Teknologi VAR Dinilai Jamin Keadilan di Piala Dunia 2026
- 26 Mei 2026 06:39 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu - Penerapan teknologi mutakhir seperti perluasan wewenang Video Assistant Referee (VAR) dan integrasi kecerdasan buatan (AI) dipastikan menjadi warna dominan pada Piala Dunia 2026. Kehadiran inovasi sensor bola secara real-time ini diklaim mampu meminimalkan kesalahan krusial yang kerap luput dari pengamatan perangkat pertandingan di lapangan.
Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sulawesi Tengah, Dinuar, dalam program dialog Dibalik Bola di Studio Pro 1 RRI Palu beberapa waktu lalu mengungkapkan, adopsi teknologi berbasis AI ini menjadi lompatan besar dalam sejarah sepak bola modern. Pada turnamen edisi kali ini, intervensi teknologi tidak lagi sebatas meninjau keabsahan gol atau offside, melainkan meluas hingga penentuan sepak pojok serta akumulasi kartu kuning.
“Penggunaan teknologi VAR yang lebih kompleks dan analisis AI di Piala Dunia 2026 membawa dampak yang sangat positif terhadap penegakan keadilan di lapangan. Hal ini membuat setiap jalannya pertandingan menjadi jauh lebih transparan, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Dinuar.
Dinuar memaparkan, langkah FIFA menggandeng raksasa teknologi untuk menyematkan sensor pelacakan gerak pada bola modern merupakan terobosan yang sangat cerdas. Data posisi bola dan pergerakan pemain yang dikirimkan secara real-time terbukti mempercepat pengambilan keputusan, termasuk mendeteksi pelanggaran offside secara semi-otomatis.
“Kehadiran sensor khusus pada bola pertandingan sangat membantu wasit utama dalam mengambil keputusan krusial di tengah tempo permainan yang semakin cepat. Melalui dukungan data analitik yang akurat, potensi terjadinya keputusan kontroversial yang merugikan salah satu tim dapat ditekan sekecil mungkin,” ucapnya.
Meskipun sistem digital ini memberikan jaminan keadilan yang tinggi, Dinuar mengakui munculnya riak pandangan yang menilai teknologi dapat mengurangi sisi romantis sepak bola. Beberapa pencinta olahraga mengeluhkan hilangnya spontanitas emosi sesaat karena selebrasi gol sering kali harus tertunda demi menunggu hasil verifikasi ruang kontrol.
“Kami sangat memahami jika ada sebagian penggemar merasa romantisasi sepak bola sedikit berkurang karena emosi pertandingan kadang terasa tertunda oleh jeda teknologi. Namun, kita harus melihat tujuan yang lebih besar, yaitu menyelamatkan esensi sportivitas dari kesalahan manusiawi yang tidak disengaja,” ucap Sekretaris Dispora Sulteng tersebut.
Lebih lanjut, Dinuar menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi yang diterapkan, kecerdasan buatan tetaplah berfungsi sebagai alat bantu bagi kepemimpinan wasit. Faktor utama penentu kemenangan sebuah tim nasional di atas lapangan hijau tidak akan bergeser dari kualitas taktik, kerja keras, dan keterampilan para pemain itu sendiri.
“Teknologi modern ini hanyalah instrumen pendukung dan bukan pengganti dari keaslian bakat maupun daya juang fisik para pesepak bola di lapangan. Di era modern ini, tantangan terbesar bagi FIFA adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara keadilan teknologi dan kemurnian emosi sepak bola,” ucapnya.
Dinuar berharap implementasi sains olahraga (sport science) di tingkat dunia ini dapat menjadi referensi berharga bagi perkembangan sepak bola tanah air. Pemanfaatan data analitik performa berbasis teknologi sudah saatnya mulai diadopsi secara bertahap dalam ekosistem kompetisi domestik demi kemajuan prestasi atlet.
“Transformasi digital di Piala Dunia 2026 mengajarkan kita bahwa sepak bola modern tidak bisa dilepaskan dari peran data dan teknologi untuk mencapai performa terbaik. Momentum ini harus menjadi motivasi bagi kita di daerah untuk mulai melek terhadap pentingnya sport science dalam membina atlet-atlet muda,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....