Nasionalisme dalam Islam: Cinta Tanah Air Jadi Wujud Ketakwaan

  • 08 Agt 2026 15:47 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Nasionalisme dalam perspektif Islam tidak hanya dimaknai sebagai rasa cinta terhadap tanah air, tetapi juga diwujudkan melalui upaya menjaga persatuan, kedamaian, kemanusiaan, serta kemajuan bangsa. Hal tersebut disampaikan Ustazah Patmawati, dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI, Jum’at, 7 Agustus 2026.

Patmawati menjelaskan, kehidupan beragama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Menurutnya, keberadaan negara menjadi salah satu media bagi masyarakat untuk mengimplementasikan nilai-nilai ketakwaan dalam kehidupan sosial.

“Nasionalisme sejati adalah nasionalisme yang bisa menjaga kestabilan negara, bisa menjaga marwah kemanusiaan, dan bisa menjaga persatuan Negara Republik Indonesia,” ujar Patmawati.

Ia menilai, keberagaman suku, agama dan budaya yang dimiliki Indonesia merupakan kekuatan yang harus dirawat bersama. Persatuan tersebut, lanjutnya, juga sejalan dengan nilai yang terkandung dalam Pancasila, khususnya prinsip persatuan Indonesia.

Patmawati menekankan pentingnya membangun manusia yang tidak hanya memiliki kesalehan secara spiritual, tetapi juga mampu menjalankan hubungan sosial dengan baik. Menurutnya, manusia ideal atau insan kamil adalah mereka yang mampu menyeimbangkan kebutuhan rohani dan material serta memiliki kepedulian terhadap sesama.

“Jadi negara membutuhkan manusia-manusia yang bisa berada pada tataran menyadari dirinya,” katanya.

Sedangkan memasuki momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Patmawati mengajak umat Islam memaknai kemerdekaan dengan memperkuat kecintaan terhadap bangsa. Menurutnya, kecintaan kepada negara dapat diwujudkan dengan tidak melakukan tindakan yang berpotensi merusak persatuan dan kehidupan bersama.

“Umat Islam yang baik otomatis adalah umat Islam yang mencintai negaranya. Kalau dia mencintai negaranya, otomatis dia tidak akan melakukan hal-hal yang membuat negaranya itu tercabik-cabik,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa kebaikan tidak semestinya hanya dirasakan oleh individu atau kelompok tertentu. Kebaikan yang sesungguhnya, kata dia, harus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Bukan sebuah kebaikan apabila hanya berlaku bagi dirinya, tetapi kebaikan itu baru disebut kebaikan apabila bisa dirasakan oleh semuanya. Inilah yang disebut kebaikan universal,” ungkap Patmawati.

Dalam perkembangan teknologi dan digitalisasi, Patmawati melihat teknologi seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan dan memperkuat hubungan antarmanusia. Teknologi, menurutnya, hanyalah alat sehingga penggunaannya harus diarahkan secara bijak.

“Jadi sebenarnya itu hanyalah alat, cuma jangan sampai ini disalahgunakan,” katanya.

Ia mengingatkan agar kemajuan teknologi tidak justru menjadi sarana untuk saling mencaci, memaki, atau menciptakan jarak antarmanusia. Menurutnya, komunikasi secara langsung tetap memiliki peran penting karena terdapat interaksi dan bahasa tubuh yang tidak sepenuhnya dapat digantikan komunikasi jarak jauh.

Patmawati juga menilai penanaman nilai nasionalisme kepada generasi muda perlu dilakukan sejak dini melalui keluarga, sekolah, masyarakat, hingga pemerintah.

Menanggapi keresahan mengenai mulai berkurangnya kepedulian sebagian masyarakat terhadap nasionalisme, Patmawati mengatakan kondisi tersebut menjadi tanggung jawab bersama. Ia melihat adanya perubahan dalam cara generasi muda memaknai simbol dan kegiatan kebangsaan.

“Jadi sifat nasionalisme itu seharusnya sudah ditanamkan sejak dini,” ujarnya.

Ia mencontohkan, dahulu lagu-lagu nasional, upacara, dan berbagai kegiatan dalam menyambut bulan kemerdekaan menjadi bagian yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Menurutnya, berbagai kebiasaan tersebut perlu kembali dihidupkan dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat.

“Bagaimana menumbuhkan kembali kesadaran bernasionalisme di negara kita ini,” katanya.

Patmawati menambahkan, upaya tersebut tidak dapat dilakukan secara individual. Keluarga, masyarakat, sekolah, dan pemerintah perlu bersama-sama menciptakan lingkungan yang dapat menumbuhkan kembali rasa cinta terhadap bangsa.

Menutup dialog, Patmawati mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah sesuatu yang diperoleh secara cuma-cuma. Kemerdekaan diperjuangkan oleh para pendahulu melalui kesadaran, perjuangan, bahkan pengorbanan jiwa.

Karena itu, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan dengan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

“Jangan sampai tercabik-cabik karena keegoisan masing-masing diri, keegoisan masing-masing komunitas, dan keegoisan masing-masing kelompok. Kita adalah satu kesatuan,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum kemerdekaan sebagai kesempatan untuk memperkuat persaudaraan, menjaga kemanusiaan, serta berlomba-lomba dalam kebaikan.

“Sekali lagi saya mengatakan bahwa kita satu bumi, satu langit dan satu kemanusiaan,” pungkas Patmawati.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....