Perempuan dan Media: Dari Ruang Redaksi hingga Garda Informasi

  • 09 Jun 2026 08:52 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Keterlibatan perempuan di dunia media terus menunjukkan perkembangan positif. Tidak hanya sebagai pembaca berita atau presenter, perempuan kini semakin banyak mengambil peran sebagai jurnalis, fotografer, videografer hingga pengambil keputusan di ruang redaksi.

Staf Media She Can Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita - PPSW Borneo, Maria, mengatakan perempuan memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkarya di dunia media. Menurutnya, kehadiran perempuan penting untuk menghadirkan perspektif yang lebih beragam dalam setiap karya jurnalistik.

“Kalau laki-laki bisa melakukan sesuatu, perempuan juga bisa. Begitu juga sebaliknya. Yang penting adalah kemampuan dan kesempatan yang setara,” ujarnya saat membahas Suara Perempuan di dunia Media, dalam dialog “Pengarusutamaan Gender Dan Inklusi”, RRI Pro 1 Pontianak pada Senin, 8 Juni 2026, yang dipandu Chery Lubis (Host).

Maria mengaku mulai tertarik pada dunia jurnalistik sejak duduk di bangku SMA melalui kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik. Ketertarikan tersebut kemudian membawanya berkarier di sejumlah media lokal hingga akhirnya bergabung dengan PPSW Borneo sebagai staf media.

Meski demikian, ia mengakui perempuan yang bekerja di dunia media masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari stereotip gender, keraguan terhadap kemampuan perempuan, hingga perlakuan yang tidak menyenangkan di lingkungan kerja.

“Kadang masih ada anggapan perempuan tidak mampu melakukan pekerjaan tertentu. Padahal ketika diberi kesempatan, perempuan juga bisa menunjukkan hasil yang baik,” katanya.

Menurut Maria, perempuan memiliki sudut pandang yang berbeda dan dapat memperkaya proses peliputan maupun produksi konten. Dalam sejumlah liputan, ia kerap menggali cerita dari perspektif perempuan yang sering kali luput dari perhatian.

“Ketika meliput suatu persoalan, saya tidak hanya melihat dari sisi laki-laki sebagai pencari nafkah, tetapi juga bagaimana perempuan mengelola ekonomi keluarga dan menghadapi tantangan sehari-hari,” jelasnya.

Ia menilai kehadiran perempuan dalam media tidak sekadar soal representasi, tetapi juga memastikan berbagai suara dalam masyarakat dapat terwakili secara adil.

Maria juga mengapresiasi semakin banyaknya perempuan yang berani bersuara ketika menghadapi perlakuan tidak menyenangkan. Menurutnya, kesadaran untuk menciptakan ruang kerja yang aman dan nyaman bagi semua pekerja media harus terus diperkuat.

“Kalau ada perlakuan yang membuat tidak nyaman, jangan takut untuk berbicara atau melapor. Sekarang semakin banyak ruang dan komunitas yang siap memberikan dukungan,” ungkapnya.

Selain itu, ia mendorong perempuan muda yang memiliki minat di bidang jurnalistik untuk tidak ragu terjun ke dunia media. Kemampuan menulis, komunikasi, fotografi, dan videografi dapat dipelajari secara bertahap melalui berbagai pelatihan maupun pengalaman lapangan.

“Jangan takut mencoba. Kalau memang punya minat dan kemauan belajar, kesempatan itu selalu ada. Perempuan juga punya kemampuan yang sama untuk berkembang di dunia media,” katanya.

Ke depan, Maria berharap semakin banyak perempuan terlibat dalam berbagai posisi strategis di industri media serta terciptanya lingkungan kerja yang lebih inklusif dan bebas dari diskriminasi.

“Kita ingin media menjadi ruang yang aman, nyaman, dan setara bagi semua orang untuk berkarya tanpa memandang gender,” pungkasnya, mengakhiri..

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....