Satu dari Sepuluh Anak RI Alami Cemas, Apa yang Salah?

  • 10 Jul 2026 11:10 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Kesehatan mental generasi muda Indonesia kini tengah menghadapi alarm keras yang tidak boleh diabaikan. Berdasarkan hasil skrining kesehatan berskala besar melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diinisiasi oleh Kementerian Kesehatan, ditemukan data mengejutkan bahwa satu dari sepuluh anak dan remaja di Indonesia kini menunjukkan gejala kecemasan (anxiety) hingga depresi klinis. Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan cerminan dari gunung es masalah psikologis yang selama ini tersembunyi di balik dinding-dinding sekolah dan rumah tangga, yang akhirnya terdeteksi berkat pemeriksaan masif yang menyasar seluruh lapisan masyarakat.

Pemicu utama dari meroketnya angka gangguan kecemasan pada anak-anak ini adalah tekanan akademis dan sosial yang terdistorsi oleh era digital. Anak-anak zaman sekarang tidak hanya dituntut berprestasi di sekolah, tetapi juga dihadapkan pada paparan konstan media sosial yang menciptakan standar hidup tidak realistis. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) serta perbandingan sosial yang terjadi setiap detik di dunia maya memicu perasaan tidak berdaya, rendah diri, dan kecemasan kronis sejak usia dini, di mana kapasitas emosional mereka sebenarnya belum matang untuk memproses tekanan sebesar itu.

Selain faktor eksternal digital, disfungsi komunikasi dalam lingkungan keluarga turut andil dalam memperparah kondisi ini. Pola asuh yang terlalu menuntut (authoritarian) atau sebaliknya, ketidakhadiran emosional orang tua (emotional neglect) akibat kesibukan kerja, membuat anak kehilangan ruang aman (safe space) untuk mengekspresikan emosi negatif mereka. Banyak anak yang akhirnya memendam kecemasan mereka sendiri karena takut dihakimi atau dianggap lemah oleh lingkungan terdekatnya. Akibatnya, emosi yang tertekan ini bermanifestasi menjadi gejala depresi, mulai dari perubahan perilaku yang drastis, hilangnya minat belajar, hingga gangguan tidur.

Deteksi masif melalui CKG ini juga membuka mata publik mengenai minimnya kesadaran (awareness) dini terhadap kesehatan mental anak di Indonesia. Selama ini, gejala-gejala awal depresi pada anak sering kali disalahartikan oleh orang tua dan guru sebagai bentuk kemalasan, sifat pemberontak, atau sekadar "drama" remaja biasa. Stigmatisasi yang masih kuat di masyarakat membuat penanganan medis atau psikologis sering kali terlambat dilakukan, sehingga kondisi psikologis anak telanjur memburuk saat akhirnya mendapat bantuan profesional.

Dampak dari pengabaian kesehatan mental pada usia perkembangan ini sangat fatal bagi masa depan bangsa. Depresi dan kecemasan yang tidak ditangani sejak dini terbukti dapat menurunkan fungsi kognitif otak anak, menghambat kemampuan mereka dalam mengambil keputusan, serta merusak produktivitas akademis. Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan risiko perilaku destruktif yang membahayakan diri sendiri (self-harm) hingga memicu krisis mentalitas yang lebih besar ketika mereka memasuki usia produktif dan dunia kerja nantinya.

Oleh karena itu, momentum data dari CKG ini harus dijadikan titik balik bagi pemerintah, sekolah, dan orang tua untuk membangun sistem pendukung (support system) yang terintegrasi. Sekolah tidak boleh lagi hanya fokus pada nilai akademis, melainkan wajib menyediakan layanan bimbingan konseling yang ramah anak dan bebas stigma. Di tingkat keluarga, orang tua perlu melatih kepekaan emosional dan membuka ruang dialog yang penuh empati. Menyelamatkan kesehatan mental anak-anak kita saat ini adalah investasi terbesar untuk memastikan generasi penerus bangsa tumbuh menjadi manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental.

Baca juga: Ketika UKT Menjadi Bayangan Kecemasan bagi Orang Tua

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....