Pendidikan Buka Jalan Perempuan Kalbar Lebih Berdaya dan Mandiri
- 11 Agt 2026 17:36 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Pendidikan dinilai menjadi salah satu jalan penting bagi perempuan untuk mengembangkan potensi, memperluas wawasan, dan meningkatkan keberdayaan dalam kehidupan. Perempuan yang memiliki akses pendidikan tidak hanya berpeluang membangun masa depan dirinya, tetapi juga dapat memberikan manfaat lebih luas bagi keluarga dan lingkungan.
Hal tersebut disampaikan Nadia Rahmattika, S.Ag., awardee LPDP Pendidikan Kader Ulama Perempuan 9.0, yang tengah mempersiapkan studi lanjutan di Jakarta, pada dialog “NGOBRAS” Ngobrong Bareng Komunitas, Senin, 10 Agustus 2026. Menurut Nadia, makna kemerdekaan bagi perempuan dalam konteks pendidikan bukanlah untuk berada di atas laki-laki, melainkan memiliki kesempatan untuk berkembang dan menjadi mitra yang setara.
“Dengan adanya pendidikan harapannya bukan perempuan itu ingin berada di atas laki-laki, tapi ingin menjadi partner yang bisa berada di medan apa pun,” ujar Nadia.
Nadia menjelaskan, perempuan memiliki pilihan dan jalan hidup yang beragam. Ada yang memilih melanjutkan pendidikan hingga jenjang tinggi, ada yang fokus pada keluarga, maupun menjalankan peran lain.
Menurutnya, setiap pilihan tetap dapat menjadi bentuk kemerdekaan selama dijalankan dengan kesadaran dan tanggung jawab. Ia memaknai kemerdekaan dalam pendidikan sebagai kesempatan untuk terus berkembang serta berdiri di atas bidang yang dicintai. Dengan pendidikan, seseorang dapat berdaya sekaligus membagikan pengetahuan dan pengalaman kepada orang lain.
“Kemerdekaan dalam pendidikan itu bagaimana kita bisa terus berkembang, kemudian kita berdiri atas apa yang kita cintai,” katanya.
Nadia menilai pendidikan seharusnya tidak semata-mata dipandang sebagai jalan untuk memperoleh pekerjaan. Lebih dari itu, pendidikan dapat membantu seseorang menemukan potensi dan memperluas ruang kebermanfaatan.
Ia mencontohkan perjalanan dirinya yang awalnya tidak membayangkan akan menekuni bidang kajian Al-Qur'an dan tafsir. Ketertarikannya justru berkembang setelah menjalani proses pendidikan dan menemukan keresahan akademik yang kemudian membawanya mendalami kajian gender.
Nadia kini mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui program Pendidikan Kader Ulama Perempuan. Program tersebut menurutnya tidak hanya mempelajari tafsir secara umum, tetapi juga kajian tafsir gender.
“Cakupannya bukan hanya terfokus untuk perempuan, tapi juga laki-laki yang memang punya minat di dalam kajian gender,” katanya.
Menurut Nadia, kajian gender masih memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan. Ia berharap ilmu yang diperolehnya nantinya dapat digunakan untuk menghasilkan penelitian, tulisan, maupun berbagai bentuk kontribusi lain kepada masyarakat.
Nadia juga menyoroti masih adanya pandangan di masyarakat yang menganggap perempuan tidak perlu menempuh pendidikan terlalu tinggi karena pada akhirnya akan kembali ke ranah domestik. Menurutnya, pandangan tersebut perlu dihadapi melalui edukasi. Pendidikan tinggi tidak seharusnya diposisikan sebagai bentuk persaingan antara perempuan dan laki-laki, melainkan sebagai sarana agar perempuan memiliki kemampuan dan daya untuk menghadapi berbagai situasi kehidupan.
“Perempuan itu bukan hanya harus bergerak di bidang domestik. Kita harus banyak ketemu sama orang dan melihat potensi yang lebih luas,” ucapnya.
