Pesan dari Pameran tentang Kisah-Kisah dari Hulu Fragmen Ruang Hidup Dayak Iban
- 24 Jul 2026 19:56 WIB
- Pontianak
Data pada artikel ini didasarkan pada pengamatan dan perbincangan penulis dengan para pihak pada Pameran Studi Seni Kisah-kisah dari Hulu” Fragmen dari Ruang Hidup”, yang digelar Inaya Kayan Indonesia pada tanggal 17 – 19 Juli 2026, di Rumah Budaya Kampung Caping, Pontianak. Penulis hadir di dua hari pertama pameran, sehingga sempat ngobrol dengan Gusti Enda, kurator pameran tersebut, Meta Septalisa, Direktur Inaya Kayan Indonesia, dan beberapa seniman muda yang berkiprah di pameran tersebut. Termasuk ngobrol dengan Liawandira, perempuan muda pelopor seni dan kebudayaan Dayak Iban yang diundang khusus di pameran itu.
Menurut pihak penyelenggara, pameran tersebut merupakan bagian dari jalan seni sebagai media advokasi atau art vocacy yang berdasarkan pada pengalaman, kesaksian, dan arsip, tanpa memaksakan solusi dan tanpa membahayakan warga. Pihak penyelenggara juga menyatakan, melalui pameran ini, Inaya Kayan Indonesia memberikan ruang dan waktu kepada para seniman dari berbagai latar belakang karya seni untuk mengekspresikan realitas alam, budaya dan Orang Iban melalui berbagai jenis karya seninya. Bila diperhatikan secara mendalam, karya seni yang ditampilkan kental sekali dengan nuansa pendekatan simbolik, estetika dan empati yang otentik. Dengan melihat, “membaca”, dan mendengar karya-karya seni yang ditampilkan, maka emosi dan kesadaran pengunjung pameran tersebut sangat dimungkinkan dapat tergugah, khususnya terkait objek dan atau peristiwa yang diekspresikan melalui karya seni para seniman.
Secara keseluruhan terbentuk proses penyadaran dari studi seni menuju seni sebagai media advokasi. Dari proses art studies ke art vocacy.
Konteks
Ekosistem sebuah karya seni dibentuk ruang dan waktu. Disitulah karya seni menjadi suatu media (medium), atau alat.
Di sinilah proses penciptaan berbagai karya seni yang ditampilkan pada pameran 3 hari itu sebagai media advokasi yang berpendekatan kultural. Dalam konteks ini pula, sebuah karya seni, dengan kekuatan dan keterbatasannya, diharapkan mampu memengaruhi hati nurani siapa saja yang “menikmatinya” secara langsung sehingga pesan sosial di baliknya dimungkinkan bisa lebih mudah diterima ketimbang sebuah narasi yang kaku.
Dalam iklim sosial politik dan demokrasi seperti yang sedang dialami di negeri ini sekarang, maka karya seni sebagai media, sebagaimana ini dilakukan Inaya Kayan Indonesia bersama 13 seniman dari berbagai daerah ini adalah pilihan strategi advokasi yang tepat. Di lingkungan sosial politik yang serba membatasi kebebasan berekspresi dan berpendapat, maka karya seni rupa (lukis), karya seni visual, karya music, dan sejenisnya menjadi pilihan sebagai media untuk menyampaikan pesan kritik sosial secara keras maupun dengan metafora yang halus sehingga bisa mengurangi potensi reaksi yang represif.
Dengan kata lain, dalam dinamika sosial demokrasi yang “alergi” terhadap kritik atau protes masyarakat sipil, maka pendekatan kreatif demikian itu perlu dihadirkan. Para seniman yang senang dengan tantangan untuk menghasilkan karya seni yang berdaya kreatif dan inovatif akan mampu beradaptasi dengan situasi seperti disebutkan di atas.
Kembali ke pameran ini, pilihan tempat proses art studies bagi 13 seniman di Dusun Lauk Rugun, Desa Rantau Prapat Ketemenggungan Jalai Lintang, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat tentu dilandasi pertimbangan lingkungan alam, budaya dan Masyarakat Adat Iban yang masih lestari, meskipun tidak berarti terbebas sepenuhnya dari ancaman perusakan, terutama dari pengaruh eksternal.

