Duta Bahasa Ajak Hidupkan Literasi Santun Digital
- 02 Mar 2026 11:07 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Upaya menghidupkan budaya literasi di era digital terus digaungkan melalui program Insightainment di RRI Pro 2 Pontianak. Dalam siaran edisi Rabu, 24 Februari 2026, Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Barat menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang santun sebagai fondasi utama membangun literasi masyarakat, khususnya generasi muda.
Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Barat 2025, Seprian Darizki atau Asep, menjelaskan bahwa bahasa dan literasi memiliki hubungan yang tidak terpisahkan. Menurutnya, bahasa merupakan alat utama yang menghidupkan proses membaca, menulis, dan memahami informasi.
“Bahasa adalah alat komunikasi, sementara literasi adalah kemampuan memahami dan mengolah informasi. Keduanya saling bersinambungan dan tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.
Senada dengan itu, Duta Bahasa Kalimantan Barat lainnya, Jaspenita Baro, menyoroti tantangan literasi di tengah derasnya arus informasi digital. Ia mengingatkan bahwa tanpa kemampuan literasi yang baik, masyarakat rentan menyerap dan menyebarkan informasi yang keliru.
“Sekarang informasi datang dari gawai ke gawai. Kalau literasi kita lemah, hoaks dan salah paham sangat mudah terjadi,” kata Jaspenita.
Dalam siaran tersebut, keduanya juga menyoroti maraknya penggunaan bahasa kasar dan ujaran kebencian di media sosial. Asep menilai bahasa yang tidak santun dapat merusak iklim literasi dan berdampak buruk pada kesehatan mental pengguna.
“Bahasa santun membuat orang nyaman berkomunikasi. Tanpa itu, literasi digital justru berubah menjadi ruang saling menyerang,” katanya.
Jaspenita menambahkan bahwa budaya literasi harus dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti meluangkan waktu membaca dan memahami isi bacaan, bukan sekadar membaca judul. Ia menegaskan bahwa literasi adalah proses berkelanjutan yang perlu diwariskan antargenerasi.
“Membaca 15 sampai 20 menit sehari saja sudah menjadi langkah nyata membangun budaya literasi,” ucapnya.
Melalui siaran ini, Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Barat berharap masyarakat semakin bijak berbahasa, baik di ruang nyata maupun digital, sehingga literasi tidak hanya berkembang secara kuantitas, tetapi juga berkualitas dan beretika.
Baca juga: Duta Bahasa Kalbar "Bahasa Gaul Boleh, Asal Tak Amburadul"