Wabup Donggala: Ketahanan Keluarga Jadi Kunci Hadapi Tantangan Era Digital

  • 29 Jun 2026 09:16 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Donggala – Wakil Bupati Donggala Taufik Burhan menegaskan bahwa ketahanan keluarga menjadi fondasi utama dalam menyiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan era digital dan memanfaatkan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045. Hal itu ditegaskan Taufik saat memimpin apel peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Halaman Kantor Bupati Donggala, Senin, 29 Juni 2926.

Menurut dia, masyarakat saat ini hidup di tengah era Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity(VUCA), yang ditandai dengan perubahan yang sangat cepat, ketidakpastian, serta pesatnya perkembangan teknologi digital.

“Disrupsi teknologi digital dan pergeseran nilai sosial kini masuk hingga ke ruang keluarga melalui gawai yang berada di tangan anak-anak. Jika institusi keluarga rapuh, arus perubahan ini akan dengan mudah menggerus masa depan mereka. Olehnya, ketahanan keluarga bukan lagi pilihan, tetapi menjadi sebuah keharusan,” ujar Taufik.

Ia mengatakan, kualitas keluarga akan menentukan keberhasilan Indonesia memanfaatkan bonus demografi. Menurutnya, peluang tersebut dapat berubah menjadi beban apabila generasi usia produktif tidak memiliki kualitas sumber daya manusia yang memadai. Karena itu, ia menekankan pentingnya memperkuat tiga pilar utama pembangunan keluarga, yakni kesehatan, pendidikan karakter, dan ketahanan mental.

Pada aspek kesehatan, ia mengingatkan pentingnya percepatan penurunan stunting melalui pemenuhan gizi, khususnya pada 1.000 hari pertama kehidupan. Sementara dalam pendidikan karakter, keluarga diharapkan mampu menjadi tempat pertama menanamkan nilai kejujuran, integritas, disiplin, serta semangat kolaborasi kepada anak.

Selain itu, menurutnya, keluarga juga harus menjadi ruang yang mampu membangun ketahanan mental anak agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan mampu menghadapi berbagai tekanan di masa depan.

Dalam kesempatan tersebut, Taufik juga mengajak para ayah untuk mengambil peran lebih besar dalam pengasuhan anak. Ia menilai keterlibatan ayah tidak cukup hanya sebatas memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga harus hadir secara emosional dalam kehidupan anak.

“Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dalam fenomena fatherless, di mana ayah hadir secara fisik tetapi tidak hadir secara psikologis. Kehadiran ayah sangat menentukan pembentukan karakter dan kepribadian anak,” katanya.

Ia juga mengingatkan orang tua agar tidak membiarkan gawai menggantikan peran keluarga dalam mendidik anak. Menurutnya, penggunaan perangkat digital harus diawasi dan dibatasi agar tidak berdampak negatif terhadap perkembangan anak.

Lebih lanjut, Taufik menilai berbagai persoalan sosial seperti tawuran pelajar, perundungan, penyalahgunaan narkoba, hingga pergaulan bebas menjadi peringatan bahwa fungsi keluarga harus kembali diperkuat.

“Rumah harus menjadi tempat yang paling aman dan paling dirindukan oleh anak-anak. Ketika keluarga mampu menghadirkan kasih sayang dan komunikasi yang baik, anak akan memiliki benteng yang kuat untuk menghadapi berbagai pengaruh negatif,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembangunan keluarga harus menjadi bagian penting dari pembangunan daerah. Bagi dia, kemajuan ekonomi dan pembangunan infrastruktur tidak akan berarti apabila tidak diiringi dengan lahirnya sumber daya manusia yang sehat, cerdas, berkarakter, dan bermental tangguh.

“Mari bersama-sama membangun keluarga yang sehat, cerdas, dan berkarakter agar kita mampu memanfaatkan bonus demografi dan mewujudkan Indonesia Emas 2045,” tutur dia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....