Pilihan tempat juga sesuai dengan kebutuhan ruang-ruang dialogis seniman dari berbagai “genre” dengan budaya dan lingkungan alam Masyarakat Adat Dayak Iban sebagai dukungan dalam memperkuat solidaritas sosial di antara warga Masyarakat Adat Dayak Iban di Lauk Rugun khususnya, dan dan di Ketemenggungan Jalai Lintang umumnya. Pendekatan ini menciptakan peluang bagi warga setempat, sekurangnya bagi anak-anak muda untuk berinteraksi dengan para seniman muda, selanjutnya memetik pembelajaran darinya dalam mengekspresikan alam, kebudayaan dan manusia Iban.
Perjumpaan dan dialog antara para seniman, Inaya Kayan Indonesia dan warga Lauk Rugun diharapkan dapat menginspirasikan suatu kesadaran bersama tentang perlunya menjaga kelestarian alam, budaya dan keberlanjutan proses regenerasi pengetahuan budaya, seperti pengetahuan menenun sidan sebagaimana pengalaman Liawandira sejak ia berusia 12 tahun silam, dan pengetahuan main sape tatkala ia masih duduk di bangku kelas 1 SMP.
Menurut Meta Septalisa, Direktur Inaya Kayan Indonesia, yang mengombinasikan isu lingkungan dan seni untuk tujuan mengadvokasi hak-hak perempuan atas lingkungan dan sumber daya hutan, Art Studies Exhibition: “Kisah-kisah dari Hulu” Fragmen dari Ruang Hidup menyajikan karya seni 13 seniman dari Kalimantan, Jawa Barat, Jakarta dan Bali. Dalam berbagai karya seni, para seniman muda mengekspresikan apa yang mereka amati, dengar, catat, dan pelajari tentang kehidupan Masyarakat Adat Dayak Iban di Dusun Lauk Rugun, Rumah Betang Bukung, dan Rumah Panjang Sungai Utik di Kapuas Hulu.

Di pameran 3 hari itu ditampilkan fragmen ruang hidup Masyarakat Adat Dayak Iban di Lauk Rugun (Desa Rantau Prapat), rumah panjang Bukung (Desa Benua Martinus), dan rumah panjang Sungai Utik (Desa Batu Lintang) melalui media seni gambar, suara, arsip proses, catatan lapangan para seniman muda. Meskipun demikian, Meta menegaskan bahwa pameran karya seni dari 13 seniman muda ini tidak bermaksud untuk menawarkan solusi dari suatu persoalan.
Karya Seni
Sekadar contoh beberapa karya seni dapat dibagikan di sini. Lukisan berjudul “Kunci” ukuran 113 x 137 cm karya M. Ozi Trianda, seniman muda asal Bengkayang, tentang relasi antara perempuan Iban, tenun, hutan, dan dunia supra natural Dayak Iban. Empat unsur penting yang menandai eksistensi kebudayaan Dayak yakni manusia (diwakili perempuan), tenun (budaya materi), hutan, dan dunia supra natural. Hutan dan dunia supra natural sama pentingnya dalam membentuk sistem pengetahuan perempuan Iban mengenai praktik menenun. Jika hutan dan dunia supra natural terancam, maka terancam pula pengetahuan perempuan Iban akan praktik menenun.
Dengan kata lain, jika sumber daya hutan dan supra natural Dayak Iban hilang, maka kebudayaan Dayak Iban akan hilang juga. Bahkan bagi Ozi, jika hutan punah maka punah pula tenun Iban. Jika tenun punah, maka tidak hanya sebuah kain yang punah, tapi jejak pengetahuan, sejarah dan identitas Masyarakat Adat Dayak Ibanpun turut punah. Melalui karya seni rupa ini, Ozi, yang lebih senang disebut seniman visual ini berpesan bahwa menjaga hutan bukan hanya menjaga alam, tapi juga merawat sejarah, merawat cerita dan praktik tentang pengetahuan leluhur, budaya serta jati diri yang telah hidup (living culture) dalam keseharian perempuan Iban.
Menurut Liawandira, “Kunci” adalah sosok perempuan “pangau” (perempuan kayangan) yang mengajarkan perempuan Iban tentang pengetahuan menenun. Jadi, dalam kebudayaan Dayak Iban, menenun bukan sekadar persoalan gerak jemari tangan perempuan saat memintal benang, atau saat masuk hutan untuk mengambil bahan ramuan pewarna alami, tapi menenun biasanya disertai berbagai syarat dan pertimbangan spiritual. Pertimbangan spiritual berlaku dalam praktik menenun, begitu pula ketika masuk ke hutan untuk mengambil bahan pewarna dari alam. Ini disimbolkan dengan lukisan tentang sosok perempuan Iban sedang menenun, yang dibayangi empat makhluk spiritual di belakangnya yang sangat dikenal dalam kepercayaan adat orang Iban yakni “nabau”, “remaung”, “gumba”, dan “genali”.

