Kemendukbangga/BKKBN Dorong KB Sebagai Upaya Cegah Empat Risiko Stunting
- 30 Sep 2026 16:54 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Donggala - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN mendorong program Keluarga Berencana (KB) sebagai salah satu upaya mencegah empat kondisi yang berisiko terhadap stunting. Empat kondisi tersebut yakni kehamilan pada usia terlalu muda, terlalu tua, jarak kehamilan terlalu dekat, dan jumlah anak terlalu banyak.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Kemendukbangga, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka saat membuka kegiatan Intensifikasi Pelayanan KB di Wilayah Khusus di Pelabuhan Wani, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Senin, 28 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya memperluas akses pelayanan KB kepada masyarakat sekaligus memperkuat edukasi mengenai perencanaan keluarga.
Isyana mengatakan perencanaan keluarga tidak sekadar berkaitan dengan penggunaan alat kontrasepsi. Program KB diarahkan untuk membantu pasangan merencanakan kehidupan keluarga, termasuk menentukan jumlah dan jarak kelahiran sesuai kemampuan keluarga.
“Kalau kita berbicara tentang pelayanan KB ini bukan berarti bahwa pemerintah ini ingin membatasi jumlah anak, bukan seperti itu. Yang ingin dilakukan oleh pemerintah adalah program keluarga berencana, kita merencanakan kehidupan keluarga sejak awal, sejak dini termasuk juga perencanaan berapa jumlah anak yang diinginkan oleh sebuah keluarga,” ucapnya.
Isyana menjelaskan, empat kondisi tersebut perlu diperhatikan karena berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak serta kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak. Menurutnya, pengaturan usia, jumlah, dan jarak kehamilan menjadi bagian dari upaya mendukung kualitas generasi sejak awal kehidupan.
“Yang pertama tadi terlalu muda, karena kalau terlalu muda perempuan melahirkan biasanya, mohon dikoreksi kalau salah, panggulnya ini belum berkembang sempurna sehingga pada saat dia melahirkan anak potensi risiko stuntingnya menjadi lebih tinggi. Termasuk juga kalau terlalu tua karena usia potensi stuntingnya juga semakin tinggi,” ujarnya.
Selain usia kehamilan, Isyana menyoroti jarak kelahiran yang terlalu dekat karena dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan anak. Ia menyebut pemberian ASI hingga usia dua tahun menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam periode 1.000 hari pertama kehidupan.
“Kemudian juga kalau terlalu dekat jaraknya, karena kalau terlalu dekat jaraknya anak yang sebelumnya kualitas ASI kemudian bagaimana? Karena biasanya ASI ini penting untuk bisa diberikan kepada anak sampai usia dua tahun. Periode 1.000 hari pertama kehidupan menjadi sangat penting,” ucapnya.
Isyana juga menjelaskan kondisi keempat, yakni jumlah anak yang terlalu banyak, berkaitan dengan kemampuan orang tua memberikan kebutuhan terbaik bagi setiap anak. Menurutnya, perencanaan jumlah anak perlu dibicarakan bersama antara suami dan istri dengan mempertimbangkan kemampuan keluarga.
“Dan yang terakhir adalah terlalu banyak. Ini terlalu banyak juga tentu saja akan berdampak pada kualitas dan kemampuan orang tua untuk bisa memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya,” ujarnya.
Ia menambahkan, pencegahan stunting pada periode 1.000 hari pertama kehidupan perlu didukung pemenuhan gizi sejak bayi masih dalam kandungan hingga berusia dua tahun. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, dilanjutkan hingga dua tahun dengan makanan pendamping ASI, menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan gizi anak.
Isyana menegaskan, program KB diarahkan untuk membangun keluarga yang mampu merencanakan kehidupan dan memberikan pengasuhan secara optimal. Upaya tersebut diharapkan turut mendukung pencegahan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....