Cerita Anak Rantau Serawai Pedalaman Sintang Demi Majukan Pendidikan
- 30 Jun 2026 13:37 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Merantau demi menempuh pendidikan tinggi di kota besar sering kali dipandang sebagai sebuah privilese. Namun, bagi sebagian anak muda dari daerah pedalaman, merantau adalah pertarungan untuk bertahan hidup melawan keterbatasan fasilitas, gegar budaya, dan rasa rindu kampung halaman.
Kenyataan itulah yang dihadapi oleh Rayun Syah Pitra Darmawan (22), mahasiswa Semester 8 Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) IAIN Pontianak. Pemuda asli Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang ini membagikan kisah ketangguhannya dalam program dialog sore "NGOPI" (Ngobrolin Prestasi dan Informasi) di RRI Pro 2 Pontianak, Rabu, 24 Juni 2026.
Menempuh perjalanan darat selama 14 jam dari kampung halamannya menuju Kota Pontianak pada tahun 2022 silam, Rayun muda mengaku sempat mengalami gegar budaya. Sebagai seorang introver yang tidak pernah menginjakkan kaki di kota besar, ia kesulitan beradaptasi dengan pergaulan gaya hidup perkotaan yang serba cepat.
"Di awal-awal kuliah, saya pernah mengalami masa di mana saya harus membagi sebungkus nasi telur seharga sepuluh ribu rupiah untuk makan pagi dan malam demi menghemat biaya. Saya juga inisiatif membantu ibu-ibu membereskan warung kantin kampus agar bisa mendapat tambahan makanan," kata Rayun kepada host Anwar, menceritakan masa sulitnya sebagai penerima beasiswa Bidikmisi.
Bukan hanya keterbatasan finansial, fasilitas pendukung perkuliahannya pun sangat memprihatinkan. Rayun mengaku masih menggunakan ponsel genggam dan laptop dengan kapasitas RAM 2GB peninggalan masa SMA-nya, yang sering kali tersendat saat digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas kampus.
Meski digempur keterbatasan, niatnya tak pernah surut. Rayun menegaskan, fokus utamanya merantau adalah menyelesaikan kuliah tepat waktu agar bisa segera kembali ke kampung halaman untuk mengabdi menjadi seorang guru.
Menurutnya, Kecamatan Serawai saat ini tengah mengalami krisis SDM tenaga pendidik berkualitas, seiring dengan beralihnya mata pencaharian warga lokal ke sektor tambang. Baginya, menjadi guru di pedalaman bukan sekadar mencari pekerjaan, melainkan sebuah panggilan jiwa dan keikhlasan.
Di tengah gempuran pergaulan bebas anak muda kota, Rayun membentengi diri dengan tetap menjaga keimanan dan berbakti kepada orang tua dari kejauhan. "Salat lima waktu adalah benteng utama dari pergaulan bebas. Dan jangan pernah lupa memanjatkan doa 'Sapu Jagat' serta doa untuk kedua orang tua di setiap usai salat, karena keridaan merekalah yang melancarkan urusan kita di tanah rantau," ujarnya.
Di akhir perbincangan, Rayun memberikan pesan penguat bagi sesama mahasiswa perantau di Kota Pontianak agar terus meluruskan niat, menjaga pergaulan, dan tidak pernah takut mencoba hal-hal baru.
"Mengutip pesan Buya Hamka: Jangan takut jatuh, karena jatuh itu hanya dialami oleh orang yang berani memanjat. Jangan takut gagal, karena gagal hanya dialami oleh mereka yang berani mencoba," ucapnya memungkasi.
Baca juga: Kawal Trigatra Bahasa, Gen Z Diminta Tak Malu Berbahasa Daerah
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....