Eksistensi perempuan penenun pada Masyarakat Adat Dayak Iban di Lauk Rugun dipertegas melalui karya komposisi audio dari Camelia Jonathan, seniman audio yang berjudul “Lauk Rugun Masih Menenun”. CJ, sapaan akrab Camelia Jonathan, seniman muda asal Jakarta ini menyatakan bahwa karyanya itu sebagai bentuk respon atas lukisan “Kunci” karya Ozi. Menurutnya, karya audio ini dihasilkan dari rekaman lapangan yang dikumpulkan selama perjalanan di Lauk Rugun, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Berbagai suara, meliputi suara hutan di malam hari, bunyi alat tenun saat perempuan penenun bekerja menjelang subuh, petikan sape di teras rumah panjang, kicau burung dari tepian hutan, arus sungai, bunyi mesin perahu, musik penyambutan tamu yang disertai gemerincing gelang dan lonceng para penari.
Menurut CJ, semua itu hadir dalam ruang dan waktu yang nyata. Dalam deskripsinya dinyatakan bahwa suara perahu perlahan menjelma menjadi “nabau”, dan geraman dari kejauhan di hutan terasa seperti kehadiran “remaung”. Sedangkan bunyi alat tenun yang berulang menyerupai denyut yang menjaga hubungan harmonis antara Masyarakat Adat Dayak Iban, dengan hutan dan sungainya. “Melalui media komposisi audio, kenangan-kenangan yang tertinggal di Lauk Rugun kembali dirajut. Jadi, komposisi berbagai audio itu sejatinya merupakan ruang ingatan, pengetahuan, dan pengalaman kultural yang terus diwariskan,” kata CJ.

Lukisan “Indai Betenun Dini Ari”, karya Golden Lee, seniman seni rupa asal Sambora, Kab. Mempawah ini menggambarkan seorang ibu (indai) yang menenun sebagai aktivitas sehari-hari mereka seperti biasa di desa Lauk Rugun. Dalam kebudayaan Dayak Iban, menenun merupakan tradisi yang diwariskan hingga saat ini dan seterusnya. Menenun sebagai kearifan lokal bernilai sakral, juga sarat nilai nilai dan aturan yang dipegang teguh dan dijalani dalam menenun. Untuk motif tertentu, teknis pembuatannya, dan penenunnya tidak boleh sembarangan.
Masih mengenai sosok perempuan Dayak Iban sebagai penjaga tradisi dan keharmonisan alam. Lukisan “Kemilau Perempuan Iban” berukuran 50 x 60 cm karya Queensha Damara Alamsyah, seniman seni rupa asal Barito Timur, Kalimantan Tengah, menampilkan sosok perempuan Dayak Iban sedang berdiri dengan latar belakang hutan yang rimbun. Ia memakai busana khas Iban lengkap dengan mahkota berwarna kuning emas menandai status sosial dan keagungan warisan budaya. Penutup dada berwarna kontras: ada kuning, merah dan hitam yang menyimbolkan keberanian dan kedalaman spiritual. Catatan dari kurator menegaskan bahwa karya ini sejatinya merayakan identitas Dayak Iban yang kaya dengan nilai sejarah dan spiritual, serta keberadaan manusia yang hidup harmonis berdampingan dengan alam.

Menjaga Optimisme
Dalam diskusi bersama seniman, di sesi artist talk, tertangkap jelas optimisme para seniman muda, termasuk dari Liawandira, perempuan muda pelopor seni dan kebudayaan Dayak Iban mengenai keberlanjutan regenerasi pengetahuan menenun, budaya dan alam Masyarakat Adat Dayak Iban di Lauk Rugun, Kapuas Hulu.
Optimisme yang ada menantikan aksi nyata untuk terus menjaganya dan terus dibangun bersama oleh berbagai pihak, terutama sekali oleh warga Masyarakat Adat Dayak Iban Lauk Rugun, anak-anak muda generasi Iban, para tetua Iban, perempuan maupun laki-laki, para pemangku adat dan budaya Iban.
“Satu yang mengesankan dari Lauk Rugun adalah bahwa anak-anak yang masih duduk kelas 5 SD sudah mulai belajar menenun,” ungkap Lia.
Di komunitas Dayak Iban, optimisme itu akan terus dijaga dengan menghidupnyatakan petuah khas Iban Lauk Rugun dalam kehidupan sehari-hari, dari generasi ke generasi: “hutan tok apai kami, tanah tok indai kami, aek tok darah kami”.
Masa kini dan masa depan eksistensi kebudayaan Dayak Iban membutuhkan peran sentral para “indai” dan para “apai” yang mewariskannya, dan peran generasi anak-anak muda yang meneruskannya.

Penulis: R. Giring
Baca juga: Liawandira: Menenun Masa Depan Dayak Iban dari Lauk Rugun
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....