Bahasa Asing Penting, Identitas Tetap Utama
- 20 Jan 2026 23:04 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Penguasaan bahasa asing dinilai penting bagi generasi muda di era global, namun tidak boleh menggeser peran bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa. Pesan tersebut disampaikan Muna Alhanif dan Rizka Putri, Duta Bahasa Kalimantan Barat, saat menjadi penyiar tamu dalam program INSIGHTAINMENT di RRI Pro 2 Pontianak, Senin, 19 Januari 2026.
Dalam siaran yang mereka asuh secara langsung, Muna dan Rizka mengangkat tema Menguasai Bahasa Asing Tanpa Melupakan Jati Diri Bahasa Indonesia. Tema ini dinilai relevan dengan kondisi anak muda saat ini yang kian akrab dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris.
Muna Alhanif mengungkapkan bahwa ketertarikannya mempelajari bahasa asing tidak muncul secara instan. Ia mengaku sempat ragu akan manfaat bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari, sebelum akhirnya menyadari pentingnya bahasa tersebut sebagai sarana komunikasi global.
“Awalnya takut dan ragu, berguna enggak ya untuk kehidupan. Tapi setelah tahu fungsinya dan tujuannya, akhirnya memutuskan untuk belajar bahasa asing sampai sekarang,” ujar Muna.
Sementara itu, Rizka Putri menyampaikan bahwa ketertarikannya pada bahasa Inggris sudah tumbuh sejak kecil, berkat kebiasaan yang dibangun di lingkungan keluarga. Meski demikian, ia menegaskan bahwa bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa utama yang tidak boleh ditinggalkan.
“Bahasa Indonesia itu rumah kita. Bahasa asing hanya jembatan untuk melihat dunia,” kata Rizka.
Keduanya sepakat bahwa penguasaan bahasa asing menjadi kebutuhan di era globalisasi dan industri 5.0, terutama bagi generasi muda yang bercita-cita bekerja lintas negara. Namun, mereka menekankan bahwa penguasaan tersebut harus diimbangi dengan sikap bangga terhadap bahasa Indonesia.
“Belajar bahasa asing bukan berarti mengubur bahasa Indonesia. Justru dengan bahasa asing, kita bisa memperkenalkan bahasa dan budaya kita ke dunia luar,” ujar Muna.
Dalam dialog tersebut, Rizka juga menyoroti peran bahasa sebagai budaya tak benda yang harus dijaga. Menurutnya, setiap bangsa seharusnya bangga terhadap bahasanya sendiri, termasuk generasi muda Indonesia. “Bahasa itu budaya. Jadi, bukan cuma orang Indonesia, semua bangsa seharusnya bangga dengan bahasa negaranya masing-masing,” katanya.
Sebagai Duta Bahasa, Muna dan Rizka turut menggaungkan konsep Trigatra Bangun Bahasa, yakni mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Prinsip ini dinilai menjadi kunci dalam menyeimbangkan penggunaan bahasa di ruang publik.
“Top prioritas kita tetap bahasa Indonesia. Bahasa asing itu penting, tapi penggunaannya harus sesuai konteks,” tutur Rizka.
Mereka juga mengingatkan generasi muda agar tidak mencampuradukkan bahasa secara berlebihan, terutama di ruang formal. Penggunaan bahasa asing yang tidak tepat, menurut mereka, justru dapat menimbulkan kesalahpahaman dan mengaburkan identitas bahasa Indonesia.
“Kesalahan yang sering terjadi itu pencampuran bahasa yang berlebihan dan niat yang keliru, hanya untuk pencitraan, bukan untuk komunikasi,” kata Muna.
Melalui program INSIGHTAINMENT, Muna Alhanif dan Rizka Putri berharap generasi muda semakin sadar akan pentingnya bersikap bijak dalam berbahasa, sekaligus menjadi duta bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. “Kita enggak perlu selempang untuk jadi duta bahasa. Cukup dengan bangga dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar,” ucap Rizka.
Baca juga:KOMET ke-22 Tantang Pelajar Kalbar
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....