Geger! Inggris Catat Rekor Kasus KDRT Selama Piala Dunia 2026, Alkohol Jadi Sorotan
- 26 Jul 2026 13:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Piala Dunia 2026 ternyata tidak hanya meninggalkan cerita di lapangan hijau, tetapi juga memicu lonjakan kasus KDRT di Inggris. Sebanyak 384 kasus KDRT terjadi selama turnamen Piala Dunia 2026.
- Melansir laman Sky Sports, angkat kasus KDRT itu berdasarkan data resmi Unit Kepolisian Sepak Bola Inggris. Peningkatan kasus KDRT tersebut, terjadi bersamaan dengan melonjaknya berbagai tindak kriminal yang berkaitan dengan sepak bola.
- Semakin banyak konsumsi alkohol, semakin besar masalahnya. Peningkatan konsumsi minuman beralkohol juga berdampak langsung pada naiknya kasus kekerasan dalam rumah tangga
RRI.CO.ID, Jakarta – Piala Dunia 2026 ternyata tidak hanya meninggalkan cerita di lapangan hijau, tetapi memicu lonjakan kasus KDRT di Inggris. Sebanyak 384 kasus KDRT terjadi selama turnamen Piala Dunia 2026, sekaligus angka tertinggi dibandingkan empat turnamen besar sebelumnya.
Melansir laman Sky Sports, angka kasus KDRT itu berdasarkan data resmi Unit Kepolisian Sepak Bola Inggris. Peningkatan kasus KDRT tersebut, terjadi bersamaan dengan melonjaknya berbagai tindak kriminal yang berkaitan dengan sepak bola.
Kepolisian Inggris menilai, tingginya konsumsi alkohol selama pertandingan menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk situasi. Harapan publik Inggris untuk melihat tim nasional mengangkat trofi Piala Dunia 2026 pupus.
Tepatnya, setelah langkah Harry Kane dan kolega dihentikan Argentina di babak semifinal Piala Dunia 2026. The Three Lions kemudian menutup turnamen dengan merebut peringkat ketiga usai mengalahkan Prancis dengan skor 6-4.
Kepala Unit Kepolisian Sepak Bola Inggris, Mark Roberts mengatakan, turnamen sepak bola berskala besar selalu diikuti peningkatan angka kriminalitas. Ia menyebut, konsumsi alkohol yang tinggi menjadi pemicu utama meningkatnya berbagai insiden, termasuk KDRT.
"Semakin banyak konsumsi alkohol, semakin besar masalahnya. Peningkatan konsumsi minuman beralkohol juga berdampak langsung pada naiknya kasus kekerasan dalam rumah tangga," kata Roberts dalam keterangannya melansir laporan Sky Sports, Minggu, 26 Juli 2026.
Roberts mengungkapkan, sekitar 300 insiden KDRT terjadi pada malam pertandingan Inggris melawan Norwegia. Saat itu, sejumlah bar dan tempat hiburan mendapat izin beroperasi hingga pukul 02.00 waktu setempat dini hari.
Secara keseluruhan, kepolisian mencatat 2.322 insiden yang berkaitan dengan sepak bola sepanjang Piala Dunia 2026. Dari jumlah tersebut, 384 kasus merupakan kekerasan dalam rumah tangga atau sekitar 17 persen dari total laporan yang diterima.
Selain itu, polisi juga melakukan 391 penangkapan selama turnamen berlangsung. Sebanyak 1.008 insiden terjadi di lokasi yang memiliki izin penjualan minuman beralkohol, menjadikannya angka tertinggi kedua sepanjang penyelenggaraan turnamen besar.
Jika dibandingkan dengan edisi sebelumnya, angka KDRT selama Piala Dunia 2026 menjadi yang tertinggi. Pada Piala Dunia 2018 tercatat 306 kasus, Euro 2020 (193 kasus), Piala Dunia 2022 (119 kasus), dan Euro 2024 (351 kasus).
Total insiden terkait sepak bola juga mengalami peningkatan signifikan. Berikut datanya:
• Piala Dunia 2026 mencatat 2.322 insiden kasus KDRT
• Piala Dunia 2018 mencatat 1.487 kasus KDRT
• Piala Dunia 2022 mencatat 573 kasus KDRT
• Euro 2024 mencatat 1.302 kasus KDRT
• Euro 2020 mencatat 2.345 insiden KDRT.
Di sisi lain, Roberts memberikan apresiasi kepada para suporter Inggris yang hadir langsung di Amerika Serikat. Menurutnya, perilaku para pendukung selama berada di luar negeri tergolong sangat baik meskipun jumlah mereka cukup besar.
"Perilaku para pendukung sangat luar biasa," kata Roberts. Ia menyebut tingkat pelanggaran yang dilakukan suporter Inggris di Amerika Serikat tergolong sangat rendah.
Kepolisian Amerika Serikat hanya menangkap 22 suporter Inggris sepanjang turnamen. Kasus tersebut terdiri atas delapan pelanggaran ketertiban umum dan masuk tanpa izin.
"Enam kasus penganiayaan, dua pelanggaran manipulasi tiket, satu kasus mabuk. Serta tiga tindakan pengusiran," ujar Roberts.
Roberts juga mengkritik, kebijakan perpanjangan jam operasional tempat penjualan alkohol yang diputuskan menjelang pertandingan. Menurutnya, keputusan yang diambil dalam waktu singkat menyulitkan aparat untuk menyiapkan personel tambahan guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan.
Ia mencontohkan, laga Inggris melawan Meksiko yang dimulai pukul 01.00 dini hari waktu setempat. Bar saat itu diizinkan beroperasi hingga pukul 05.00 pagi, padahal keputusan tersebut baru diumumkan sekitar 48 jam sebelum pertandingan berlangsung.
Roberts berharap kebijakan serupa pada turnamen mendatang mempertimbangkan aspek keamanan secara lebih matang. Menurutnya, manfaat ekonomi dari perpanjangan jam operasional harus diimbangi dengan langkah mitigasi terhadap potensi meningkatnya tindak kriminal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....