Libatkan Anak Jadi Konten Kreator? Ini Catatan Anggota IPARI
- 15 Jun 2026 07:33 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Di era digital yang serba cepat, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Namun, kemudahan akses informasi ini juga membawa tantangan besar seperti maraknya penyebaran berita bohong (hoaks), ujaran kebencian, fitnah, hingga perilaku yang dapat memicu konflik antar sesama.
Menyikapi fenomena tersebut, Anggota Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kalimantan Barat, Muhammad Ali, M.Pd, menekankan pentingnya penerapan etika bermedia sosial berdasarkan nilai-nilai akhlak mulia yang diajarkan dalam Al-Qur'an dan hadis. Hal itu disampaikannya dalam program siaran Ngander (Ngobrol Moderasi Beragama) di Studio RRI Pro 4 Pontianak, Kamis, 11 Juni 2026 lalu.
"Sebelum menulis, membuat status, atau mengeluarkan kata-kata di platform digital seperti Facebook, WhatsApp, Instagram, hingga TikTok, perhatikan dulu situasinya. Kita harus memikirkan apakah postingan atau takarir (caption) yang dibuat membawa dampak positif atau tidak. Jika tidak berfaedah dan justru memicu kericuhan, lebih baik tidak usah diposting," ujar Muhammad Ali.
Muhammad Ali mengingatkan sabda Rasulullah SAW yang menganjurkan umatnya untuk selalu berkata atau menuliskan hal-hal yang baik. Menurutnya, konsekuensi di media sosial jauh lebih besar dibanding komunikasi langsung secara tatap muka. Kesalahan penafsiran dalam bahasa tulisan sering kali berujung pada laporan hukum dan pro-kontra yang memperkeruh ruang digital.
Ia menegaskan, jika seseorang secara tidak sengaja mengunggah konten keliru atau menyinggung orang lain, langkah terbaik yang harus segera dilakukan adalah melakukan klarifikasi, meminta maaf, serta menghapus (take down) unggahan tersebut.
"Islam tidak melarang masyarakat untuk mengekspresikan potensi diri, berbisnis, atau menjadi konten kreator demi meningkatkan perekonomian. Selama konten yang dibuat berbobot dan tidak menyalahi aturan atau norma agama serta sosial, silakan saja," katanya menambahkan.
Lebih lanjut, Muhammad Ali menyoroti maraknya keterlibatan anak-anak dalam pembuatan konten demi mengejar jumlah penonton (viewers) dan pengikut (followers). Ia mengingatkan para orang tua agar mengutamakan kemaslahatan, edukasi, dan pembentukan mental anak, bukan semata-mata mencari materi. Hak-hak anak untuk bermain dan bersosialisasi tidak boleh hilang, serta kondisi psikologis mereka harus dijaga agar siap menghadapi respons negatif netizen.
Untuk membentengi keluarga dari dampak negatif digital, Muhammad Ali menyarankan orang tua agar aktif mendampingi anak saat berselancar di media sosial, memantau tontonan mereka, dan tidak ragu berteman di akun digital anak. Edukasi mengenai pentingnya tabayun (klarifikasi) kepada orang tua atau guru sebelum menyebarkan informasi, seperti isu libur sekolah, sangat krusial agar anak tidak menjadi korban atau pelaku penyebaran hoaks.
Di akhir dialog, Muhammad Ali menjelaskan peran IPARI Kalbar yang terus berkomitmen menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah yang sejuk. Melalui platform digital, IPARI aktif menyebarkan narasi keagamaan yang mengajak pada kemaslahatan umat, menjaga persatuan, serta mengedepankan sikap saling menghormati di tengah perbedaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....