Tiga Perkara yang Dapat Menghancurkan Hidup

  • 29 Sep 2026 07:02 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Kehancuran dalam kehidupan tidak selalu terlihat dari musibah atau kehilangan secara fisik. Seseorang bisa saja tampak sukses dari luar, memiliki harta, kendaraan mewah, dan kedudukan, namun kehidupannya justru jauh dari Allah SWT.

DAI MUI Kabupaten Nunukan, Ustaz Suprayitno, S.H., Lc. menjelaskan, Rasulullah SAW telah mengingatkan umat Islam mengenai tiga perkara yang dapat membinasakan kehidupan manusia, yakni kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang selalu diikuti, serta seseorang yang kagum terhadap dirinya sendiri.

Kekikiran yang Ditaati

Ustaz Suprayitno mengatakan, salah satu perkara yang dapat menghancurkan kehidupan adalah ketika seseorang tunduk kepada sifat kikir dan kerakusan terhadap harta. Keinginan untuk terus memperbanyak harta dapat membuat seseorang menilai segala sesuatu dengan uang. Bahkan, batas antara halal dan haram bisa menjadi kabur ketika keuntungan sudah berada di depan mata.

“Tidak bersedekah di jalan Allah, keinginan untuk memperbanyak harta saja. Segala sesuatu dinilai dengan uang, halal dan haram menjadi kabur ketika keuntungan di depan mata,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa keberuntungan sejati bukan sekadar banyaknya harta yang dimiliki, tetapi ketika seseorang mampu menjaga dirinya dari sifat kikir. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. At-Taghabun ayat 16, orang yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Menurutnya, salah satu obat dari kekikiran adalah menyadari bahwa segala sesuatu yang berada di tangan manusia pada hakikatnya merupakan titipan Allah SWT. Karena itu, umat Islam dianjurkan membiasakan diri untuk bersedekah, meskipun dengan sesuatu yang sederhana.

“Bersedekah walaupun hanya separuh atau setengah biji kurma,” ujarnya.

Hawa Nafsu yang Senantiasa Diikuti

Perkara kedua adalah hawa nafsu yang selalu dituruti. Ustaz Suprayitno mengingatkan bahwa kemaksiatan sering kali bermula dari sesuatu yang dianggap kecil, kemudian perlahan berkembang menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan.

Perkembangan teknologi bahkan membuat pintu menuju kemaksiatan semakin mudah diakses. Ia mencontohkan praktik judi daring yang kini dapat dilakukan hanya melalui telepon genggam.

“Dahulu berjudi itu harus mendatangi tempat tertentu. Sekarang, hanya sendiri di dalam kamar, memegang HP sudah bisa berjudi daring,” katanya.

Menurutnya, kemudahan akses tersebut menjadi pengingat agar umat Islam semakin berhati-hati menjaga diri. Ustaz Suprayitno menegaskan, orang yang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsunya akan mendapatkan balasan surga dari Allah SWT.

Karena itu, obat dari hawa nafsu yang terus diikuti adalah mujahadah, yakni bersungguh-sungguh meninggalkan kemaksiatan. Di antaranya dengan menjaga pandangan, menjauhi pintu-pintu maksiat, segera bertaubat kepada Allah, serta meminta pertolongan kepada orang yang mampu membantu ketika seseorang telah terjebak dalam kemaksiatan.

Kagum dan Bangga kepada Diri Sendiri

Perkara ketiga yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang mulai merasa kagum terhadap dirinya sendiri atau terjatuh dalam sifat ujub. Menurut Ustaz Suprayitno, seseorang terkadang tidak menyadari bahwa keberhasilan yang diraihnya telah membuat dirinya merasa lebih hebat dibandingkan orang lain.

Ketika mendapatkan pujian, ia merasa senang. Ketika memperoleh harta, ia merasa semuanya merupakan hasil kecerdasannya. Saat mendapatkan kedudukan, ia merasa memang dirinya paling pantas mendapatkannya.

Bahkan, perasaan tersebut dapat berkembang hingga seseorang memandang rendah orang lain.

“Ketika melihat pelaku dosa, ia bukannya kasihan, melainkan merasa, ‘Aku lebih baik daripada dia’,” jelasnya.

Padahal, menurutnya, seorang muslim seharusnya tidak berhenti pada penilaian terhadap kesalahan orang lain. Jika bertemu seseorang yang belum memahami agama, semestinya ia berusaha membimbing, bukan merasa lebih suci.

Allah SWT adalah Zat yang paling mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa. Karena itu, umat Islam perlu senantiasa melakukan introspeksi diri dengan bertanya kepada hati masing-masing: Apakah saya mulai riya? Apakah saya mulai berbangga diri? Apakah keberhasilan yang saya miliki membuat saya merasa lebih baik daripada orang lain?

Syariat Memberikan Jalan untuk Menyelamatkan Diri

Ustaz Suprayitno menambahkan, syariat Islam tidak hanya menjelaskan perkara yang dapat menghancurkan kehidupan manusia, tetapi juga menjelaskan jalan untuk melindungi diri dan kembali kepada jalan yang benar.

Untuk mengobati kekikiran dan kerakusan, manusia perlu menyadari bahwa harta yang dimiliki merupakan amanah dan titipan Allah SWT.

Sementara untuk melawan hawa nafsu, diperlukan kesungguhan dalam meninggalkan kemaksiatan, menjaga diri dari berbagai pintu dosa, serta memperbanyak taubat dan memohon pertolongan Allah SWT.

Adapun untuk mengobati rasa kagum terhadap diri sendiri, seseorang perlu mengenali Allah SWT, mengenali dirinya sendiri, serta menyadari berbagai nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

“Obat dari takjub kepada diri sendiri adalah mengenali Allah SWT, mengenali diri sendiri dan mengenali nikmat-nikmat Allah SWT,” tuturnya.

Di akhir penyampaiannya, Ustaz Suprayitno mengajak umat Islam untuk tidak hanya melihat keberhasilan dari apa yang tampak secara lahiriah. Sebab, kehidupan yang terlihat sukses belum tentu menjadi keberhasilan di hadapan Allah SWT. Untuk itu, setiap muslim hendaknya senantiasa melakukan introspeksi, menjaga hati dari kekikiran, mengendalikan hawa nafsu, serta menjauhkan diri dari sifat ujub dan membanggakan diri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....