Penyalahgunaan Obat Tertentu Banyak Menyasar Remaja dan Pekerja Lapangan Berat
- 12 Mei 2026 12:58 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Pontianak mengungkapkan penyalahgunaan obat-obat tertentu (OOT) di Kalimantan Barat masih menjadi ancaman serius, terutama bagi kalangan remaja dan pekerja lapangan berat seperti pekerja tambang. Fakta ini dibahas pada agenda Aksi Nasional Pencegahan Penyalahgunaan OOT di Hotel Mercure Pontianak pada Selasa, 12 Mei 2026.
Kepala BPOM Pontianak, Hariani mengatakan, penyalahgunaan OOT menjadi perhatian nasional sehingga pada Mei 2026 digelar aksi nasional pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan obat-obat tertentu secara serentak di seluruh Indonesia.
“Remaja ini kan suka coba-coba, mencari jati diri, lalu terpengaruh lingkungan dan teman. Mereka tidak sadar kalau penyalahgunaan obat ini bisa merusak diri sendiri, lingkungan, keluarga, bahkan masa depannya,” kata Hariani saat diwawancarai tim liputan RRI Pontianak.
Hariani menyampaikan bahwa dampak penggunaan obat secara berlebihan dapat merusak organ tubuh seperti hati dan ginjal. Hal itu terjadi karena obat dikonsumsi tidak sesuai aturan dan dalam dosis yang tidak wajar.
Selain remaja, BPOM juga menemukan penyalahgunaan OOT banyak terjadi di kalangan pekerja tambang. Hariani mengatakan kondisi kerja yang berat serta minim hiburan di lokasi pertambangan membuat pekerja rentan menjadi target pengedar.
“Mereka butuh fisik kuat untuk bekerja. Pengedar tahu itu pasar yang gampang dipengaruhi. Efek obat memang membuat badan terasa kuat sementara, tapi akhirnya ketergantungan dan merusak tubuh,” ucapnya.
BPOM Pontianak mencatat sepanjang 2026 telah menemukan 27 kasus penyalahgunaan OOT di tujuh kabupaten dan kota wilayah kerja BPOM Pontianak, dengan sebagian besar kasus ditemukan di Kota Pontianak. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 2025 yang mencatat 17 kasus.
Hariani menjelaskan, peredaran obat-obat tersebut umumnya masuk melalui jasa ekspedisi, bukan jalur perbatasan. Ia juga mengungkapkan sebagian besar penjual merupakan anak muda yang menyasar konsumen seusia mereka.
“Yang menjual ini banyak anak muda juga. Mereka tahu pasar anak muda itu seperti apa. Kadang karena faktor ekonomi, tapi mereka tidak berpikir dampaknya bisa merusak konsumennya,” katanya.
BPOM mengimbau orang tua lebih aktif mengawasi aktivitas anak, termasuk lingkungan pergaulan dan penggunaan obat-obatan. Edukasi di sekolah serta pengawasan penjualan obat keras tanpa resep dokter juga dinilai penting untuk mencegah kasus terus meningkat.
Baca juga: Kemenkum Kalbar Dorong Perda Perlindungan Kekayaan Intelektual
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....