Kekeringan dan Karhutla Melanda Utara, Banjir Kepung Selatan Parigi Moutong

  • 02 Sep 2026 22:33 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Parigi Moutong - Fenomena cuaca unik sekaligus ekstrem tengah melanda Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Wilayah dengan bentangan sepanjang 510 kilometer ini harus berhadapan dengan dua ancaman bencana alam secara bersamaan, yakni fenomena kekeringan ekstrem di wilayah utara dan bencana banjir bandang di wilayah selatan dan tengah.

Kondisi kontras tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase, saat menghadiri Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla dan Kekeringan yang dipimpin Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. Anwar Hafid, M.Si., di Ruang Rapat Polibu Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Senin 31 Agustus 2026.

Di wilayah utara, fenomena musim panas memicu ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta kekeringan drastis. Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong telah menetapkan status siaga Karhutla di lima kecamatan, meliputi wilayah Mepanga hingga Moutong.

Tak hanya mengancam hutan dan permukiman, debit air sungai yang menyusut drastis juga memicu ancaman gagal panen massal. Di Kecamatan Mepanga saja, sebanyak 3.200 hektare tanaman padi masyarakat mulai mengering akibat krisis pasokan air.

"Masyarakat sudah merasa resah dan melapor langsung ke kantor bupati. Jalan keluar yang harus segera kita siapkan adalah pembuatan sumur bor untuk mengairi sawah warga jika kondisi ini berlangsung lama," ujar Erwin Burase.

Berbeda 180 derajat dari wilayah utara, kawasan Parigi hingga Kasimbar justru diguyur hujan deras hampir setiap hari yang memicu banjir bandang di sejumlah titik.

Di Kecamatan Kasimbar, banjir bandang terjadi sebanyak dua kali, yakni pada 16 dan 26 Agustus 2026. Material longsor sempat menutup total Jalan Trans Sulawesi di Desa Paningka dan menghentikan arus lalu lintas sebelum akhirnya berhasil ditangani dengan jembatan darurat atau Bailey.

Sementara itu, di Desa Avolua, sebanyak 73 Kepala Keluarga (KK) terpaksa mengungsi akibat rumah mereka diterjang banjir. Puluhan unit rumah dilaporkan mengalami rusak berat.

Banjir juga menyebabkan krisis air bersih di Desa Toboli Barat. Sebanyak 350 KK terdampak setelah tanggul penampung dan instalasi pipa Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) jebol dihantam banjir bandang.

Dalam forum tersebut, Erwin Burase mengusulkan strategi khusus untuk memadamkan Karhutla di area perbukitan dan hutan yang sulit dijangkau armada mobil pemadam kebakaran.

Berdasarkan pengalaman penanganan di lapangan bersama 100 prajurit TNI, Kepolisian, serta sekitar 1.000 warga, metode pemadaman menggunakan tangki semprot manual, alkon atau mesin penyedot air, dan kolam penampung air plastik dinilai terbukti lebih efektif untuk mengisolasi pergerakan api.

"Mobil pemadam kita siapkan untuk memproteksi perumahan warga. Namun jika api sudah naik ke gunung dan masuk hutan, pergerakan pasukan manual dengan tangki semprot dan kantong penampung air adalah kunci tercepat sebelum ada bantuan helikopter," jelasnya.

Selain upaya teknis, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong terus memasifkan imbauan preventif hingga ke tingkat desa, pesta pernikahan, dan rumah ibadah agar warga tidak membakar sampah maupun ranting atau membuang puntung rokok sembarangan.

Hingga 28 Agustus 2026, tercatat 87 kejadian Karhutla dan 15 kejadian kekeringan melanda Sulawesi Tengah.

Menanggapi kondisi tersebut, Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. Anwar Hafid, M.Si., mempertegas pentingnya kolaborasi lintas sektor.

"Kasus kebakaran hutan dan lahan ini terjadi selain karena kelalaian juga dipengaruhi cuaca yang sangat panas. Harapannya melalui koordinasi ini kita bisa mencegah meluasnya dampak kerugian," tegas Gubernur.

Dukungan penuh juga disampaikan oleh Pangdam XXIII/Palaka Wira, Mayjen TNI Jonathan Binsar P. Sianipar. Pihaknya telah mengerahkan personel dan sarana pendukung di berbagai titik rawan untuk mengantisipasi serta mempercepat respons tanggap darurat di lapangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....