Keberagaman Kalbar Jadi Kekuatan Persatuan

  • 23 Mei 2026 08:27 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Di tengah derasnya arus informasi digital dan meningkatnya perdebatan di media sosial, peran agama dinilai tetap penting sebagai penuntun moral sekaligus penguat kepedulian sosial di tengah masyarakat majemuk. Hal itu diulas dalam dialog Program Ngander – Moderasi Beragama di Pro 4 RRI Pontianak yang mengangkat tema “Keadilan Sosial dan Tanggung Jawab Ummat Beragama”, pada Kamis , 21 Mei 2026.

Dialog tersebut menghadirkan Penyuluh Agama Konghucu sekaligus Ketua V IPARI Kalimantan Barat, Js. Adi Sucipto. Dalam dialog tersebut, Js. Adi Sucipto menjelaskan bahwa agama mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan sekaligus menjadi pedoman dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis, setara, dan saling menghargai. Menurutnya, keadilan sosial merupakan hak seluruh masyarakat tanpa memandang agama, suku, maupun kelompok tertentu.

Ia mengatakan, setiap agama pada dasarnya mengajarkan nilai kebajikan, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Karena itu, umat beragama diharapkan mampu menghadirkan rasa empati serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar sebagai bagian dari praktik ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Mengenai tantangan moderasi beragama di era digital, ia menilai perkembangan teknologi dan media sosial tidak dapat dihindari, sehingga masyarakat, terutama generasi muda, perlu memiliki kemampuan menyaring informasi sebelum membagikannya kembali. Menurutnya, media sosial seharusnya dimanfaatkan untuk hal positif, bukan menjadi ruang penyebaran hoaks, ujaran kebencian, maupun provokasi antar kelompok.

Dalam perspektif ajaran Konghucu, ia menyebut terdapat nilai-nilai yang harus dijaga dalam kehidupan bermedia, seperti kebenaran, kebajikan, tata susila, dan kepercayaan. Nilai tersebut dinilai penting agar masyarakat tetap menjaga etika dalam menyampaikan pendapat di ruang digital.

Lebih lanjut, Adi menjelaskan bahwa moderasi beragama bukan berarti mengubah ajaran agama, melainkan mengubah cara pandang dalam menyikapi perbedaan. Menurutnya, masyarakat perlu membangun sikap terbuka agar dapat hidup berdampingan dengan damai di tengah keberagaman keyakinan dan budaya.

“Moderasi beragama itu sekarang adalah cara pandang yang kita ubah. Mindset kita diubah agar tidak hanya bersikap fanatik terhadap agama diri sendiri. Namun, bagaimana caranya kita bisa menempatkan diri dan hidup berdampingan dengan umat agama lain, itu yang penting,” ucapnya.

Ia juga mencontohkan bentuk tanggung jawab sosial umat beragama melalui berbagai kegiatan berbagi kepada masyarakat tanpa membedakan agama maupun latar belakang. Kegiatan tersebut dilakukan saat perayaan keagamaan maupun kegiatan sosial lainnya sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.

Dalam dialog itu, Adi turut menyinggung budaya lokal di Kalimantan Barat yang dinilai mampu memperkuat persatuan masyarakat. Ia mencontohkan perayaan Cap Go Meh yang melibatkan berbagai etnis dan agama dalam pertunjukan naga maupun barongsai. Menurutnya, keberagaman budaya menjadi ruang perjumpaan yang mempererat kebersamaan masyarakat Kalimantan Barat.

Selain seputar moderasi beragama, di kesempatan tersebut Adi Sucipto juga menyampaikan persoalan pemerataan tenaga penyuluh agama di Kalimantan Barat. Ia menyebut hingga saat ini dirinya masih berstatus tenaga honorer sebagai penyuluh agama Konghucu dan belum diangkat sebagai ASN maupun PPPK. Menurutnya, keberadaan penyuluh agama Konghucu juga perlu mendapat perhatian pemerintah, mengingat jumlah umat Konghucu di Kalimantan Barat terus ada dan membutuhkan pelayanan keagamaan yang setara sesuai kebutuhan di daerah.

Di akhir dialog, Adi mengajak generasi muda untuk bijak menggunakan media sosial dan tidak mudah terpengaruh konten provokatif. Ia berharap generasi muda mampu menjadi generasi intelektual yang tetap menjaga keharmonisan, toleransi, dan komunikasi baik di tengah keberagaman masyarakat.

Baca juga: Konflik Yayasan Catur Arya Satyani di Sambas Diadukan ke Komisi III DPR RI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....