Cerdas Hati Bentuk Pribadi Santun di Era Digital
- 10 Jul 2026 07:12 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Kecerdasan intelektual saja dinilai tidak lagi cukup untuk menghadapi tantangan kehidupan di era digital. Masyarakat juga perlu membangun kecerdasan hati agar mampu mengendalikan emosi, menjaga hubungan sosial, serta menggunakan bahasa yang santun dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Ustadz Rahnang, M.Pd.I. dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Pontianak yang mengangkat tema "Cerdas Hati Melalui Bahasa dan Sastra", Selasa, 7 Juli 2026.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi membuat setiap orang harus mampu mengelola hati dan emosi agar tidak mudah terpancing konflik maupun perpecahan.
"Di era modern ini kita tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga harus memiliki kecerdasan hati, yaitu kemampuan mengelola emosi dan membangun hubungan sosial yang sehat," ujar Ustadz Rahnang.
Ia menjelaskan, Islam telah lama mengajarkan konsep kecerdasan hati melalui Al-Qur'an dan hadis Rasulullah SAW, jauh sebelum teori-teori psikologi modern berkembang.
Ustadz Rahnang mengutip hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang menjadi pusat seluruh perilaku manusia.
"Apabila hati itu baik maka baiklah seluruh perilakunya. Sebaliknya, apabila hati rusak maka rusak pula seluruh kehidupan seseorang. Karena itu menjaga hati menjadi hal yang paling utama," katanya.
Menurutnya, membangun kecerdasan hati harus diawali dengan muhasabah atau introspeksi diri. Setiap muslim perlu mengevaluasi dirinya sebelum memperbaiki hubungan dengan orang lain.
Ia menyebut ada beberapa tahapan untuk membentuk kecerdasan hati, yaitu sadar diri, membuka diri terhadap kekurangan, menata diri, memotivasi diri, menumbuhkan empati, hingga mampu mengambil keputusan secara bijaksana.
"Kalau seseorang mampu melakukan muhasabah, maka dia akan lebih mudah memperbaiki dirinya. Dari situ lahir motivasi, empati, dan akhirnya mampu mengambil keputusan yang benar," jelasnya.
Dalam tausiahnya, Ustadz Rahnang menekankan bahwa bahasa merupakan cerminan kondisi hati seseorang. Orang yang memiliki hati yang baik akan menyampaikan pendapat dengan santun tanpa melukai perasaan orang lain.
Ia membedakan sikap asertif dan agresif dalam berkomunikasi. Sikap asertif, katanya, merupakan kemampuan menyampaikan pendapat dengan tetap menghormati orang lain, sedangkan agresif justru mengedepankan emosi tanpa mempertimbangkan dampaknya.
"Kemampuan berbicara yang baik bukan hanya soal kata-kata, tetapi bagaimana menjaga perasaan orang lain ketika menyampaikan pendapat," ungkapnya.
Ustadz Rahnang menambahkan bahwa seseorang dikatakan cerdas apabila memahami mana yang baik dan mana yang buruk. Pengetahuan yang luas akan melahirkan kedewasaan dalam berpikir dan bertindak.
"Orang yang cerdas bukan hanya mengetahui yang baik, tetapi juga memahami yang buruk sehingga mampu menentukan pilihan yang benar," ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus belajar dari pengalaman hidup, kisah para nabi, para ulama, maupun pengalaman orang lain sebagai bekal dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Menjawab pertanyaan pendengar mengenai cara mengendalikan amarah dalam rumah tangga, Ustadz Rahnang menyarankan agar seseorang tidak langsung meluapkan emosi.
Ia menganjurkan untuk berwudu, menenangkan diri, kemudian melakukan introspeksi sebelum berbicara agar ucapan yang keluar tetap membawa kebaikan.
"Ketika emosi datang, jangan langsung berbicara. Berwudulah, tenangkan diri, kemudian lakukan muhasabah. Setelah hati tenang, insyaallah yang keluar adalah kata-kata yang baik," pesannya.
Di akhir tausiah, Ustadz Rahnang mengajak masyarakat menjadikan kecerdasan hati sebagai bekal membangun kehidupan yang damai, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Menurutnya, perpaduan antara kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial akan melahirkan pribadi yang berakhlak mulia, mampu menghargai sesama, serta menjadi penebar kedamaian di tengah kehidupan bermasyarakat.
"Semoga Allah menambahkan kecerdasan kepada kita semua, menjadikan hati kita bersih, serta menjadikan kita pribadi yang mampu menghadirkan kedamaian melalui tutur kata dan akhlak yang baik," pungkasnya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....