Perempuan dan UMKM: Mengubah Tantangan Menjadi Peluang

  • 22 Sep 2026 07:15 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Perempuan memiliki peran penting dalam memperkuat kemandirian ekonomi keluarga melalui usaha berbasis rumah tangga. Hal tersebut disampaikan anggota Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), Nurhayani, S.Pd., dalam dialog Pengarusutamaan Gender dan Inklusi di RRI Pro 1 Pontianak, Senin, 21 September 2026, bertema “Perempuan dan Kemandirian Pangan, Mengubah Tantangan Jadi Peluang”.

Nurhayani mengatakan, semakin banyak perempuan dan ibu rumah tangga yang mulai memanfaatkan keterampilan di rumah untuk menghasilkan produk dan pendapatan tambahan. Menurutnya, perempuan memiliki peluang besar untuk mengembangkan usaha, termasuk dengan memanfaatkan pemasaran digital.

“Sekarang sudah banyak perempuan atau ibu-ibu rumah tangga yang berusaha di rumah. Mereka juga sudah membuat produk-produk dan ikut berjualan, apalagi sekarang sudah bisa jualan lewat online,” ujar Nurhayani.

Nurhayani sendiri mengembangkan usaha kuliner berupa amplang yang diberi nama Amplang Mitra Sehati. Usaha tersebut bermula dari upayanya memberdayakan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalnya di Perumnas 4, Jalan Sambas Barat 5, Blok 15. Awalnya, ia membentuk kelompok ibu-ibu pengajian beranggotakan sekitar 20 orang. Kelompok tersebut kemudian memperoleh bantuan modal dan peralatan untuk memulai usaha.

“Waktu itu kami pengajian ada kelompok 20 orang. Kami difasilitasi dengan alat-alat dan uang untuk membeli bahan. Dari situ kami belajar,” jelasnya.

Seiring waktu, tidak semua anggota kelompok mampu melanjutkan usaha. Sebagian kemudian berhenti karena berbagai kendala, mulai dari kurangnya semangat hingga minimnya dukungan dan pengetahuan. Sementara itu, anggota yang tetap bertahan kemudian menjadi bagian dari usaha Nurhayani. Kini, usaha amplang tersebut menjadi salah satu sumber pendapatan utama keluarganya. Nurhayani mengungkapkan, usaha yang dirintis sejak 2009 itu juga telah membantunya membiayai pendidikan hingga menyelesaikan pendidikan sarjana.

“Saya usaha dari tahun 2009. Dari hasil usaha amplang ini saya bisa kuliah dan menjadi sarjana S1,” katanya.

Selain mengembangkan usaha kuliner, Nurhayani juga memiliki lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya. Ia menilai usaha kuliner berbasis rumah tangga menjadi salah satu pilihan bagi perempuan karena dapat dijalankan sembari menjalankan tanggung jawab keluarga.

“Karena kita di rumah berusaha sambil kita juga bisa mengurus keluarga, mengurus anak. Sesudah bangun pagi dan anak pergi sekolah, kita bisa berpikir apa yang bisa kita buat,” tuturnya.

Keputusan Nurhayani memilih amplang sebagai produk usaha tidak terlepas dari pengalamannya ketika berada di Jakarta. Saat mengunjungi sebuah bazar yang menampilkan produk dari berbagai daerah Indonesia, ia melihat stan Kalimantan Barat dipadati pengunjung yang membeli amplang. Dari pengalaman tersebut, muncul gagasan untuk mengembangkan produk amplang ketika kembali ke Kalimantan Barat.

“Saya lihat Stand Kalbar. Di situ ada artis-artis terkenal. Mereka mengerumuni amplang, berebut membeli amplang. Dari situ saya berpikir bagaimana caranya membuat ini,” ungkapnya.

Ia kemudian mencoba membawa produknya ke Jakarta. Menurut Nurhayani, respons pasar cukup positif. Dalam salah satu kesempatan, sebanyak 2.000 bungkus amplang yang dibawanya disebut habis terjual dalam dua hari. Di tengah tantangan kenaikan harga bahan baku, Nurhayani menilai pelaku UMKM perlu mampu beradaptasi. Ia mencontohkan harga tepung tapioka dan minyak goreng yang dapat berubah sehingga pelaku usaha harus cermat mengatur pembelian dan biaya produksi. Menurutnya, selain modal finansial, semangat menjadi faktor penting dalam mempertahankan usaha.

