Budaya Membaca dan Menulis Kunci Kejayaan Peradaban

  • 30 Jul 2026 11:06 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Budaya membaca dan menulis merupakan fondasi utama lahirnya ilmu pengetahuan sekaligus kunci kebangkitan peradaban Islam. Pesan tersebut disampaikan Dosen IAIN Pontianak, Dr. Zulkifli, M.A., dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Pontianak, Rabu, 29 Juli 2026, yang mengangkat tema Sejarah Islam dan Budaya Menulis.

Dalam dialog tersebut, Ustadz Zulkifli menjelaskan bahwa perintah pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui Surah Al-Alaq ayat 1–5 bukanlah tentang ibadah mahdhah, melainkan perintah untuk membaca. Menurutnya, makna membaca dalam ayat tersebut tidak hanya sebatas teks tertulis, tetapi juga mencakup membaca fenomena alam melalui riset dan pengkajian.

"Kalau kita ingin umat Islam hari ini maju lagi dalam berbagai aspek kehidupan, maka kuncinya ada dua, yaitu membaca dan menulis. Membaca melahirkan ilmu, sedangkan menulis akan melahirkan peradaban," ujar Ustadz Zulkifli.

Ia menuturkan, kejayaan peradaban Islam pada masa Dinasti Abbasiyah dibangun melalui tradisi penelitian, penerjemahan, dan penulisan berbagai karya ilmiah. Berbagai disiplin ilmu seperti kedokteran, astronomi, farmasi, hingga matematika berkembang pesat karena para ulama dan ilmuwan saat itu menjadikan membaca serta menulis sebagai bagian dari budaya intelektual.

Menurutnya, hasil pemikiran yang tidak dituangkan dalam bentuk tulisan akan mudah hilang. Sebaliknya, karya tulis mampu menjadi warisan yang terus memberikan manfaat lintas generasi.

"Dengan menulis kita menciptakan sejarah. Dengan menulis kita membangun sebuah peradaban. Apa yang kita lakukan hari ini akan dibaca oleh anak cucu kita di masa yang akan datang," katanya.

Ustadz Zulkifli juga menyoroti semakin menurunnya minat membaca dan menulis di kalangan generasi muda, terutama akibat perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI). Ia mengingatkan agar teknologi tidak membuat masyarakat kehilangan kemampuan berpikir kritis dan menuangkan gagasan secara mandiri.

"AI boleh dimanfaatkan sebagai alat bantu, tetapi jangan sampai menggantikan kemampuan kita untuk berpikir dan menulis. Yang harus dibangun adalah kebiasaan menulis, bukan sekadar menghasilkan tulisan," tegasnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengajak pemerintah daerah dan lembaga pendidikan untuk kembali menghidupkan pembelajaran aksara Arab Melayu sebagai bagian dari pelestarian khazanah literasi Islam Nusantara. Menurutnya, banyak karya ulama terdahulu yang menggunakan aksara tersebut sehingga penting untuk dipelajari oleh generasi saat ini.

Selain itu, ia mendorong guru, dosen, hingga orang tua untuk membiasakan anak-anak menulis sejak usia dini. Menurutnya, kebiasaan tersebut lebih penting daripada mengejar kesempurnaan tata bahasa di tahap awal.

"Biarkan anak-anak menulis apa saja. Jangan takut salah. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan menulis terlebih dahulu. Nanti kemampuan berbahasa akan berkembang seiring waktu," ujarnya.

Menutup dialog, Zulkifli mengajak masyarakat menjadikan membaca dan menulis sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Ia meyakini kebangkitan peradaban hanya dapat diwujudkan apabila masyarakat kembali menempatkan literasi sebagai prioritas.

"Mari kita laksanakan perintah pertama yang Allah turunkan, yaitu membaca dan menulis. Jika ingin meninggalkan jejak sejarah, maka tulislah. Karena sejarah hanya dapat diwariskan melalui karya-karya yang ditulis," pungkasnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....