Duta HIV Cilik Kalbar Ajak Anak Berani Bersuara dan Peduli Sesama

  • 03 Agt 2026 18:08 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Edukasi mengenai HIV tidak hanya menjadi tanggung jawab orang dewasa, tetapi juga dapat dikenalkan kepada anak-anak dengan pendekatan yang sesuai usia. Melalui pemahaman sejak dini, anak-anak diharapkan mampu menjaga diri, menghilangkan stigma terhadap orang dengan HIV, serta menjadi agen perubahan di lingkungan sekitarnya.

Hal tersebut mengemuka dalam program Indonesia Layak Anak (IDOLA) RRI Pro 1 Pontianak yang menghadirkan Duta HIV Cilik Kalimantan Barat 2025, Kelli Quinza, bersama trainer dan educreator, Wahyudi, membahas tema "Suara Anak untuk Edukasi dan Kepedulian Sesama", Minggu, 2 Agustus 2026.

Kelli Quinza mengaku tertarik mengikuti ajang Duta HIV Cilik setelah terinspirasi oleh para seniornya yang aktif dalam kegiatan sosial. Meski sempat merasa gugup saat tampil di atas panggung, siswi kelas VI sekolah dasar itu berhasil meraih gelar Duta HIV Cilik Kalimantan Barat 2025 berkat dukungan keluarga dan latihan selama sekitar satu bulan.

"Kelli tertarik ikut Duta HIV karena melihat kakak-kakak yang ikut kegiatan duta. Kelli ingin merasakan bagaimana menjadi duta dan ternyata pengalaman itu membuat Kelli lebih percaya diri," ujar Kelli.

Sebagai Duta HIV Cilik, Kelli mengaku sering mendapat pertanyaan dari teman-temannya mengenai HIV dan AIDS. Dengan bahasa sederhana, ia menjelaskan bahwa HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS merupakan kondisi lanjutan akibat infeksi HIV yang tidak ditangani.

"Dari kecil kita harus waspada karena 100 persen orang bisa terkena HIV. Bukan dilihat dari usia, penampilan, jenis kelamin, ataupun pekerjaan," katanya.

Sementara itu, Wahyudi menjelaskan bahwa ajang Duta HIV Cilik bertujuan membangun kepedulian sosial anak sejak usia dini. Menurutnya, edukasi HIV tidak hanya membahas pencegahan penyakit, tetapi juga menanamkan empati, menghapus stigma, dan membentuk karakter anak agar peduli terhadap sesama.

"Kalau kita membahas HIV, bukan hanya soal cara pencegahan. Yang ingin kami bangun adalah kesadaran anak-anak terhadap isu sosial sehingga mereka peduli pada diri sendiri, keluarga, teman, dan masyarakat," jelas Wahyudi.

Ia mengakui tantangan terbesar dalam mengenalkan edukasi HIV kepada anak justru berasal dari persepsi orang tua. Masih banyak orang tua yang menganggap pembahasan mengenai HIV belum layak diberikan kepada anak-anak, padahal informasi yang tepat sesuai usia justru menjadi bekal penting agar anak mampu melindungi dirinya.

"Yang paling sulit diubah sebenarnya adalah mindset orang tua. Padahal yang berbahaya bukan sekadar HIV, tetapi perilaku berisiko. Karena itu orang tua juga perlu diedukasi agar memahami pentingnya pendidikan kesehatan sejak dini," ujarnya.

Selain menjadi Duta HIV Cilik, K Kelli aktif mengikuti berbagai kegiatan positif seperti menari, melukis, bermain kecapi, hingga belajar bahasa asing. Ia juga terlibat dalam kegiatan sosial di sekolah, seperti bazar amal yang hasilnya disumbangkan kepada panti asuhan. Menurutnya, kepedulian terhadap sesama harus dimulai dari lingkungan sekitar.

Kelli juga mengajak anak-anak Indonesia untuk berani menyuarakan hal-hal positif, menjaga lingkungan, serta peduli terhadap sesama melalui aksi nyata.

"Kita harus saling mendukung, menjaga lingkungan, dan melakukan hal-hal baik untuk membantu orang lain. Kalau dari kecil sudah peduli, nanti saat besar kita bisa memberi manfaat lebih banyak," tuturnya.

Di akhir dialog, Wahyudi berpesan kepada anak-anak agar tidak takut mencoba berbagai kesempatan untuk mengembangkan potensi diri. Menurutnya, keberanian merupakan modal utama untuk belajar, sementara kemampuan lain dapat diasah melalui latihan dan pengalaman.

"Percaya diri dulu. Public speaking, catwalk, maupun pengetahuan bisa dipelajari. Yang penting jangan takut gagal, karena setiap usaha pasti akan membawa pengalaman yang berharga," pungkasnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....