Generasi Muda Diajak Berani Tahu dan Peduli terhadap HIV

  • 10 Agt 2026 08:46 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Generasi muda diajak berani mencari informasi yang benar mengenai HIV sekaligus menghapus stigma negatif terhadap orang dengan HIV. Edukasi sejak dini dinilai penting agar anak dan remaja memiliki pemahaman yang tepat serta mampu menjaga diri dari berbagai risiko.

Dalam acara IDOLA (Indonesia Layak Anak), RRI Pro 1 Pontianak, Minggu, 9 Agustus 2026, Dosen Universitas PGRI Pontianak, Pitalis Mawardi, mengatakan kepedulian generasi muda terhadap isu HIV menunjukkan perkembangan positif. Menurutnya, keterlibatan anak muda dalam kegiatan edukasi dapat menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran yang lebih luas di masyarakat.

“Ada sisi awareness yang kuat dari anak-anak muda, terutama terkait dengan stigma negatif HIV dan kepedulian terhadap bagaimana anak muda memandang risiko HIV. Ini tentu kemajuan,” ujar Pitalis.

Ia menilai upaya edukasi HIV tidak dapat dilakukan hanya oleh satu pihak. Peran keluarga, sekolah, akademisi, masyarakat, tokoh agama, hingga media sosial diperlukan untuk menyampaikan informasi secara berkelanjutan.

Pitalis menambahkan, perkembangan teknologi dan media sosial membuat masyarakat semakin mudah memperoleh informasi. Namun, informasi yang diterima tidak selalu benar sehingga edukasi yang konsisten diperlukan untuk memberikan pemahaman yang tepat.

“Edukasi ini tidak bisa dilakukan sekali dua kali, harus terus-menerus sehingga mampu mencerahkan masyarakat. Kita harus ada gerakan bersama menyadarkan masyarakat dan semua komponen,” katanya.

Menurut Pitalis, pendidikan kesehatan dan edukasi mengenai kehidupan sosial juga perlu diberikan kepada anak dan remaja dengan cara yang sesuai dengan usia mereka. Ia menilai pendidikan mengenai kesehatan reproduksi atau seks edukasi penting agar generasi muda tidak mencari informasi dari sumber yang keliru.

“Saya pikir seks edukasi itu penting diajarkan dari bangku sekolah. Ke depan, supaya anak-anak tidak salah langkah,” jelasnya.

Selain edukasi mengenai HIV, Pitalis menekankan pentingnya keluarga sebagai tempat pertama bagi anak untuk memperoleh nilai dan batasan dalam kehidupan. Kebebasan kepada anak, menurutnya, tetap harus disertai dengan pendidikan mengenai etika, kejujuran, sopan santun, serta kemampuan menjaga diri.

“Kebebasan yang kita berikan bukan berarti kebebasan yang bablas. Ada hal-hal yang prinsip yang memang harus dikomunikasikan,” tuturnya.

Sementara itu, Felicia Putri Pabayo, Runner Up 1 Duta HIV Cilik Kalimantan Barat 2025, mengaku awalnya belum mengetahui banyak mengenai HIV. Pengetahuannya bertambah setelah mengikuti ajang tersebut dan menjalani proses belajar bersama pelatih serta mencari informasi dari berbagai sumber.

“At first time I don't even know what is HIV. Because of this competition, I now know what is HIV and I can educate my friends,” ujar Felicia.

Felicia mengatakan, keikutsertaannya sebagai Duta HIV Cilik didorong keinginan untuk mendapatkan pengalaman sekaligus memberikan pengaruh positif kepada teman-temannya. Ia juga mendapatkan dukungan dari orang tua dan lingkungan sekitar selama mengikuti proses tersebut.

Menurut Felicia, teman-temannya kerap menanyakan mengenai HIV dan AIDS setelah mengetahui dirinya menjadi duta. Ia berusaha menjelaskan menggunakan bahasa sederhana agar informasi yang disampaikan dapat dipahami dengan mudah.

“I use my simple words so they can understand me more,” katanya.

Felicia juga mengaku ingin terus berperan dalam memberikan edukasi kepada generasi muda. Meski memiliki ketertarikan di bidang seni, modeling, dan dunia hiburan, ia tetap ingin menjadi duta karena ingin memberikan informasi positif dan menginspirasi anak-anak muda lainnya.

“I want to inspire this young generation and educate them also. So I and them know how to prevent it,” ungkapnya.

Dalam menjalankan perannya, Felicia mengaku harus membagi waktu antara sekolah, les, latihan, dan berbagai kegiatan sebagai duta. Kesibukan tersebut menjadi tantangan tersendiri, namun pengalaman dan pencapaian yang diperoleh menjadi hal yang menyenangkan baginya.

Felicia juga tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti ajang duta pelajar pada tahun 2027. Salah satu kemampuan yang ingin terus diasah adalah public speaking. Ia meyakini latihan secara konsisten menjadi kunci untuk meningkatkan kepercayaan diri ketika tampil di depan publik.

“Practice makes perfect. Harus latihan. Kalau enggak latihan, it's hard,” ujarnya.

Pitalis pun mengingatkan generasi muda agar tidak mengesampingkan pendidikan dalam mengejar cita-cita. Menurutnya, kemampuan akademik bukan satu-satunya ukuran potensi seorang anak karena setiap anak memiliki minat dan kelebihan yang berbeda.

Ia mendorong orang tua dan pendidik untuk memberikan ruang kepada anak dalam mengembangkan passion dan bakatnya, sekaligus tetap memberikan arahan dan batasan yang diperlukan.

“Pendidikan itu adalah jalan kita untuk meraih kesuksesan. Gapailah impian Anda semua dengan meraih pendidikan setinggi-tingginya. Itu yang paling utama,” tegasnya.

Felicia juga menyampaikan pesan kepada teman-teman seusianya agar terus belajar dan tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita.

“Tetap semangat terus belajar. Don't easily give up and chase your dreams,” pungkas Felicia.

Edukasi mengenai HIV yang dilakukan sejak dini diharapkan dapat membangun generasi muda yang memiliki pengetahuan memadai, mampu menjaga diri, serta tidak mudah memberikan stigma kepada orang lain. Keberanian untuk mencari tahu dan kepedulian untuk berbagi informasi menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih terbuka dan edukatif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....