Ancaman Kepunahan, Duta Bahasa Dorong Revitalisasi 180 Lebih Bahasa Daerah Kalbar

  • 05 Jun 2026 21:11 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Bahasa daerah di Kalimantan Barat memegang peranan krusial sebagai identitas sekaligus warisan budaya yang tak ternilai harganya. Sehingga generasi muda diimbau untuk tidak merasa minder atau melabeli bahasa daerah sebagai bahasa yang tertinggal atau "kampungan".

Hal tersebut ditegaskan oleh perwakilan Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Barat, Dany dan Laudza, saat menjadi narasumber dalam program siaran 'NGOPI' (Ngobrolin Prestasi dan Informasi) di Studio Pro 2 RRI Pontianak yang juga disiarkan melalui kanal YouTube Pro 2 Pontianak pada Kamis, 4 Juni 2026.

"Jangan malu menggunakan bahasa daerah dan jangan menganggap bahasa daerah itu bahasa kampungan. Karena bahasa Indonesia yang kita gunakan sehari-hari pun terlahir dari kekayaan bahasa daerah yang ada. Bahasa daerah adalah bagian dari identitas kita," ujar Dany.

Menghadapi tantangan arus globalisasi dan dominasi bahasa asing, Laudza menjelaskan bahwa upaya pelestarian atau revitalisasi bahasa daerah harus dilakukan secara dinamis dan adaptif mengikuti perkembangan zaman. Salah satu langkah konkretnya adalah memanfaatkan platform digital yang dekat dengan keseharian anak muda.

"Tantangan kita bukan cuma bagaimana cara bahasa ini eksis terus, namun bahasa bisa diadaptasikan secara dinamis dengan perkembangan zaman. Kita bisa mulai dari kebiasaan kita, membuat tren baru di media sosial seperti Instagram atau TikTok, agar bahasa daerah seperti Melayu atau Dayak bisa terdengar keren dan mematahkan stigma yang ada," ujar Laudza.

Senada dengan hal itu, Dany menambahkan bahwa ruang digital harus diisi dengan konten kreatif berbahasa daerah untuk menjangkau audiens muda secara lebih luas (engage). Di samping itu, Duta Bahasa Kalbar sendiri aktif menjalankan program reguler seperti 'Pojok Baca' setiap hari Minggu pagi di Taman Catur Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, yang mayoritas diikuti oleh anak-anak sebagai langkah edukasi sejak dini.

Dalam dialog tersebut, terungkap fakta bahwa Kalimantan Barat memiliki kekayaan bahasa yang sangat masif, yakni mencapai lebih dari 180 bahasa daerah, khususnya dari ragam bahasa Dayak dan Melayu. Namun, beberapa di antaranya kini berpotensi punah akibat kehilangan penutur aslinya.

Dany menilai, salah satu faktor utama hilangnya bahasa daerah adalah terputusnya warisan komunikasi di tingkat keluarga.

"Banyak bahasa daerah yang terancam hilang karena tidak ada penuturnya lagi. Dari lingkungan keluarga sendiri terkadang tidak menurunkan bahasa daerah tersebut ke anak-anaknya. Padahal, pondasi utama pelestarian itu harus dimulai dari rumah," kata Dany menekankan.

Menutup diskusi, para Duta Bahasa mengajak seluruh masyarakat Kalimantan Barat untuk tetap terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa melupakan akar budaya lokal. Mereka turut menggaungkan slogan nasional dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, yaitu Trigatra Bangun Bahasa.

"Kita boleh mengenal budaya dan bahasa asing, tetapi tidak boleh melupakan apa yang sudah ada. Sesuai jargon kami, utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing," kata Dany.

Baca juga: Generasi Muda Diminta Bangga Gunakan Bahasa Daerah

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....