Musim Kemarau, Warga Lima Desa di Sigi Minta Hujan Melalui Ritual Adat Morra Keke

  • 08 Jun 2026 09:36 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Masyarakat dari lima desa di Kabupaten Sigi melaksanakan Upacara Adat Morra Keke di Sungai Wuno, Kamis, 4 Juni 2026. Upacara adat tersebut dilakukan sebagai bentuk ikhtiar bersama memohon turunnya hujan di tengah musim kemarau.

Ritual adat tersebut dilaksanakan oleh lembaga adat, pemerintah desa dengan melibatkan masyrakat dari Desa Watunonju, Desa Sidera, Desa Oloboju, Desa Bora, dan Desa Solove. Penetapan Sungai Wuno sebagai lokasi pelaksanaan ritual, karena dinilai memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat sekitar.

Selain menjadi sumber kebutuhan sehari-hari, sungai ini juga menjadi penopang utama aktivitas pertanian warga. Pelaksanaan ritual Morra Keke dilakukan sebagai respons dari musim kemarau yang menyebabkan sejumlah lahan pertanian mengalami kekeringan dan berdampak pada aktivitas bercocok tanam masyarakat.

Morra Keke merupakan salah satu ritual adat yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat sebagai bentuk permohonan kepada Sang Pencipta agar menurunkan hujan dan memberikan keberkahan bagi kehidupan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, ritual ini melibatkan berbagai prosesi adat, termasuk penyembelihan hewan berupa ayam, domba, kambing, anjing, dan babi sesuai tata cara yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan secara gotong royong dengan dukungan dana swadaya masyarakat dari lima desa yang terlibat. Kebersamaan tersebut mencerminkan kuatnya nilai solidaritas dan semangat kolektif masyarakat dalam menghadapi tantangan alam yang sedang terjadi.

Perwakilan Lembaga Adat Desa Watunonju Aswan Meni mengatakan, pelaksanaan Morra Keke merupakan wujud harapan dan doa masyarakat kepada Sang Pencipta.

“Kegiatan ini merupakan bentuk ikhtiar masyarakat dalam memohon kepada Sang Pencipta untuk meminta hujan agar kehidupan masyarakat dan lahan pertanian kembali memperoleh keberkahan,” ujarnya.

Selain sebagai ritual permohonan hujan, Morra Keke juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga dari lima desa yang memiliki ketergantungan terhadap sumber daya air yang sama. Nilai gotong royong, kebersamaan, serta penghormatan terhadap tradisi leluhur terlihat dalam seluruh rangkaian kegiatan yang berlangsung.

Ritual adat tersebut ditutup dengan kegiatan Makan Uvempoi bersama, yaitu makan bersama masyarakat menggunakan hasil penyembelihan kambing dan domba yang telah dipersiapkan selama prosesi berlangsung. Suasana kebersamaan dan rasa syukur mewarnai penutupan kegiatan yang dihadiri oleh tokoh adat, pemerintah desa, dan masyarakat dari berbagai kalangan.

Pelaksanaan Morra Keke menjadi bukti bahwa tradisi adat masih memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Tengah. Di tengah perkembangan zaman, ritual ini tidak hanya menjadi warisan budaya yang terus dijaga, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkuat solidaritas sosial, menjaga hubungan dengan alam, serta mempertahankan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....