Kawal Trigatra Bahasa, Gen Z Diminta Tak Malu Berbahasa Daerah

  • 29 Jun 2026 18:55 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Di era modern yang serba digital, penguasaan bahasa asing kerap dianggap sebagai tolak ukur standar kecerdasan dan pergaulan anak muda (Generasi Z dan Alpha). Ironisnya, di saat yang bersamaan, tren tersebut perlahan menggerus eksistensi bahasa daerah yang acap kali dilabeli sebagai bahasa yang terdengar kuno atau kampungan.

Keresahan tersebut menjadi topik utama dalam obrolan santai sore "NGOPI" (Ngobrolin Prestasi dan Informasi) di RRI Pro 2 Pontianak, Kamis, 25 Juni 2026. Hadir sebagai narasumber, Duta Bahasa Persahabatan Provinsi Kalimantan Barat 2026, Citra Lestari (Tari) dan Rivaldo Afra (Aldo). Keduanya sepakat bahwa penguasaan bahasa asing adalah keharusan, namun tidak boleh mematikan identitas bahasa ibu.

"Banyak anak muda sekarang yang menganggap bahasa asing itu lebih keren, padahal bahasa daerah adalah identitas dan jati diri bangsa. Bahkan, di Kalimantan Barat sendiri sudah ada beberapa bahasa daerah yang terancam punah karena kehilangan generasi penuturnya," ucap Tari kepada host Dipa Revanda.

Mahasiswi baru Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura (Untan) asal Kabupaten Ketapang itu menambahkan, peran keluarga adalah pilar utama dalam merawat eksistensi bahasa daerah. Menurutnya, mustahil mengharapkan seorang anak bangga berbahasa daerah jika orang tuanya di rumah hanya mendidik menggunakan bahasa nasional atau bahasa asing.

Senada dengan Tari, Aldo yang merupakan alumni Pendidikan Matematika Untan asal Kabupaten Landak, melihat keberagaman dialek daerah sebagai magnet budaya. Ia menceritakan pengalamannya saat berbaur dengan sesama Duta Bahasa dari berbagai kabupaten di Kalbar.

"Kalbar ini sangat kaya. Kita punya sembilan bahasa utama dengan ratusan dialek yang berbeda-beda. Jangankan beda kabupaten, di Kabupaten Kapuas Hulu saja, beda kampung bisa beda kosakata dan dialeknya. Keunikan inilah yang harusnya kita banggakan dan promosikan ke dunia luar," kata Aldo menjelaskan.

Dalam bincang sore tersebut, kedua srikandi dan ksatria bahasa ini mencontohkan kebanggaan mereka dengan memperkenalkan diri secara lugas menggunakan bahasa daerah masing-masing, Tari dengan dialek Melayu Ketapang, dan Aldo menggunakan bahasa Dayak Kanayatn (Dialek Ahe).

Di akhir perbincangan, keduanya mengajak seluruh pendengar RRI Pro 2 Pontianak untuk mengamalkan prinsip Trigatra Bangun Bahasa dalam kehidupan sehari-hari, agar tidak kehilangan arah di tengah arus globalisasi.

"Utamakan Bahasa Indonesia sebagai perekat persatuan, Lestarikan Bahasa Daerah sebagai akar identitas kebudayaan kita, dan Kuasai Bahasa Asing agar mampu bersaing secara global. Banggalah menjadi orang Indonesia," ucap Aldo.

Baca juga: Cegah Stagnan, Siswa SMAN 5 Pontianak Ajak Gen Z Aktif Berorganisasi

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....