Anak Muda Diingatkan Tak Boros Kata dalam Berkomunikasi

  • 22 Feb 2026 20:51 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Program Insightement di Pro 2 RRI Pontianak kembali menyapa pendengar pada Kamis, 19 Februari 2026 lalu, melalui siaran langsung dari Studio Pro 2 RRI Pontianak dan kanal YouTube Pro 2 Pontianak. Dalam edisi tersebut, menghadirkan perbincangan seputar komunikasi efektif yang mengulas bagaimana kemampuan berbahasa menjadi kunci keberhasilan, baik di lingkungan akademik maupun nonakademik, bersama dua penyiar tamu dari Duta Bahasa Kalimantan Barat, Darmawan dan Rebecca.

Pembahasan difokuskan pada pentingnya komunikasi efektif sebagai fondasi keberhasilan interaksi, baik di lingkungan kampus, dunia kerja, maupun kehidupan sosial sehari-hari. Keduanya sepakat bahwa komunikasi yang baik bukan soal siapa yang paling pintar berbicara, melainkan bagaimana pesan dapat tersampaikan dengan jelas dan dipahami lawan bicara.

Rebecca menjelaskan bahwa komunikasi efektif berarti menyampaikan pesan secara singkat, padat, dan tidak bertele-tele. Menurutnya, pemborosan kata kerap menjadi penghambat utama dalam proses komunikasi. “Komunikasi efektif itu ketika apa yang kita sampaikan benar-benar sampai ke lawan bicara, tanpa muter-muter dan tanpa pemborosan kata. Ini butuh latihan,” ujarnya.

Sementara itu, Darmawan menekankan bahwa keberhasilan komunikasi juga ditentukan oleh kemampuan menempatkan bahasa sesuai konteks. Ia menilai, penggunaan bahasa ibu tidak salah, tetapi harus disesuaikan dengan situasi dan lawan bicara. “Bukan soal siapa yang paling jago ngomong, tapi bagaimana lawan bicara kita bisa mencerna apa yang kita sampaikan. Di situ letak komunikasi yang efektif,” tutur Darmawan.

Dalam konteks dunia akademik, keduanya sepakat bahwa penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi kunci utama. Rebecca mengungkapkan bahwa berkomunikasi dengan dosen maupun menulis karya ilmiah sebaiknya menggunakan bahasa baku agar pesan lebih sopan, jelas, dan profesional. “Kalau di dunia pendidikan, apalagi dengan dosen, menurut aku lebih tepat pakai bahasa Indonesia yang baku. Itu bentuk menghargai situasi formal,” katanya.

Obrolan tersebut juga menyinggung pentingnya pemahaman padanan kata serta kebiasaan memeriksa kaidah kebahasaan, termasuk penggunaan tanda baca dalam penulisan. Darmawan dan Rebecca menilai, keterlibatan mereka sebagai Duta Bahasa membawa perubahan positif dalam cara berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan. Kebiasaan menyaring kata, mengenali istilah baku, serta memahami padanan kata dinilai membantu menciptakan komunikasi yang lebih efektif.

Selain itu, keduanya melihat fenomena pencampuran bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing di kalangan generasi muda. Rebecca menilai fenomena tersebut sebagai bentuk kreativitas dan bilingualisme, selama tetap mampu menempatkan bahasa sesuai konteks. “Enggak masalah campur-campur bahasa, yang penting tahu kapan dan di mana harus pakai bahasa yang tepat,” katanya.

Diskusi juga mengangkat peran bahasa daerah sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan. Darmawan menegaskan bahwa bahasa daerah tidak boleh dipandang rendah, karena merupakan identitas dan kekayaan budaya. Namun, dalam ruang publik dan akademik, bahasa Indonesia tetap perlu diutamakan agar komunikasi dapat diterima oleh semua pihak.

Melalui siaran ini, Insightement mengajak generasi muda untuk lebih sadar berbahasa dengan menyesuaikan konteks, menghargai lawan bicara, serta terus belajar mengembangkan kemampuan berkomunikasi. Komunikasi efektif dinilai bukan sekadar keterampilan berbicara, tetapi juga kunci membangun relasi jangka pendek maupun jangka panjang di dunia akademik dan nonakademik.

Baca juga: Duta Bahasa Kalbar "Bahasa Gaul Boleh, Asal Tak Amburadul"

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....