psikologis dan emosional dalam rumah tangga. Tingginya tekanan pekerjaan, masalah ekonomi, hingga kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain di media sosial dapat memicu konflik keluarga.
"Tantangan terbesar saat ini adalah hilangnya rasa saling percaya. Kadang-kadang ruang privasi yang berlebihan di media sosial justru menimbulkan kecurigaan dalam rumah tangga. Solusinya adalah keterbukaan dan komunikasi yang jujur," ucapnya.
Ustadz Qomaruzzaman juga mengingatkan bahwa pasangan suami istri harus mampu menjadi pelindung satu sama lain, termasuk menjaga aib keluarga agar tidak diumbar ke ruang publik.
"Suami dan istri itu ibarat pakaian. Fungsinya bukan hanya memperindah, tetapi juga menutupi kekurangan dan melindungi satu sama lain," katanya.
Dalam hal pendidikan anak, ia menekankan pentingnya menyesuaikan pola asuh dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai agama.
"Jangan paksakan anak mengikuti seluruh cara hidup orang tuanya di masa lalu. Anak-anak hidup pada zamannya sendiri sehingga perlu dibimbing sesuai tantangan yang mereka hadapi saat ini," ujarnya.
Ia juga mengingatkan orang tua untuk meningkatkan literasi digital agar mampu mengawasi penggunaan teknologi oleh anak-anak secara bijak. "Orang tua harus membuat aturan yang jelas tentang penggunaan gadget, termasuk waktu layar dan aktivitas digital yang boleh maupun tidak boleh dilakukan anak," katanya.
Di akhir tausiahnya, Ustadz Qomaruzzaman mengajak seluruh keluarga untuk memperkuat komunikasi, membangun kepercayaan, serta meluangkan waktu berkualitas bersama keluarga di tengah kesibukan sehari-hari.
"Membangun keluarga sakinah adalah perjuangan yang berkelanjutan. Dibutuhkan ilmu, kesabaran, komunikasi yang baik, dan komitmen untuk menjadikan agama sebagai pedoman utama dalam kehidupan keluarga," katanya, mengakhiri.
Baca juga: Nafkahi Istri Bukan Sekadar Kewajiban Syariat, tetapi Juga Tanggung Jawab Moral Suami
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....