Menghidupkan Kembali Seni "Betitak", Tradisi Berbalas Pantun yang Kembali Diminati

  • 27 Apr 2026 13:32 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Suasana kumpul keluarga yang biasanya riuh dengan suara televisi atau denting sendok, kini mulai diwarnai dengan celotehan jenaka penuh rima. Seni "Betitak" atau tradisi berbalas pantun khas Melayu, kini kembali naik daun dan mulai sering dipraktikkan oleh generasi muda dalam berbagai acara santai.

Bagi masyarakat di Kalimantan Barat, pantun bukan sekadar susunan kata-kata indah, melainkan media komunikasi yang penuh keakraban, sindiran halus, hingga ungkapan kasih sayang.

Bukan Sekadar Milik Orang Tua

Selama ini, seni berbalas pantun sering dianggap sebagai domain para orang tua atau tokoh adat dalam upacara pernikahan formal. Namun, belakangan ini tren tersebut bergeser. Anak-anak muda mulai menyelipkan "Betitak" dalam percakapan sehari-hari, terutama saat momen kumpul keluarga besar atau arisan.

"Dulu rasanya kaku kalau mau berpantun. Tapi sekarang, kalau lagi kumpul sepupu, kita sering coba-coba Betitak buat seru-seruan. Selain melatih otak untuk berpikir cepat, suasana jadi jauh lebih hidup dan cair.

Media Ekspresi yang Spontan dan Jenaka

Salah satu daya tarik utama Betitak di kalangan anak muda adalah sifatnya yang spontan. Tidak perlu menggunakan bahasa yang terlalu puitis atau sulit dimengerti. Pantun-pantun yang dibawakan biasanya berkaitan dengan topik ringan seperti candaan soal kuliner, hobi, hingga kisah asmara yang sedang viral.

Kreativitas ini menunjukkan bahwa tradisi lisan tidak harus kaku. Dengan memasukkan unsur kekinian, seni Betitak justru menjadi cara yang efektif bagi generasi Z dan Milenial untuk tetap terhubung dengan akar budaya mereka tanpa merasa ketinggalan zaman.

Melestarikan Identitas Lewat Kebiasaan Simpel

Menghidupkan kembali tradisi ini di acara keluarga merupakan langkah kecil namun berdampak besar bagi pelestarian budaya. Melalui Betitak, nilai-nilai kesantunan dalam bertutur kata tetap terjaga, namun tetap dikemas dalam balutan komedi dan kehangatan.

"Betitak itu melatih kesantunan. Meskipun kita mau menyindir atau bercanda, ada aturan rima dan tata krama yang harus diikuti. Inilah hebatnya budaya kita.

Dengan semakin seringnya seni Betitak terdengar di ruang-ruang tamu dan meja makan keluarga, ada harapan besar bahwa identitas lokal akan terus lestari. Tradisi ini membuktikan bahwa pantun tidak akan pernah lekang oleh waktu, selama ada kreativitas yang menghidupkannya kembali.

Baca juga: Menjaga Marwah Rima di Ujung Jari: Pantunin AI Bawa Sastra Melayu Mendunia

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....