Perempuan Mandiri Dimulai dari Kebiasaan Menabung, Ini Tipsnya

  • 08 Sep 2026 07:38 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Kemandirian ekonomi perempuan dapat dimulai dari langkah sederhana, salah satunya membangun kebiasaan menabung secara disiplin. Besarnya penghasilan bukan satu-satunya penentu keberhasilan dalam menabung, melainkan kemauan untuk menyisihkan sebagian pendapatan dan mengatur pengeluaran secara bijak.

Hal tersebut disampaikan Enny Admida, Volunteer PPSW Borneo, dalam dialog Pengarusutamaan Gender dan Inklusi, di RRI Pro 1 Pontianak, Senin, 7 September 2026, dengan tema “Menabung Hari ini, Perempuan Lebih Mandiri Esok Hari”. Enny membagikan pengalaman panjangnya dalam membangun kebiasaan menabung sejak duduk di bangku sekolah hingga berkeluarga. Menurut Enny, kebiasaan menabung sebaiknya tidak menunggu adanya uang sisa. Sebab, jika menabung hanya dilakukan ketika ada kelebihan uang, kebutuhan dan keinginan yang datang silih berganti justru dapat membuat seluruh pendapatan habis.

“Makanya orang selalu bilang nabung nunggu sisa. Kalau ada sisa, kalau tak ada habislah,” ujar Enny.

Ia menekankan, perubahan pola pikir menjadi kunci utama untuk membangun kebiasaan finansial yang sehat. Menabung harus menjadi bagian dari prioritas, meskipun nominal yang disisihkan masih kecil. Enny juga membagikan pola pengelolaan keuangan yang selama ini diterapkannya. Dari total pendapatan, 10 persen dialokasikan untuk tabungan, 20 persen untuk kebutuhan darurat, 30 persen untuk membayar utang atau cicilan, dan 40 persen untuk kebutuhan sehari-hari. Menurutnya, pembagian tersebut dapat menjadi panduan awal bagi masyarakat yang merasa kesulitan menyisihkan uang.

“10 persen utamakan nabung. 20 persen sisikan untuk darurat. Kemudian 30 persen itu untuk hutang atau cicilan. Sisa 40 persennya nanti untuk kebutuhan,” jelasnya.

Ia mengakui, menjalankan pola tersebut membutuhkan disiplin. Sebab, tanpa kedisiplinan, uang yang sudah disisihkan untuk tabungan berpotensi kembali digunakan untuk kebutuhan lain.

“Kalau tak disiplin, habislah. Apalagi kalau sudah belang-belang kambing, hari ini nabung, besok diambil,” ujarnya.

Enny menilai masyarakat, khususnya perempuan, tidak perlu menunggu memiliki penghasilan besar untuk mulai menabung. Bahkan nominal kecil sekalipun dapat menjadi awal untuk membangun kebiasaan tersebut.

“Siapkan hati, kuatkan niat. Ubah mimpi menjadi cita-cita. Kuatkan itu. Saya harus konsisten. Biarpun seribu, dua ribu lakukan,” ungkapnya.

Menurut dia, menabung dapat dilakukan secara fleksibel sesuai kemampuan. Jika belum mampu menyisihkan uang setiap hari, masyarakat tetap dapat melakukannya secara berkala, dengan catatan harus konsisten.

“Tidak peduli kecil, yang penting lakukan. Gak mampu harian, selang-seling boleh. Yang penting ada yang disimpan. Minimal sebulan sekali,” tambahnya.

Selain menabung, Enny mengingatkan pentingnya mencatat pemasukan dan pengeluaran. Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang mengetahui ke mana uangnya digunakan.

“Kalau dapat duit, catat, catat, catat. Banyak biasa orang ini dapat duit tak dicatat. Sampai lupa. Setelah habis baru sadar ke mana duit,” tuturnya.

Ia menilai pencatatan keuangan tidak harus menggunakan metode yang rumit. Catatan pribadi sederhana sudah cukup untuk membantu mengontrol arus keuangan. Kebiasaan mengelola keuangan, lanjut Enny, juga penting dikenalkan kepada anak sejak usia dini. Ia mengaku telah mengajarkan anak-anaknya untuk menabung sekaligus bertanggung jawab terhadap kebutuhan pribadi. Menurutnya, anak yang sudah bekerja perlu mulai diberikan tanggung jawab terhadap sejumlah kebutuhan rumah tangga. Dengan demikian, mereka tidak hanya mengetahui cara memperoleh uang, tetapi juga belajar mengelolanya.

“Jangan terlalu memanjakan anak. Bukan kita benci anak kita. Tapi diajarkan untuk punya rasa tanggung jawab selagi dia masih ada di rumah kita,” katanya.

Ia mencontohkan, anak dapat diberikan tanggung jawab membayar kebutuhan tertentu seperti tagihan air, listrik atau kebutuhan lainnya sesuai kemampuan.

Enny berharap semakin banyak perempuan menyadari pentingnya memiliki kemampuan mengelola keuangan sendiri. Kemandirian ekonomi, menurutnya, dapat memberikan rasa aman sekaligus membantu perempuan menghadapi berbagai kebutuhan kehidupan. Ia sendiri telah menerapkan kebiasaan menabung sejak masih sekolah. Saat bekerja sebagai guru honorer, sebagian penghasilannya digunakan untuk membeli emas dan mengumpulkan dana hingga akhirnya dapat membantu mewujudkan kepemilikan rumah. Pengalaman tersebut menjadi alasan Enny terus mendorong masyarakat agar tidak takut memulai menabung dari nominal kecil.

“Kalau saya belum melakukan, mana bisa saya mengajar orang,” ujarnya.

Bagi Enny, menabung bukan sekadar mengumpulkan uang, tetapi membangun kebiasaan disiplin, merencanakan masa depan, dan mempersiapkan diri agar tidak selalu bergantung kepada orang lain. Dengan demikian, kemandirian ekonomi perempuan dapat dimulai dari langkah sederhana: menata pola pikir, mencatat pengeluaran, menyisihkan pendapatan, dan konsisten menabung sesuai kemampuan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....