Menjaga Ukhuwah di tengah Perbedaan, Kunci Persatuan di Era Digital
- 21 Apr 2026 10:56 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Menjaga ukhuwah atau persaudaraan di tengah keberagaman menjadi hal penting dalam kehidupan bermasyarakat, terlebih di era digital yang serba cepat dan penuh arus informasi.
Hal ini disampaikan oleh Dr. Miskari, M.H.I dalam program Mutiara Pagi di Pro 1 RRI Pontianak, Senin, 20 April 2026.
Dalam dialog bersama penyiar Budiman Taher, Dr. Miskari menegaskan bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang harus dirawat, bukan dipertentangkan.
“Kita hidup tidak dalam satu suku, satu agama, atau satu budaya. Perbedaan itu harus kita pupuk menjadi ukhuwah, sehingga melahirkan rasa persaudaraan yang kuat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam Islam, ukhuwah memiliki tiga dimensi utama, yakni ukhuwah imaniah (persaudaraan sesama umat beriman), ukhuwah wathaniah (persaudaraan sebangsa dan setanah air), serta ukhuwah basyariah (persaudaraan sesama manusia).
Menurutnya, Indonesia merupakan contoh nyata keberagaman yang bisa tetap harmonis jika masyarakat mampu menjaga persatuan.
“Walaupun berbeda agama, kita tetap diikat oleh persaudaraan kebangsaan. Ini harus dijaga dan dirawat bersama,” katanya.
Dr. Miskari juga menyoroti penyebab utama rusaknya ukhuwah di masyarakat, yaitu dominasi hawa nafsu yang tidak dikendalikan oleh akal sehat.
“Ketika hawa nafsu lebih dominan, orang bisa melakukan apa saja, termasuk merusak persaudaraan demi kepentingan pribadi,” jelasnya.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa kecanggihan media sosial dapat menjadi pedang bermata dua. Jika tidak disikapi dengan bijak, informasi yang tidak tersaring dapat memicu konflik.
“Banyak orang langsung membagikan informasi tanpa menyaringnya. Ini yang sering menjadi awal perpecahan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Miskari juga menyinggung pentingnya memahami batas toleransi dalam kehidupan beragama. Ia menekankan bahwa toleransi bukan berarti mencampuradukkan keyakinan.
“Toleransi itu menghormati, bukan mengikuti. Selama tidak masuk ke ranah akidah, kita boleh mengambil inspirasi dari mana saja,” ujarnya.
Ia menambahkan, toleransi yang kebablasan justru terjadi ketika seseorang ikut dalam ritual keagamaan lain demi dianggap moderat.
Sebagai penutup, Dr. Miskari mengajak masyarakat untuk kembali berpegang pada nilai-nilai dasar bangsa seperti Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
“Perbedaan adalah anugerah yang harus dirawat. Kalau dirawat dengan baik, akan menjadi keindahan. Tapi jika dibiarkan, bisa menjadi awal kehancuran,” pungkasnya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....