“Rasa Senang” Jadi Jerat yang Mematikan

  • 20 Apr 2026 16:20 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak: Program TOSERBA (Topik Serba Ada) Pro 2 RRI Pontianak mengupas sisi ilmiah di balik efek narkoba melalui perspektif dopamin, Kamis, 16 April 2026. Bersama apoteker Apt. Inne Novianti, S.Farm, pendengar diajak memahami bagaimana zat “kebahagiaan” di otak justru bisa menjadi pintu masuk kecanduan berbahaya.

Program siaran yang berlangsung dari Studio Pro 2 RRI Pontianak dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube ini menghadirkan pembahasan mendalam soal dopamin, zat kimia di otak yang sering disebut sebagai hormon kebahagiaan. Penyiar Anwar membuka diskusi dengan fenomena sederhana yang dekat dengan keseharian, seperti kecanduan media sosial hingga game.

Apt. Inne Novianti menjelaskan, dopamin sebenarnya diproduksi secara alami oleh tubuh sebagai respons terhadap hal-hal yang menyenangkan. “Saat kita makan enak, olahraga, atau dengar musik, dopamin akan dilepaskan dan menimbulkan rasa senang,” ujarnya.

Namun, kondisi ini menjadi berbahaya ketika dopamin dipicu secara tidak alami, seperti melalui penyalahgunaan narkoba. Ia menyebut, zat adiktif mampu “membajak” sistem kebahagiaan di otak dengan meningkatkan dopamin secara drastis dan instan. “Kalau normalnya 100, bisa dipaksa jadi 1000. Ini yang bikin sensasi euforia berlebihan,” ucapnya.

Efek tersebut tidak berhenti di situ. Tubuh akan beradaptasi melalui fase toleransi, di mana pengguna membutuhkan dosis lebih tinggi untuk mendapatkan efek yang sama. “Awalnya cukup sedikit, lama-lama harus ditambah karena tubuh mulai menyesuaikan,” katanya, menambahkan.

Ketika kondisi berlanjut, seseorang akan masuk tahap adiksi atau kecanduan. Pada fase ini, bukan hanya tubuh, tetapi juga aspek psikologis ikut terpengaruh. Pengguna akan merasa perlu terus mengonsumsi zat tersebut meski secara fisik sebenarnya tidak dibutuhkan.

Gejala putus obat atau withdrawal menjadi salah satu tanda serius. Inne menyebut, kondisi ini justru berbanding terbalik dengan efek awal narkoba. “Kalau sebelumnya merasa ringan dan senang, saat sakau justru lemas, gelisah, bahkan sakit di seluruh tubuh,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa penyalahgunaan zat tidak selalu berasal dari narkotika murni. Beberapa obat yang beredar di masyarakat, seperti obat batuk atau pilek, memiliki struktur kimia yang mirip dan berpotensi disalahgunakan. “Tubuh tidak melihat merek obat, tapi struktur kimianya. Ini yang sering dimanfaatkan,” ujarnya.

Meski demikian, Inne menegaskan bahwa kecanduan masih bisa dipulihkan, terutama jika ditangani sejak fase awal. Rehabilitasi dengan pendampingan tenaga medis menjadi kunci, termasuk peran dokter dan apoteker dalam menurunkan dosis secara bertahap.

Sebagai langkah pencegahan, ia mengajak generasi muda untuk mencari sumber dopamin alami melalui aktivitas positif. “Olahraga, hobi, dan interaksi sosial itu penting. Jangan cari jalan pintas yang justru merusak. Jadilah pribadi yang berbudaya dan bermartabat tanpa narkoba,” katanya.

Baca juga: Viral di Medsos, Jasa Bantu Pontianak Tuai Respons Positif

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....