Hannah Asa Indonesia Dorong Generasi Muda Lebih Cerdas Finansial
- 24 Mei 2026 21:12 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu - Hannah Asa Indonesia kembali menghadirkan edukasi publik terkait penguatan literasi keuangan generasi muda melalui kegiatan Smart Money Survival Bootcamp — How to Avoid Investment Scams & Online Gambling Traps. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kantor Hannah Asa Indonesia, Kota Palu, Minggu, 24 Mei 2026.
Kegiatan yang diikuti ratusan peserta tersebut dilaksanakan sebagai renspons terhadap meningkatnya ancaman investasi ilegal, penipuan digital, dan maraknya praktik judi online di era digital. Ratusan peserta tersebut terdiri dari kalangan mahasiswa, komunitas muda perempuan, pekerja kreatif, dan masyarakat umum.
Kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan edukasi finansial Hannah Asa Indonesia untuk memperkuat ketahanan finansial generasi muda di Sulawesi Tengah dan Indonesia Timur. Bootcamp ini terselenggara melalui kolaborasi strategis bersama Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Stockbit Sekuritas Digital, Banua Literasi, dan Weekend Creative, dengan pendekatan edukasi yang lebih kontekstual, praktis, dan relevan dengan tantangan finansial generasi digital saat ini.
Tidak hanya membahas bahaya investasi bodong dan judi online, bootcamp ini juga mengangkat tema penguatan kapasitas generasi muda melalui pendekatan: “Empowering Your Future: A Journey of Creativity, Literacy and Financial Intelligence”. Melalui pendekatan ini, peserta diajak untuk memahami bahwa membangun masa depan tidak cukup hanya menghindari risiko finansial, tetapi juga membutuhkan kombinasi antara kreativitas, literasi, dan kecerdasan finansial (financial intelligence).
Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, menegaskan bahwa tantangan generasi muda hari ini telah berubah. Jika dahulu masyarakat menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan keuangan, kini tantangan terbesar justru datang dari banyaknya jebakan finansial digital.
“Hari ini semua ada di genggaman tangan, investasi, trading, pinjaman, bahkan judi online. Tetapi akses tumbuh jauh lebih cepat dibanding pemahaman masyarakat. Karena itu, literasi keuangan harus menjadi keterampilan hidup, bukan sekadar pengetahuan tambahan,” ujar Mardiyah.
Menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat literasi keuangan Indonesia berada pada angka 66,46 persen, sementara inklusi keuangan telah mencapai 80,51 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin banyak menggunakan layanan keuangan, namun belum sepenuhnya memahami manfaat maupun risikonya.
Gap antara akses dan pemahaman inilah yang menurut Hannah Asa Indonesia sering dimanfaatkan oleh berbagai praktik keuangan ilegal, termasuk investasi bodong, pinjaman ilegal, hingga judi online. Di sisi lain, isu judi online juga menjadi perhatian serius dalam kegiatan ini.
Berdasarkan data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), nilai transaksi judi online di Indonesia pada tahun 2025 mencapai sekitar Rp286,84 triliun. Meski mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, angka tersebut masih menunjukkan ancaman besar terhadap ketahanan ekonomi keluarga dan masa depan generasi muda.
“Judi online tidak menjual kemenangan, tetapi menjual harapan palsu. Banyak orang masuk karena ingin cepat kaya, tetapi keluar ketika kehilangan tabungan, relasi, bahkan masa depan,” ucap Mardiyah.
Sebagai bagian dari rangkaian edukasi publik, sebelum pelaksanaan bootcamp, Hannah Asa Indonesia juga menggelar Instagram Live bersama Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid yang membahas Waspada Investasi Bodong & Judi Online di Era Digital. Diskusi tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengambilan keputusan finansial yang lebih bijak, aman, dan bertanggung jawab di tengah masifnya perkembangan teknologi digital.
Bagi Hannah Asa Indonesia, edukasi keuangan tidak hanya berbicara tentang bagaimana masyarakat terhindar dari kerugian, tetapi juga bagaimana membangun manusia yang lebih resilien secara ekonomi.
“Kami percaya generasi muda tidak cukup hanya dijauhkan dari jebakan finansial. Mereka juga perlu dipersiapkan untuk membangun masa depan menjadi kreatif, adaptif, dan cerdas dalam mengambil keputusan keuangan,” tegas Mardiyah.
Sejak berdiri, Hannah Asa Indonesia telah aktif menghadirkan berbagai program edukasi keuangan bagi perempuan, mahasiswa, pelaku UMKM, komunitas adat, penyandang disabilitas, hingga masyarakat rentan di berbagai wilayah Indonesia. Hingga 2026, gerakan ini telah menjangkau puluhan ribu penerima manfaat melalui bootcamp, pelatihan, sertifikasi, edukasi komunitas, dan kolaborasi lintas sektor bersama pemerintah, regulator, kampus, NGO, serta mitra pembangunan nasional dan internasional.
Melalui Smart Money Survival Bootcamp, Hannah Asa Indonesia berharap semakin banyak generasi muda yang tidak hanya menjadi pengguna layanan keuangan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memahami risiko, melindungi diri, dan mengambil keputusan finansial secara cerdas.
“Harapan kami sederhana: jangan pertaruhkan masa depan hanya karena ingin kaya lebih cepat. Mari menjadi generasi yang bukan hanya digital savvy, tetapi juga financially smart,” ucap Mardiyah.
Hannah Asa Indonesia merupakan lembaga edukasi dan pemberdayaan masyarakat berbasis di Kota Palu, Sulawesi Tengah yang berfokus pada penguatan literasi keuangan, pemberdayaan perempuan, pengembangan kapasitas UMKM, edukasi investasi, dan pembangunan generasi muda yang lebih resilien secara ekonomi. Dengan pendekatan berbasis komunitas dan kolaborasi lintas sektor, Hannah Asa Indonesia menghadirkan gerakan “Sadar Finansial dari Sulawesi Tengah untuk Indonesia” melalui pelatihan, bootcamp, sertifikasi, edukasi publik, dan inovasi pembelajaran finansial yang kontekstual serta mudah dipahami masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....