Kadin Parimo: Peluang Ekspor Durian ke Tiongkok Harus Diimbangi Standar Mutu
- 27 Jul 2026 11:20 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Faradiba Zaenong, menegaskan bahwa terbukanya peluang ekspor durian Indonesia ke pasar Tiongkok harus dibarengi dengan peningkatan kualitas produk serta pemenuhan standar internasional.
“Durian asal Indonesia khusus Sulawesi Tengah sangat dilintasi pasar Tiongkok, maka kegiatan ekspor yang sudah berjalan harus diperkuat dari hulu hingga hilir,” kata Faradiba Zaenong dalam keterangan tertulis yang diterima di Palu, Minggu (26/7/2026).
Ia mengungkapkan, hingga awal 2026 realisasi ekspor durian Sulawesi Tengah telah mencapai 7.052 ton. Capaian tersebut dinilai membuka peluang yang semakin luas bagi masuknya investasi, pengembangan hilirisasi, serta peningkatan kesejahteraan petani.
Sebagai salah satu sentra produksi durian di Sulawesi Tengah, Kabupaten Parigi Moutong memiliki kontribusi besar terhadap ekspor komoditas tersebut ke Tiongkok. Karena itu, menurut Faradiba, peningkatan kualitas harus dimulai sejak proses budidaya di tingkat petani.
Dia menilai keberhasilan menembus pasar Tiongkok perlu dijadikan momentum untuk memperkuat daya saing melalui peningkatan mutu produk, penerapan standar internasional, dan pengembangan industri hilir. Pasar global, kata dia, tidak hanya membutuhkan pasokan yang berkelanjutan, tetapi juga mengutamakan kualitas, keamanan pangan, sistem ketertelusuran (traceability), serta pemanfaatan teknologi modern dalam rantai pasok.
“Semakin besar peluang ekspor yang terbuka, maka semakin besar pula tanggung jawab menjaga kualitas. Investasi akan datang apabila kita mampu menghadirkan produk yang konsisten, berkualitas, aman dikonsumsi, dan memenuhi standar internasional,” ucapnya.
Faradiba menjelaskan, pada 22 Juli 2026 Kadin Parigi Moutong yang mewakili Kelompok Kerja Pengembangan Durian Sulawesi Tengah menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) penyusunan standar industri durian dengan Chengdu Huishi Technology di Distrik Qingbaijiang, Kota Chengdu, Provinsi Sichuan, Republik Rakyat Tiongkok.
Kerja sama itu mencakup penyusunan standar industri durian berbasis praktik dan teknologi modern, mulai dari klasifikasi mutu buah, teknologi pengujian tanpa merusak (non-destructive testing), sistem pengawetan pascapanen, pengembangan hilirisasi, hingga penerapan sistem ketertelusuran penuh (full traceability) melalui kode identitas pada setiap produk.
“Kerja sama merupakan langkah penting supaya durian Sulawesi Tengah tidak hanya mampu menembus pasar internasional, tetapi juga memiliki standar mutu yang diakui, didukung teknologi modern, dan memberikan kepastian kualitas bagi konsumen dunia,” tutur Faradiba.
Ia juga mengingatkan agar penggunaan pupuk, pestisida, maupun obat-obatan pertanian dilakukan sesuai ketentuan sehingga tidak menimbulkan residu yang dapat menghambat akses ekspor maupun menurunkan kepercayaan konsumen di pasar internasional.
Karena itu, Kadin mengajak petani, pelaku usaha, pemerintah, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menerapkan praktik budidaya yang baik, menjaga kualitas buah dari hulu hingga hilir, serta menerapkan standar industri guna memperkuat posisi durian Sulawesi Tengah sebagai komoditas unggulan Indonesia di pasar Tiongkok maupun pasar global.
“Ekspor bukan hanya soal menjual buah. Lebih penting adalah membangun standar, menghadirkan investasi, mengembangkan industri pengolahan, memastikan petani memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar. Semua itu harus dimulai dengan menjaga kualitas sejak dari kebun,” kata dia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....