Duta Bahasa Kalbar: Mengabdi dan Jaga Budaya Lokal
- 28 Okt 2025 16:52 WIB
- Pontianak
KBRN, Pontianak: Pasangan Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Sabastinus Hugo & Syahda Aresta, berbagi kisah inspiratif mereka dari proses audisi hingga kegiatan pengabdian di program "Pontianak Today" RRI Pro 2 Pontianak, Senin, (27/10/2025). Mereka menegaskan bahwa peran Duta Bahasa adalah wadah untuk berproses dan mengabdi, bukan sekadar kompetisi kecantikan.
Menurut Syahda, dirinya termotivasi mendaftar karena latar belakang pendidikannya di jurusan Bahasa. Sementara Hugo, terdorong oleh keresahan terhadap generasi muda yang mulai meninggalkan bahasa daerah dan sastra lisan.
Mereka menerangkan jika proses seleksi Duta Bahasa dikenal ketat dan panjang, meliputi berbagai tahapan. Di antaranya taklimat atau pembekalan materi, krida atau proyek pengabdian, UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia), yaitu TOEFL-nya Indonesia, tes psikologi untuk menguji kepemimpinan dan empati sosial. Termasuk tes wawancara yang menguji kemampuan berbahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing, yang sejalan dengan konsep Trigatra Bangun Bahasa.
Hugo menerangkan, pada tingkat nasional, krida yang dibawa oleh perwakilan Kalbar bertajuk "Geliat" (Gerakan Literasi Anak Tiga Etnis). Proyek ini mengangkat literasi budaya Melayu, Dayak, dan Tionghoa, serta menumbuhkan toleransi dan revitalisasi permainan tradisional. Uniknya, program ini juga memasukkan literasi finansial bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Momen paling berkesan bagi mereka adalah sesi bahasa asing, di mana mereka berhasil memukau juri dengan memperkenalkan kekayaan budaya Dayak. Hugo menampilkan tarian sakral seperti Tarian Notok (tarian bersama kepala kayau) dan Tarian Nganjat Iban, sementara Resta memperkenalkan Tariu, pekikan khas suku Dayak.
Resta dan Hugo menekankan bahwa dinobatkan sebagai Duta Bahasa bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan pengabdian seumur hidup. Program Duta Bahasa dapat berkolaborasi dengan berbagai lini kehidupan, mulai dari kesehatan (contoh: panduan penanganan rabies dalam bahasa daerah) hingga pendidikan (media pembelajaran bagi anak disleksia).
Mereka pun berpesan bagi calon Duta Bahasa adalah "Mulai aja dulu" dan jangan takut mencoba.
“Inti dari pengabdian ini adalah terus menggaungkan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, melestarikan bahasa daerah, serta menguasai bahasa asing sebagai jati diri bangsa,” katanya.
Baca juga: Bujang Dare Pontianak Ajak Anak Muda Lestarikan Budaya
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....