Perempuan Bisa Jadi Penggerak Utama Pelestarian Lingkungan dari Rumah
- 04 Agt 2026 10:50 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga kelestarian lingkungan, dimulai dari langkah-langkah sederhana di rumah. Melalui edukasi dan pendampingan yang dilakukan Pusat Pengembangan Sumber Daya Wanita (PPSW) Borneo, kaum perempuan didorong menjadi agen perubahan dalam pengelolaan sampah, pengurangan penggunaan plastik, hingga membangun kesadaran menjaga lingkungan di tengah masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Database Officer PPSW Borneo, I Wayan Bayu Anggara, dalam program Pengarusutamaan Gender dan Inklusi Pro 1 RRI Pontianak, Senin, 3 Agustus 2026. Menurutnya, perempuan, khususnya ibu rumah tangga, memiliki posisi penting karena menjadi pihak yang paling dekat dengan aktivitas rumah tangga yang setiap hari menghasilkan sampah.
"Yang pertama tentunya kita bangun dulu kesadaran ibu-ibunya. Setelah mereka memahami kondisi lingkungan saat ini, barulah kita ajak melakukan aksi-aksi kecil seperti membawa tas belanja sendiri, memilah sampah organik dan anorganik, hingga memanfaatkan bank sampah yang ada di sekitar," ujar Wayan.
Ia menjelaskan, PPSW Borneo memiliki sejumlah program pemberdayaan perempuan yang mencakup literasi keuangan, hukum, hingga lingkungan. Dalam pelaksanaannya, organisasi tersebut membentuk kelas belajar di tingkat kelurahan melalui relawan perempuan yang telah mendapatkan pelatihan sebagai fasilitator. Setiap relawan kemudian mendampingi sekitar 15 peserta di lingkungan tempat tinggalnya untuk mengikuti berbagai materi pemberdayaan.
Menurut Wayan, pendekatan langsung kepada masyarakat menjadi kunci keberhasilan program. Sebelum kegiatan dimulai, relawan terlebih dahulu melakukan pendekatan kepada warga untuk mengetahui waktu yang tepat sehingga para ibu tetap dapat mengikuti pelatihan tanpa mengganggu aktivitas rumah tangga maupun pekerjaan mereka.
"Perempuan di Kalimantan Barat sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar. Selama kami melakukan pendampingan, mereka sangat antusias mengikuti pelatihan, mengerjakan tugas, bahkan aktif berdiskusi. Artinya, ketika diberikan ruang dan kesempatan, mereka mampu menjadi penggerak di lingkungannya," katanya.
Selain membangun kesadaran, PPSW Borneo juga melakukan monitoring setelah pelatihan selesai. Pendampingan dilakukan untuk melihat sejauh mana perubahan perilaku peserta dalam menerapkan kebiasaan ramah lingkungan di rumah.
Wayan mengakui, mengubah kebiasaan masyarakat bukan perkara mudah. Masih banyak ibu rumah tangga yang merasa penggunaan plastik sulit dihindari karena dianggap lebih praktis. Namun menurutnya, perubahan tidak harus dilakukan secara drastis, melainkan dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
"Kalau kita sudah sadar dan terbiasa, hal-hal seperti membawa tas belanja sendiri atau kotak makan tidak lagi terasa merepotkan. Perubahan memang dimulai dari langkah kecil yang dilakukan terus-menerus," ucapnya.
Di tengah meningkatnya persoalan lingkungan seperti sampah plastik hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla), PPSW Borneo juga terus menyesuaikan materi edukasi sesuai kondisi yang terjadi. Edukasi mengenai pentingnya menjaga hutan, dampak kabut asap, serta pengelolaan sampah rumah tangga menjadi bagian dari materi yang diberikan kepada masyarakat.
Menurut Wayan, pelestarian lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat. Perempuan dinilai memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan keluarga yang lebih peduli terhadap lingkungan.
"Sebagai perempuan, kita bisa menjadi penggerak untuk menjaga lingkungan sekitar. Langkah-langkah kecil dari rumah jika dilakukan secara bersama-sama akan menjadi gerakan besar yang mampu membawa perubahan bagi lingkungan yang lebih bersih dan sehat," katanya, mengakhiri.
Baca juga: Kritik Eksploitasi Hutan, Perupa Kalbar Puji Rahayu Bawa Karya Instalasi ke Kalsel
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....