Peringatan Dini Bencana Bukan Sekadar Informasi, Harus Ada Aksi
- 13 Agt 2026 10:21 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Masyarakat Kalimantan Barat diingatkan untuk tidak mengabaikan informasi peringatan dini bencana. Peringatan dini bukan sekadar informasi mengenai potensi bahaya, tetapi menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mempersiapkan diri dan mengambil langkah penyelamatan sebelum bencana terjadi. Hal tersebut terangkai dalam dialog bersama Koordinator Harian Pusdalops BPBD Provinsi Kalimantan Barat, Daniel, dan PMG Ahli Madya BMKG Stasiun Meteorologi Pontianak, Sutikno, pada Dialog "Kentongan" RRI Pro 1 Pontianak, Selasa, 11 Agustus 2026.
Dalam kesempatan itu, Daniel, mengatakan peringatan dini merupakan informasi awal yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan. “Peringatan dini itu adalah sebuah informasi awal yang artinya memberikan satu kesempatan kepada kita untuk selamat. Sehingga kita melakukan kesiapsiagaan, karena bagi kita kesiapsiagaan itu adalah kunci mengurangi dampak bencana,” ujar Daniel.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa peringatan dini harus diikuti dengan tindakan nyata. Informasi yang diterima dari lembaga resmi, seperti BMKG, menjadi pedoman bagi BPBD untuk menyiapkan sumber daya, peralatan, hingga koordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat. Daniel menjelaskan, BPBD menerima informasi peringatan dini melalui kanal resmi BMKG maupun surat yang disampaikan kepada pemerintah daerah. Informasi tersebut kemudian dikoordinasikan dengan BPBD kabupaten dan kota untuk diteruskan kepada masyarakat.
“Yang disampaikan oleh BMKG ini tidak berhenti sebatas kami menerima informasi, tapi harus kami tindaklanjuti dengan menyampaikan informasi itu kepada masyarakat,” katanya.
Tantangan penyebarluasan informasi masih ditemui, khususnya di wilayah yang memiliki keterbatasan jaringan komunikasi. Untuk mengatasinya, BPBD memanfaatkan keberadaan Desa Tangguh Bencana dan kelompok masyarakat yang telah dibentuk di sejumlah wilayah. Kelompok tersebut memiliki peran dalam meneruskan informasi peringatan dini hingga ke tingkat masyarakat. Penyampaian informasi dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk melalui kepala desa, kelompok masyarakat, maupun Desa Tangguh Bencana.
Daniel menegaskan, setelah peringatan dini diterima, masyarakat harus segera melakukan langkah mitigasi sesuai potensi ancaman di wilayahnya. Masyarakat juga diharapkan telah mengetahui lokasi aman dan jalur evakuasi apabila sewaktu-waktu terjadi bencana.
“Peringatan dini itu tidak hanya kita terima, tapi harus ada aksi yang dilakukan,” katanya, menegaskan.
Sementara itu, Sutikno, menjelaskan BMKG secara rutin memantau kondisi cuaca dan atmosfer serta menyampaikan berbagai informasi peringatan dini kepada masyarakat. Beberapa informasi yang dipantau antara lain potensi kebakaran hutan dan lahan, hujan lebat, petir, angin kencang, gelombang tinggi, hingga potensi banjir rob.
Untuk memperkirakan kondisi cuaca dalam jangka waktu lebih panjang, BMKG menggunakan pemodelan numerik atau Numerical Weather Prediction (NWP). Sedangkan untuk peringatan dini dengan jangka waktu lebih dekat, BMKG memanfaatkan radar dan satelit cuaca.
“Dengan adanya radar cuaca itu bisa terlihat awan-awan penghujan yang ada di sekitar wilayah Kalbar, sehingga kami bisa dengan cepat memetakan wilayah yang berpotensi terjadinya cuaca ekstrem berupa hujan lebat ataupun angin kencang,” ucap Sutikno.
Sutikno juga mengingatkan masyarakat agar memastikan kebenaran informasi sebelum menyebarluaskannya. Menurutnya, informasi peringatan dini yang hanya diambil sebagian dapat menimbulkan keresahan jika konteksnya tidak disampaikan secara utuh.
“Harus dipastikan dulu informasinya itu memang benar atau tidak, benar-benar dari BMKG atau tidak,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat dapat memanfaatkan kanal resmi BMKG untuk memperoleh informasi terbaru. Selain itu, BMKG juga memanfaatkan berbagai sarana komunikasi dan media untuk mempercepat penyebaran informasi peringatan dini.
Dalam menghadapi potensi bencana, masyarakat juga diminta menyesuaikan langkah mitigasi dengan kondisi masing-masing. Saat kualitas udara memburuk akibat asap kebakaran hutan dan lahan, misalnya, masyarakat dapat menggunakan masker dan memperbanyak konsumsi air putih.
Menurut Sutikno, keterbatasan sumber daya membuat kolaborasi antarlembaga menjadi bagian penting dalam penyebaran peringatan dini. BPBD, pemerintah daerah, kepolisian, TNI, media, hingga RRI memiliki peran dalam memastikan informasi dapat menjangkau masyarakat, termasuk wilayah yang sulit mengakses internet. Ia menilai radio tetap memiliki peran penting karena dapat menjangkau masyarakat yang memiliki keterbatasan akses internet.
Sedangkan Daniel pun menyampaikan pesan kepada masyarakat Kalimantan Barat agar menjadikan kesiapsiagaan sebagai bagian dari perlindungan diri. “Kesiapan hari ini adalah perlindungan untuk masa depan dan informasi yang tepat, tindakan yang tepat waktu menyelamatkan jiwa kita,” katanya.
Dengan demikian, sistem peringatan dini bencana merupakan rangkaian yang melibatkan pemantauan, analisis, penyampaian informasi, koordinasi antarlembaga, hingga respons masyarakat. Informasi peringatan dini seharusnya tidak hanya dibaca atau didengar, tetapi menjadi dasar untuk mengambil tindakan secara cepat, tepat, dan terukur.
Baca juga: Tim Gabungan Padamkan Karhutla Enam Hektare di Kubu Raya
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....