Duta Bahasa Bahas Ragam Budaya dan Pariwisata Kalbar
- 10 Des 2025 16:19 WIB
- Pontianak
KBRN, Pontianak: Dua Duta Bahasa Kalimantan Barat (Kalbar), Kania (Terbaik 2 Duta Bahasa Kalbar 2025) dan Rebecca Audrey (Duta Bahasa Kalbar 2023), hadir dalam program Pro 2 Pontianak, Kamis (4/12/2025), untuk membahas kekayaan bahasa, budaya, serta potensi pariwisata di Kalimantan Barat. Dalam dialog santai berdurasi hampir 30 menit tersebut, keduanya mengajak masyarakat untuk lebih mencintai bahasa daerah dan mengeksplor keindahan wisata lokal.
“Bahasa ibu itu adalah bahasa yang pertama kali kita pelajari saat lahir, biasanya bahasa daerah,” ujar Rebecca saat menjelaskan pentingnya pelestarian bahasa lokal.
Kania menambahkan bahwa dirinya menggunakan Melayu Pontianak sebagai bahasa ibu, sekaligus mengajak pendengar untuk bangga memakai bahasa daerah masing-masing.
Dalam sesi pariwisata, keduanya menyinggung konsep Sapta Pesona sebagai pilar destinasi wisata.
“Teman-teman bisa ingat ATBS IRK: aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah, dan kenangan,” kata Kania. Ia juga berbagi pengalaman wisata ke Pulau Lemukutan yang kini berkembang pesat dan menjadi destinasi populer.
Rebecca turut menceritakan kunjungannya ke Singkawang yang terkenal dengan budaya Tionghoa dan festival Cap Go Meh. “Cap Go Meh di Singkawang itu sudah mendunia dan disorot media internasional,” ucapnya.
Selain budaya Tionghoa, mereka juga membahas budaya Dayak seperti Naik Dango dan Gawai Dayak.
“Jangan lupa kalau ke Gawai Dayak beli cendera mata tenun asli, karena dibuat dengan keterampilan dan ketelatenan para pengrajin,” kata Rebecca.
Keduanya juga menegaskan bahwa bahasa asing perlu dikuasai tanpa rasa malu, terutama untuk mendukung sektor pariwisata. Kania mencontohkan pentingnya belajar bahasa isyarat Bisindo seiring penelitiannya bersama komunitas Tuli. “Bahasa adalah komunikasi, bisa verbal atau non-verbal. Jangan malu mencoba,” ujarnya.
Dalam topik lain, Rebecca menyoroti perkembangan industri kopi Pontianak yang kini menjadi daya tarik wisata. “Kopi Pontianak kualitasnya bagus-bagus, bahkan lebih enak dari beberapa kopi yang saya coba di luar Kalbar,” tuturnya.
Menutup siaran, keduanya mengajak masyarakat untuk menjaga keberagaman bahasa dan budaya. “Kita harus punya self-belonging, rasa memiliki terhadap bahasa dan budaya kita,” kata Kania.
Program Pro 2 Pontianak itu ditutup dengan harapan agar masyarakat semakin bangga terhadap identitas Kalimantan Barat dan terus mempromosikan kekayaan lokal ke tingkat nasional hingga internasional.
Baca juga: Di Balik Layar Ikatan Duta Bahasa Kalimantan Barat
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....