Jadi Pusat Rujukan Kalbar, Kebutuhan Darah di Pontianak Melonjak
- 22 Jun 2026 12:07 WIB
- Pontianak
PONTIANAK, RRI.CO.ID– Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Pontianak mengungkapkan bahwa kebutuhan darah untuk melayani pasien di berbagai fasilitas kesehatan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sebagai pusat rujukan medis di Kalimantan Barat, Kota Pontianak kini melayani rujukan dari seluruh kabupaten/kota di wilayah tersebut.
Kepala UTD PMI Kota Pontianak, dr. Sidig Handanu Widoyono, M.Kes., menjelaskan bahwa saat ini ada sekitar 12 rumah sakit di Pontianak yang menjadi tujuan rujukan, termasuk rumah sakit tipe A dan tipe B. Tingginya angka kesakitan serta meningkatnya penyakit degeneratif seperti gagal ginjal dan jantung, yang kini mulai menyerang usia muda, menjadi pemicu utama melonjaknya kebutuhan kantong darah.
"Tuntutan kami di PMI Kota Pontianak adalah harus senantiasa menyediakan darah dalam jumlah yang cukup dan dipastikan aman. Sebab, sampai hari ini belum ada teknologi farmasi apa pun yang bisa menggantikan fungsi darah manusia untuk pengobatan," ujar dr. Sidig Handanu saat menjadi narasumber dalam dialog interaktif TOSERBA (Topik Serba Ada) di RRI Pro 2 Pontianak pada Jumat, 19 Juni 2026.
Menyikapi tantangan tersebut, PMI Kota Pontianak terus memperluas jaringan melalui kerja sama kelompok donor darah sukarela. Hingga tahun 2026, tercatat ada sekitar 300 kelompok pendonor yang dibina, mulai dari instansi pemerintah, TNI, Polri, pelaku usaha, lembaga seperti RRI, hingga pembentukan Kampung Donor Darah. Selain itu, jejaring antar-unit juga diperkuat hingga ke wilayah Kubu Raya, Mempawah, hingga Singkawang untuk saling menopang jika terjadi kelangkaan stok.
Dalam sebulan, PMI Kota Pontianak rata-rata menerima sekitar 2.700 hingga 3.000 pendonor yang kemudian diolah menjadi berbagai komponen darah. Jika diakumulasikan, produksi komponen darah dalam satu tahun dapat berkisar hingga 45.000 kantong.
Meski angka produksinya tinggi, dr. Sidig mengakui jumlah tersebut sejatinya masih belum ideal untuk memenuhi kebutuhan riil di lapangan. Idealnya, PMI harus memiliki cadangan stok yang setara dengan kebutuhan empat hari ke depan untuk semua golongan darah. Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa rata-rata pasokan harian berkisar di angka 200 kantong, di mana darah yang masuk hari itu sering kali langsung habis digunakan pada hari yang sama. Kesenjangan stok inilah yang memicu munculnya istilah donor darah pengganti, yaitu ketika keluarga pasien harus mencari pendonor mandiri karena stok di PMI sedang kosong.
Lebih lanjut, dr. Sidig menerangkan bahwa donor darah bukan sekadar aksi kemanusiaan yang tinggi nilainya untuk menyelamatkan nyawa, melainkan juga memberikan dampak kesehatan yang signifikan bagi sang pendonor. Donor darah secara rutin terbukti dapat mengurangi kekentalan darah, meringankan beban kerja jantung, serta memicu regenerasi sel darah merah baru. Selain itu, proses donor juga berfungsi sebagai sarana general check-up gratis. Sebelum mendonorkan darah, PMI akan melakukan skrining ketat terhadap tekanan darah, kadar hemoglobin (HB), serta pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi infeksi menular lewat transfusi darah (IMLTD) seperti HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, dan sifilis.
dr. Sidig juga meluruskan mitos terkait penggabungan golongan darah. Di era modern saat ini, pemberian darah di luar golongan darah yang sama, seperti memberikan golongan darah O kepada pasien golongan darah lain, sudah tidak lagi dianjurkan dan tidak boleh dilakukan karena risiko komplikasi yang sangat tinggi bagi pasien. Berkat kecanggihan teknologi, saat ini bahkan telah ditemukan hampir 35 pengelompokan darah yang membutuhkan kecocokan sangat spesifik, termasuk tes aglutinasi sebelum transfusi.
Terkait gaya hidup anak muda, dr. Sidig mengonfirmasi adanya tren positif peningkatan kesadaran donor darah dari generasi muda di Pontianak. Meski begitu, kendala utama yang sering membuat calon pendonor muda gagal saat skrining adalah kadar hemoglobin yang rendah akibat pola makan kurang zat besi (junk food), kurang tidur/bergadang, serta konsumsi obat-obatan tertentu sebelum donor. Hambatan lain juga berlaku bagi mereka yang melakukan aktivitas tindik atau tato dalam kurun waktu satu tahun terakhir, di mana mereka harus menunda donor demi aspek kehati-hatian terhadap risiko penularan penyakit.
Terkait keterbukaan informasi, PMI saat ini telah menggunakan sistem informasi nasional bernama Sistem Donor Darah Indonesia. Meski demikian, dr. Sidig mengakui bahwa akses informasi stok darah secara real-time bagi masyarakat luas masih menjadi tantangan yang sedang diupayakan pengembangannya, terutama dari sisi pemenuhan teknologi dan sumber daya manusia.
Baca juga: Donorkan Darah, Selamatkan Nyawa
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....