Rektor Untad Tekankan Implementasi Tata Ruang Berbasis Resiko Bencana

  • 30 Sep 2026 15:08 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Rektor Universitas Tadulako Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN, Eng., menilai terjadi pergeseran paradigma pembangunan pasca bencana tsunami, gempa bumi, dan likuifaksi 2018 silam. Menurutnya, pemerintah daerah kini tidak hanya sekadar membangun kembali daerah terdampak, tetapi juga memperhitungkan resiko bencana dengan memperhitungkan standar-standar bangunan tahan gempa.

Selain itu, pembahasan terkait potensi gempa di Sulawesi Tengah juga semakin intensif dibahas dalam penataan ruang termasuk revisi peraturan daerah, Meski langkah tersebut dinilai positif, Prof. Amar tetap mengingatkan agar kebijakan tersebut benar-benar diimplementasikan dan tercermin pada pembangunan fisik yang terus digenjot.

"Karena tantangannya bukan hanya membuat dokumen tata ruang misalnya, tetapi memastikan dokumen tersebut itu menjadi rujukan yang betul-betul digunakan bagi kawasan-kawasan untuk pembangunan rumah sakit, sekolah, apa yang kemudian eh apa ini industri, infrastruktur lainnya," kata Prof. Amar dalam program Pro 1 RRI Palu "Palu Menyapa", Senin 28 September 2026.

Selain pembangunan berbasis mitigasi, Prof. Amar juga menegaskan pentingnya pemetaan zona rawan untuk menentukan batasan-batasan aman dalam pelaksanaan pembangunan. Batas zona berbasis data ilmiah dinilai penting untuk terus diperbaharui, agar pengambilan keputusan dapat diterapkan secara tepat hingga ke skala tapak.

"Ini penting, kita membutuhkan peta sesar, likuifaksi, tsunami, longsor dan lain sebagainya yang cukup bagi pengambil keputusan dan skalanya itu sampai skala tapak," tuturnya.

Selain itu, zona resiko harus terikat dengan sistem perizinan. Ia mengungkapkan sinkronisasi antara aturan tata ruang dan proses perizinan harus sejalan agar tidak ada lagi celah perizinian di kawasan rawan bencana.

Pengalihfungsian kawasan beresiko tinggi juga harus disesuaikan dengan peruntukannya , eperti ruang terbuka hijau atau taman fasiltias mitigasi. Terakhir, Prof. Amar berharap pengawasan dan evaluasi secara berkala dilakukan guna memstikan seluruh pembangunan di daerah tangguh terhadap bencana.

"Ilmu keberencanaan terus berkembang, data baru harus dapat diperbaiki dalam tata ruang tersebut," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....