Cegah Kepunahan, Vivi Alhinduan Dokumentasikan 25 Resep Langka

  • 31 Jul 2026 07:22 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Banyak jenis kuliner tradisional Melayu khas Pontianak, khususnya hidangan tempo dulu yang biasa disajikan di lingkungan Istana Kesultanan Kadriah, mulai langka dan terancam punah. Minimnya dokumentasi serta proses pembuatan yang terbilang rumit menjadi tantangan utama dalam menjaga keberlanjutan warisan resep pusaka tersebut.

Keresahan ini menjadi bahasan utama dalam siaran interaktif Ngander bertema "Kuliner Sebagai Identitas Daerah" yang disiarkan langsung dari Studio RRI Pro 4 Pontianak, pada Senin, 27 Juli 2026.

Penulis Kalimantan Barat sekaligus Bendahara Komunitas Perempuan Menulis Khatulistiwa (Kopermekha), Vivi Alhinduan, menceritakan pengalamannya saat meneliti resep-resep jadul di kawasan bersejarah Kelurahan Tambelan Sampit, Kecamatan Pontianak Timur.

Guna mencegah kepunahan, Vivi membukukan sebanyak 25 resep pilihan, terdiri dari 24 jenis hidangan dan kue tradisional serta satu minuman khas, hasil kolaborasi dan pendampingan bersama Jurusan Arsitektur Politeknik Negeri Pontianak (Polnep).

"Kuliner Melayu tempo dulu di Tambelan Sampit sangat erat dengan sejarah Istana Kadriah. Terdapat perpaduan atau asimilasi budaya Melayu, Arab, hingga Belanda. Sajian seperti singkep-singkep, batang buruk, kroket kepal, hingga air serbat dahulu menjadi sajian khas raja-raja yang kini makin langka," ujar Vivi saat berdialog di RRI Pro 4 Pontianak.

Vivi mengungkapkan bahwa faktor utama sulitnya masyarakat menemukan kuliner otentik ini di pasaran adalah ketiadaan produksi harian oleh para pembuatnya. Rata-rata pembuat kue tradisional yang bertahan merupakan kalangan ibu-ibu lansia di kawasan pemukiman tua seperti Kampung Tambelan, Kampung Luar, dan Kampung Sampit.

Tinggi dan rumitnya modal bahan baku membuat para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tersebut hanya memproduksi berdasarkan pesanan (pre-order).

"Ibu-ibu UMKM di sana tidak berani memproduksi harian karena takut rugi jika tidak laku. Padahal peminatnya banyak. Di sinilah peran penting pemerintah daerah untuk hadir memborong atau memfasilitasi pemasaran harian agar kuliner otentik ini tidak hilang ditelan zaman," katanya menegaskan.

Selain upaya pembukuan resep, Vivi mengimbau masyarakat dan generasi muda untuk aktif memanfaatkan media sosial guna memperkenalkan keberagaman kuliner daerah. Menurutnya, publikasi sederhana seperti membagikan foto dan cerita latar belakang hidangan lokal di media sosial sudah merupakan bentuk nyata merawat identitas serta melestarikan warisan budaya daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....