Pelajar Indonesia di Inggris Perkuat Kolaborasi Riset
- 22 Jul 2026 17:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Perhimpunan Pelajar Indonesia di United Kingdom (PPI UK) berhasil menyelenggarakan Indonesian Scholars International Convention (ISIC).
- ISIC ke-24 merupakan ajang kolaborasi riset dan keilmuan terbesar bagi pelajar Indonesia di Inggris yang menjadi ruang penting untuk memperkuat diskusi ilmiah secara langsung.
- Ketua PPI UK 2025/2026 Muhammad Fachrul Hudallah menekankan bahwa acara ini berfungsi sebagai platform diskusi ilmiah di tengah perkembangan interaksi digital yang semakin pesat.
RRI.CO.ID, London – Perhimpunan Pelajar Indonesia di United Kingdom (PPI UK) sukses menggelar Indonesian Scholars International Convention (ISIC) ke-24 sebagai ajang kolaborasi riset dan keilmuan terbesar bagi pelajar Indonesia di Inggris. Mengusung tema Navigating Indonesia at the Crossroads of Multifaceted Global Uncertainties, kegiatan ini berlangsung di Bush House, King's College London, Sabtu, akhir pekan kemarin.
Ketua PPI UK 2025/2026, Muhammad Fachrul Hudallah, mengatakan ISIC 2026 menjadi ruang penting untuk memperkuat diskusi ilmiah secara langsung di tengah berkembangnya interaksi digital.
"Terima kasih kepada semua pihak dan sponsor yang mendukung pertemuan ini. Pertemuan tatap muka seperti ISIC 2026 itu penting karena mendorong diskusi mendalam seperti dialektika Socrates. Mari kita gunakan kesempatan ini untuk menguji gagasan secara konstruktif, bukan kritik destruktif, guna membangun dasar bersama bagi masa depan Indonesia," ujar Fachrul dalam sambutannya.
Sebanyak 120 peserta dari berbagai kota di Inggris, seperti London, Manchester, Brighton, Leicester, Lancaster, dan Southampton, mengikuti konvensi tersebut. Mereka berasal dari berbagai jenjang pendidikan dan disiplin ilmu.
Salah satu agenda utama adalah Research Showcase yang menampilkan 36 poster penelitian dari bidang sains, teknologi, kesehatan, hingga ilmu sosial. Karya-karya tersebut dinilai oleh dewan juri yang terdiri atas akademisi dari University of Cambridge dan University College London.
Selain pameran riset, ISIC 2026 menghadirkan dua diskusi panel yang membahas berbagai isu strategis. Panel pertama mengangkat tema pembangunan Indonesia yang hijau dan tangguh melalui pembiayaan berkelanjutan serta kesiapan sistem menghadapi berbagai krisis global.
Sementara panel kedua membahas pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), teknologi maju (deep tech), mobilitas berkelanjutan, serta penguatan ekosistem riset Indonesia. Diskusi menghadirkan akademisi dan profesional Indonesia yang berkarier di sejumlah institusi dunia, seperti Imperial College London, Google DeepMind, University College London, hingga Institut Teknologi Bandung.
Ketua Panitia ISIC 2026, Syahirul Alim, mengatakan keberhasilan penyelenggaraan acara merupakan hasil kerja sama para pelajar Indonesia dari berbagai kota di Inggris yang telah mempersiapkan kegiatan sejak Februari 2026.
"Kami berterima kasih kepada seluruh pembicara, sponsor, dan panitia yang telah bekerja keras mempersiapkan acara ini sejak Februari sehingga pertemuan penting ini dapat terwujud. Acara ini diselenggarakan sebagai wadah untuk bertemu, berdiskusi, dan berkolaborasi agar gagasan-gagasan besar, termasuk pengembangan teknologi Indonesia, dapat lahir dan berkembang melalui sinergi antar peserta," kata Alim.
Keunikan ISIC 2026 tampak pada format rotating panel, yang memberi kesempatan kepada peserta untuk naik ke panggung dan berdialog langsung dengan para narasumber. Format tersebut menciptakan diskusi dua arah yang lebih interaktif dibandingkan forum akademik pada umumnya.
Ajang ini juga menjadi sarana membangun jejaring antarpeneliti melalui sesi Research Showcase, sehingga peserta dapat bertukar gagasan dan membuka peluang kolaborasi lintas disiplin ilmu.
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Britania Raya, Irlandia, dan Organisasi Maritim Internasional (IMO), Desra Percaya, turut menghadiri kegiatan tersebut. Selain memberikan sambutan, ia menyerahkan plakat penghargaan kepada para pembicara, mengunjungi pameran riset, serta berdialog dengan peserta dan panitia.
Dalam sambutannya, Desra mengajak pelajar dan diaspora Indonesia di Inggris untuk mengambil peran aktif menghadapi berbagai tantangan global melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan kolaborasi.
"Kita menghadapi ketidakpastian global, dari politik hingga perubahan iklim dan AI, yang menuntut kepemimpinan bertanggung jawab dan kesiapan untuk bertindak. Untuk itu, fokuslah pada penguasaan ilmu, integritas, penciptaan dampak nyata, dan membangun jaringan sebagai modal utama dalam menghasilkan perubahan melalui pendidikan," ujar Desra.
ISIC 2026 ditutup dengan pesan bahwa pendidikan, riset, dan kolaborasi lintas negara menjadi fondasi penting bagi Indonesia untuk tetap tangguh dan mampu berkontribusi di tengah dinamika global yang terus berubah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....