Apa yang Terjadi pada Bahasa Kita?
- 26 Jan 2026 19:45 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Perkembangan media sosial membawa ruang baru bagi generasi muda untuk berekspresi. Namun di balik kebebasan itu, muncul pertanyaan penting, yaitu sejauh mana ekspresi boleh dilakukan tanpa melukai orang lain? Pertanyaan inilah yang dibahas dalam program Insightaiment di Pro 2 RRI Pontianak, yang diasuh langsung oleh Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Barat.
Program tersebut dipandu oleh Sebastian Hugo bersama Afwa Annisa, dan disiarkan langsung dari Studio Pro 2 Pontianak pada Rabu, 21 Januari 2026 lalu, sekaligus melalui kanal YouTube Pro 2 Pontianak. Acara ini memberi ruang bagi Duta Bahasa untuk mengambil peran penuh sebagai pengasuh program.
Dalam perbincangan itu, Sebastian dan Afwa mengulas fenomena bahasa di media sosial yang berkembang sangat cepat. Istilah baru, singkatan, hingga gaya berbahasa unik bermunculan hampir setiap hari, terutama di kalangan generasi muda. Kondisi ini menunjukkan bahwa anak muda sebenarnya berkontribusi besar dalam perkembangan bahasa Indonesia.
Salah satu contoh menarik yang dibahas adalah munculnya kata “galgah” sebagai padanan kata “haus” yang akhirnya masuk ke dalam KBBI. Kata tersebut lahir dari kreativitas pengguna media sosial dan menjadi bukti bahwa ruang digital dapat berfungsi sebagai laboratorium bahasa yang hidup dan dinamis.
Namun, kebebasan berekspresi di media sosial juga membawa sisi lain yang perlu diwaspadai. Afwa Annisa menilai, di balik kreativitas bahasa, media sosial juga menjadi tempat subur bagi ujaran kebencian, hoaks, dan kekerasan verbal. Hal ini kerap terjadi karena pengguna merasa aman bersembunyi di balik layar dan identitas digital.
Sebastian Hugo menambahkan, masyarakat Indonesia yang dikenal santun di dunia nyata justru kerap kehilangan empati saat berinteraksi di ruang digital. “Karena tidak bertatap muka, kita sering lupa bahwa orang yang kita komentari itu nyata, punya perasaan, dan bisa terluka,” ujarnya dalam siaran tersebut.
Pembahasan kemudian menyentuh dampak nyata penggunaan bahasa di media sosial terhadap anak-anak. Sebastian, yang juga berprofesi sebagai guru sekolah dasar, membagikan pengalamannya menemukan kata-kata kasar yang ditiru murid dari konten media sosial. Menurutnya, hal yang dianggap sepele oleh orang dewasa dapat membentuk pola bahasa dan karakter anak dalam jangka panjang.
Dalam konteks ini, bahasa Indonesia dipandang sebagai penentu kualitas interaksi sosial. Afwa menekankan bahwa mempelajari bahasa berarti juga mempelajari makna, konteks, dan dampaknya terhadap orang lain. “Kritik tetap bisa disampaikan, tapi dengan bahasa yang sopan agar pesan bisa diterima,” katanya.
Program Insightaiment juga mengangkat peran media sosial sebagai sarana edukasi kebahasaan. Melalui akun Duta Bahasa dan Balai Bahasa Kalimantan Barat, masyarakat dikenalkan pada padanan kata seperti “lantatur” untuk drive through dan “rubanah” untuk basement. Konten semacam ini dinilai mampu memperkaya kosakata sekaligus menumbuhkan kebanggaan berbahasa Indonesia.
Selain bahasa Indonesia, penggunaan bahasa daerah di media sosial juga dibahas sebagai peluang pelestarian budaya. Namun, Sebastian dan Afwa sepakat bahwa bahasa daerah pun tetap perlu dijaga kesantunannya agar tidak kehilangan nilai luhur yang dikandungnya.
Menutup perbincangan, keduanya menegaskan bahwa media sosial ibarat pedang bermata dua. Kebebasan berekspresi adalah hak, dan tanggung jawab moral adalah keharusan. Apa yang diketik di ruang digital bisa berdampak nyata, tidak hanya hari ini, tetapi juga bagi masa depan generasi berikutnya.
Baca Juga: Bahasa Asing Penting, Identitas Tetap Utama
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....