Format Baru Piala Dunia Dinilai Untungkan Negara Berkembang
- 25 Mei 2026 06:05 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu - Perhelatan Piala Dunia 2026 dinilai akan melahirkan era baru bagi peta kekuatan sepak bola global berkat penerapan format mutakhir yang diikuti oleh 48 negara peserta. Penambahan sebanyak 16 kuota negara ini menjadi kesempatan emas bagi negara-negara berkembang untuk ikut bersaing di panggung olahraga tertinggi dunia tersebut.
Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sulawesi Tengah, Dinuar, dalam program dialog Dibalik Bola di studio Pro 1 RRI Palu pada beberapa waktu lalu mengungkapkan, turnamen edisi ke-23 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini memberikan dampak domino yang besar. Salah satu efek paling nyata dirasakan di zona Asia, di mana kuota kelolosan melonjak signifikan menjadi delapan negara ditambah satu jalur play-off.
“Format baru dengan empat puluh delapan negara ini merupakan langkah yang sangat tepat karena membuka pintu lebar-lebar bagi negara berkembang untuk menembus level dunia. Penambahan kuota ini tidak hanya meningkatkan atmosfer kompetisi, tetapi juga memacu gairah pembinaan sepak bola di berbagai benua,” ujar Dinuar.
Ia menilai, keterlibatan lebih banyak negara akan mematahkan stigma bahwa Piala Dunia hanya milik negara-negara tradisional sepak bola yang mapan secara industri. Dengan format baru ini, negara yang sebelumnya dikategorikan sebagai non-unggulan kini memiliki panggung resmi untuk menunjukkan lonjakan kualitas permainan mereka.
“Meskipun ada kekhawatiran mengenai kesenjangan kualitas di fase awal grup, kenyataannya sepak bola modern di negara berkembang saat ini melaju sangat pesat. Banyak pemain dari negara berkembang yang kini merumput di liga-liga top dunia, sehingga mentalitas bertanding mereka sudah jauh lebih siap,” ucapnya.
Menurut Dinuar, perluasan jumlah tim menjadi 48 peserta yang terbagi dalam 12 grup ini dipastikan mendongkrak euforia penonton hingga ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dinamika turnamen dengan total 104 pertandingan tersebut akan memaksa setiap tim tampil habis-habisan demi mencetak sejarah baru.
“Kita bisa melihat bagaimana persaingan di babak kualifikasi kemarin berjalan sangat ketat karena semua negara merasa memiliki peluang yang sama besar. Gairah penonton di seluruh dunia juga ikut berlipat ganda karena atmosfer persaingan yang disuguhkan menjadi jauh lebih terbuka,” ucap Sekretaris Dispora Sulteng.
Ia juga menambahkan bahwa ekspansi pasar olahraga global ini memberikan keuntungan timbal balik bagi negara-negara besar untuk memperluas pengaruh sepak bola mereka. Namun, esensi terbesar dari transformasi regulasi FIFA ini tetap berada pada aspek pemerataan kesempatan bagi negara-negara yang tengah membangun ekosistem sepak bolanya.
“Negara besar diuntungkan dari sisi perluasan pasar dan komersialisasi, tetapi dampak positif terbesar secara teknis tetap mengalir ke negara berkembang. Keterbukaan akses ini adalah modal penting untuk memotivasi federasi-federasi lokal agar lebih serius membenahi sistem kompetisi domestik mereka,” ucapnya.
Ia berharap transformasi positif di tingkat dunia ini dapat diadopsi sebagai motivasi bagi pembinaan sepak bola di Indonesia, khususnya di wilayah Sulawesi Tengah. Dengan adanya ruang kompetisi yang semakin luas di masa depan, talenta lokal diharapkan dapat terus dipacu lewat program pembinaan usia dini yang berkelanjutan.
“Piala Dunia dengan format baru ini menjadi bukti bahwa sepak bola terus berevolusi demi memberikan keadilan panggung bagi semua bangsa. Kita di daerah harus menangkap momentum ini dengan memperkuat pondasi pembinaan atlet muda agar kelak mampu bersaing di level internasional,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....