“Yang susah itu semangat. Kalau kita mau usaha, kita harus mau dulu, rugi dulu. Tapi di samping kita semangat, insyaallah tidak akan selamanya rugi,” katanya.

Ia juga mengingatkan pelaku usaha agar menjaga kejujuran dalam menentukan bahan baku dan informasi produk. Baginya, kualitas produk menjadi modal penting untuk mempertahankan kepercayaan konsumen.

“Kita tidak bisa berbohong. Kalau memang ikan tenggiri, kita buat ikan tenggiri. Kalau memang saya buat dari ikan tongkol, saya tulis dari tongkol. Jadi kita harus jujur,” tegasnya.

Untuk menghadapi persaingan, Nurhayani menerapkan inovasi dengan menghadirkan berbagai varian rasa amplang. Selain rasa original, ia pernah mengembangkan amplang pedas dan berbagai varian lain sesuai permintaan konsumen. Nurhayani juga menilai teknologi digital memiliki peran penting dalam memperluas pemasaran produk UMKM. Pemanfaatan pembayaran digital, media sosial, serta jaringan komunitas menjadi bagian dari strategi pemasaran yang dilakukannya.

“Pemanfaatan teknologi ini sangat mendukung untuk penjualan. Kita juga banyak promosi lewat Facebook dan TikTok,” ujarnya.

Meski mengaku belum terlalu menguasai teknologi digital, Nurhayani terbantu oleh rekan-rekan yang lebih muda dalam membuat konten dan melakukan pemasaran secara daring. Jaringan komunitas juga menjadi salah satu kekuatan dalam pengembangan usahanya. Melalui berbagai organisasi perempuan dan komunitas UMKM, ia memperoleh informasi, masukan, sekaligus memperluas jaringan pelanggan.

“Kalau kita banyak kawan, banyak rezeki. Mereka memberikan ide, memberikan informasi. Itulah gunanya ikut komunitas dan kelompok-kelompok UMKM,” katanya.

Produk amplang yang dikembangkannya bahkan telah dibawa hingga ke Jepang. Menurut Nurhayani, produk tersebut dibawa oleh kenalannya yang memiliki keluarga di Jepang dan kemudian mendapat permintaan kembali karena disukai konsumen. Nurhayani juga berkomitmen untuk terus melibatkan masyarakat sekitar dalam kegiatan produksinya. Saat ini, terdapat sekitar lima karyawan tetap yang bekerja dalam usahanya. Ketika mendapat pesanan dalam jumlah besar, ia dapat melibatkan lebih banyak warga sekitar. Ia juga membuka peluang bagi kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, untuk terlibat dalam kegiatan usaha apabila memiliki kemampuan yang sesuai.

“Kalau mereka mampu, apa salahnya. Misalnya mereka bisa mengerjakan kemasan,” ujarnya.

Menurutnya, pemberdayaan masyarakat dapat berjalan seiring dengan pengembangan usaha. Ia berharap ke depan produk amplang dari Kalimantan Barat dapat memiliki kemasan yang lebih praktis dan menjadi salah satu pilihan oleh-oleh khas daerah. Nurhayani menilai dukungan pemerintah terhadap UMKM saat ini cukup terbuka, termasuk melalui pembinaan, legalitas usaha, sertifikasi halal, hingga berbagai program pemberdayaan. Ia mengingatkan pelaku usaha agar tidak hanya berorientasi pada bantuan modal, tetapi juga memiliki komitmen untuk menjalankan usaha secara berkelanjutan.

“Kalau kita usaha ini, jangan hanya mencari bantuan. Usaha itu harus dijalankan dengan ikhlas, dengan tulus, dan benar-benar serius untuk menopang hidup dan keluarga kita,” katanya.

Menutup dialog, Nurhayani mengajak para perempuan dan pelaku UMKM rumahan untuk tetap bersemangat menghadapi berbagai tantangan, termasuk kondisi kabut asap yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.

“Yang penting kita semangat, jujur, dan tetap minta doa kepada Allah. Semoga setiap hasil tetes keringat kita akan membuahkan hasil,” pungkasnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....