Ia menilai perempuan juga perlu memiliki kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi dengan kondisi kehidupan yang terus berubah. Namun, hal tersebut bukan berarti perempuan harus meninggalkan peran domestiknya.
Menurut Nadia, yang terpenting adalah kemampuan untuk memahami dan menjalankan tanggung jawab masing-masing secara seimbang. Ia juga menegaskan bahwa pendidikan tidak semestinya menjadi alasan seseorang merasa lebih tinggi dibandingkan orang lain. Sebaliknya, pendidikan harus menjadi bekal untuk menciptakan kebermanfaatan.
Nadia sendiri mulai menemukan ruang kebermanfaatan melalui dunia literasi dan media digital. Ia pernah membuat konten mengenai bimbingan tugas akhir bagi mahasiswa melalui TikTok. Konten tersebut kemudian mendapatkan perhatian dan membawanya membimbing lebih dari 50 mahasiswa dalam penyelesaian tugas akhir maupun karya tulis ilmiah. Menurut Nadia, pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami bahwa dirinya memiliki ketertarikan dan potensi di bidang pendidikan serta literasi.
“Di situ aku melihat bahwa aku sudah tahu passionku di dunia pendidikan, di literasi, dan lain sebagainya,” katanya.
Ia menilai media digital juga dapat dimanfaatkan perempuan untuk menyampaikan gagasan, mengkampanyekan isu sosial, serta membangun kolaborasi. Karena itu, keterbatasan akses pendidikan formal tidak seharusnya membuat perempuan berhenti mengembangkan diri.
Peluang untuk belajar dapat datang dari berbagai sumber, termasuk teknologi digital, komunitas, pelatihan, maupun program beasiswa. Dalam perjalanan memperoleh beasiswa LPDP, Nadia mengaku tidak langsung berhasil.
Ia baru dinyatakan lolos setelah mengikuti seleksi sebanyak tiga kali. Kegagalan tersebut justru menjadi pengalaman untuk mengevaluasi strategi dan memperbaiki berbagai aspek yang diperlukan, mulai dari esai hingga persiapan wawancara.
Nadia juga menceritakan perjuangannya mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris. Ia harus mengikuti tes TOEFL hingga lima kali sebelum akhirnya memenuhi persyaratan yang dibutuhkan. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak selalu datang dalam satu kali percobaan.
“Kalau misalnya punya cita-cita jangan pernah ragu karena kita itu ada di kita masa depan. Ada beberapa persen kita di masa depan,” tuturnya.
Ia mengajak perempuan muda untuk tidak terlalu takut terhadap kegagalan. Menurutnya, setiap proses yang dijalani dapat menjadi bagian dari pembentukan masa depan.
Nadia menyadari bahwa tidak semua perempuan memiliki kesempatan pendidikan yang sama. Kondisi ekonomi, tanggung jawab keluarga, maupun keterbatasan geografis menjadi sejumlah faktor yang dapat membatasi akses pendidikan.
Namun, ia mengingatkan bahwa kesempatan tetap dapat dicari melalui berbagai jalur. Salah satunya melalui program beasiswa yang menyediakan jalur afirmasi bagi masyarakat dari wilayah tertentu, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Selain itu, perkembangan teknologi digital membuka peluang bagi perempuan untuk belajar, membangun jaringan, menyampaikan gagasan, hingga menciptakan proyek yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Sebagai anak muda jangan pernah takut untuk mencoba hal-hal baru. Apapun yang ada peluang di depan mata selagi itu positif,” kata Nadia.
Nadia berharap perempuan Indonesia ke depan semakin berani mengenali dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Menurutnya, setiap usaha yang dilakukan hari ini dapat menjadi investasi untuk masa depan, baik bagi diri sendiri maupun generasi berikutnya. Ia mengajak perempuan untuk terus berikhtiar, belajar, dan tidak merasa tidak layak untuk menjadi inspirasi bagi orang lain.
“Jangan pernah merasa bahwa kita itu tidak layak untuk menjadi orang yang terus menginspirasi,” katanya, mengakhiri.
Baca juga: Generasi Muda Diajak Berani Tahu dan Peduli terhadap HIV
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....