El Nino Godzilla 2026 di Sulawesi Tengah, ini Penjelasan BMKG GAW LLB Palu
- 27 Mar 2026 11:14 WIB
- Palu
Poin Utama
- Prediksi BRIN terkait fenomena El Nino "El Nino Godzilla" di tahun 2026
- Puncak Kemarau diperkirakan akan terjadi pada Agustus 2026, dengan durasi yang lebih panjang dari normalnya di sebagian besar wilayah Indonesia.
- Sulteng belum terdampak signifikan
RRI.CO.ID, Palu - Informasi mengenai fenomena potensi "El Nino Godzilla" di tahun 2026 memang sedang menjadi perbincangan hangat setelah adanya prediksi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Istilah "Godzilla" sendiri digunakan untuk menggambarkan fenomena El Nino dengan intensitas yang sangat kuat (seperti yang pernah terjadi pada 1997 dan 2015).
Saat akhir Maret 2026 ini, BMKG menyatakan bahwa statusnya masih "El Nino Watch". BMKG memprediksi peluang munculnya El Nino kategori Lemah hingga Moderat sebesar 50–60% pada semester kedua tahun 2026 atau sekitar bulan Juni-Juli-Agustus. Puncak Kemarau diperkirakan akan terjadi pada Agustus 2026, dengan durasi yang lebih panjang dari normalnya di sebagian besar wilayah Indonesia.
Kepala BMKG GAW Lore Lindui Bariri Palu Asep Firman Illahi kepada rri.co.id mengatakan, khusus wilayah Sulawesi Tengah, belum ada wilayah yang diprediksi mulai memasuki awal musim kemarau pada bulan April atau Mei 2026. Sebaliknya, beberapa wilayah justru diprediksi mulai memasuki musim hujan terdekat pada periode ini, yaitu sebagian besar Parigi Moutong serta sebagian kecil Donggala dan Sigi.
“Mayoritas wilayah Sulawesi Tengah lainnya baru akan memasuki musim kemarau pada bulan Juni (24% zona), Juli (34% zona) dan Agustus (21% wilayah),” ujar Asep Firman, Jumat 27 Maret 2026.
Pengaruh El Nino di Sulawesi Tengah
Sulawesi Tengah memiliki karakteristik cuaca yang unik karena topografinya yang bergunung-gunung. Namun, jika El Nino kuat benar-benar terjadi, berikut adalah dampaknya:
Wilayah seperti Palu, Sigi, dan Donggala yang secara alami merupakan daerah bercurah hujan rendah (bayang-bayang hujan) akan mengalami kekeringan yang lebih parah. Debit air di sungai-sungai besar seperti Sungai Gumbasa atau Lariang berpotensi menyusut drastis.
Di sektor pertanian, para Petani di sentra produksi padi seperti Kabupaten Parigi Moutong dan Banggai perlu waspada terhadap risiko gagal panen akibat kurangnya pasokan air irigasi.
Penurunan kelembapan udara meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah dengan tutupan hutan lebat seperti di sekitar Taman Nasional Lore Lindu.
Selain itu, debu dan polusi udara selama kemarau panjang dapat meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). serta keterbatasan air bersih bisa memicu penyakit tular air.
Apa yang Perlu Disiapkan?
Mengingat prediksi ini merupakan peringatan dini (early warning), langkah antisipasi yang bisa dilakukan yang pertama adalah manajemen air, mulailah menghemat penggunaan air bersih dan memastikan waduk/embung terisi optimal sebelum puncak kemarau.
“Petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam atau memilih varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan (palawija). Dan waspada api, hindari pembukaan lahan dengan cara membakar, terutama di area terbuka yang kering,” jelasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....