Ronda Pro 2 Bahas Kepemimpinan Perempuan dan Kesetaraan Gender

  • 12 Feb 2026 22:26 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Program Ronda (Ruang Obrolan Pro 2) kembali menghadirkan diskusi hangat seputar isu sosial di Studio Pro 2 RRI Pontianak, Selasa malam, 10 Februari 2026. Mengangkat topik “Kontribusi Kepemimpinan Perempuan dalam Mewujudkan Kesetaraan Gender, Tinjauan dari Perspektif Laki-Laki dan Perempuan”, siaran ini dipandu Dipa Revanda dan disiarkan langsung melalui 101,8 FM serta kanal YouTube Pro 2 Pontianak

Hadir sebagai narasumber, Putri dan Maulana berbagi pengalaman serta pandangan mereka tentang kepemimpinan, baik dari sudut pandang perempuan maupun laki-laki. Diskusi berlangsung santai namun tetap substantif, membahas realitas di organisasi hingga stigma yang masih berkembang di masyarakat.

Diskusi diawali dengan pengalaman personal para narasumber dalam berorganisasi. Putri yang saat ini menjabat sebagai PJS Ketua Umum Pengurus Daerah Perguruan Tinggi IAIN Pontianak, Pelajar Islam Indonesia, berbagi cerita tentang perjalanannya menapaki jenjang kepemimpinan dari tingkat kota hingga daerah.

“Kalau di kepemimpinan ada beberapa organisasi yang pernah dipimpin juga sih. Kalau sekarang lagi jadi PJS Ketua Umum di Pengurus Daerah Perguruan Tinggi IAIN Pontianak, Pelajar Islam Indonesia,” ujar Putri.

Ia menjelaskan, peran ketua mencakup tanggung jawab untuk terlibat langsung bersama pengurus dalam menyusun arah dan langkah strategis organisasi. Pengalaman yang ia peroleh saat menjabat sebagai sekretaris hingga ketua di berbagai tingkatan menjadi bekal berharga dalam memahami dinamika internal serta karakter kerja tim secara lebih utuh.

Sementara itu, Maulana membagikan pengalamannya berada dalam komunitas yang dipimpin perempuan. Ia menilai kepemimpinan tidak lepas dari dinamika suasana hati, namun hal tersebut bukan alasan untuk saling menyalahkan.

“Kadang aku punya leader cewek. Kita enggak bisa langsung menjudge kalau mood-nya lagi kurang bagus. Kita harus lihat kondisi juga dan saling back up,” kata Maulana.

Menurutnya, kunci organisasi yang sehat adalah saling memahami dan tidak mengedepankan ego. Ia menegaskan bahwa keberhasilan sebuah komunitas merupakan hasil kerja bersama, bukan capaian individu semata.

Memasuki sesi pembahasan utama, Putri memaparkan sejumlah mitos yang kerap dilekatkan pada kepemimpinan perempuan. Salah satunya anggapan bahwa perempuan lebih mengedepankan emosi dibanding rasionalitas.

“Yang pertama tuh ada mitos mengenai kalau perempuan memimpin tuh pasti lebih mengandalkan emosi. Padahal emosi itu menurut riset adalah hal yang bagus karena ada yang namanya emotional intelligence,” ucap Putri.

Ia menambahkan bahwa kecerdasan emosional justru menjadi modal penting dalam membaca situasi, memahami anggota tim, serta mengambil keputusan secara bijak. Selain itu, Putri juga menyoroti mitos bahwa kesetaraan gender hanya menjadi tugas perempuan.

“Padahal kalau laki-laki mendukung kesetaraan gender itu juga sebuah pencapaian. Kalau dalam satu lingkungan tercapai kesetaraan gender, itu akan sangat baik dan saling membantu,” tutur Putri.

Diskusi juga menyentuh soal stigma lama yang membatasi peran perempuan di ruang domestik. Menurut Putri, kesetaraan bukan berarti menyamakan segala hal, melainkan memberikan akses yang sama dalam pendidikan, pekerjaan, dan kesempatan berkembang.

Sebagai langkah konkret mengubah stigma, Putri menilai media sosial dapat menjadi sarana edukasi dan inspirasi. Sementara itu, peran pemerintah dalam membuka akses pendidikan, terutama di daerah 3T, juga dinilai penting untuk mempercepat terwujudnya kesetaraan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....