Jangan Pernah Menganggap Dirimu Besar

  • 21 Agt 2026 00:14 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Ada sesuatu yang sering luput dari kesadaran kita ketika hidup berjalan begitu cepat. Kita merasa kuat, merasa penting, merasa seolah dunia berputar karena langkah kita. Jabatan, pujian, pengikut, dan pencapaian perlahan membentuk ilusi bahwa kita adalah pusat dari segala sesuatu.

Tanpa disadari, hati kita mulai membesar bukan karena keluasan jiwa, tetapi karena kesombongan yang tumbuh diam-diam. Kita lupa bahwa tubuh yang hari ini berdiri tegak suatu saat akan terbaring kaku, dan nama yang hari ini dielu-elukan bisa saja esok hanya menjadi kenangan samar.

Di tengah kehidupan sosial yang sarat kompetisi, kita didorong untuk terus membuktikan diri. Media, lingkungan, bahkan lingkar pertemanan sering mengukur nilai seseorang dari seberapa tinggi ia berdiri dibanding yang lain. Tanpa sadar, kita belajar menginjak agar terlihat lebih tinggi.

Baca Juga: Belajarlah Menyendiri

Padahal tanah yang kita pijak adalah tanah yang sama yang akan memeluk kita suatu hari nanti. Kesadaran ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk melembutkan hati, agar kita tidak tertipu oleh bayangan kebesaran yang sebenarnya rapuh.

  1. Kesombongan Adalah Ilusi Yang Meninabobokan

Kesombongan tidak selalu hadir dalam bentuk suara keras atau sikap meremehkan. Ia sering bersembunyi dalam rasa merasa lebih tahu, lebih benar, lebih pantas dihormati.

  1. Tanah Tidak Pernah Membedakan Siapa Yang Dipeluknya

Ketika ajal tiba, tanah tidak bertanya tentang gelar, harta, atau pengaruh. Ia menerima dengan tenang, tanpa diskriminasi sosial. Dalam realitas ini, ada pelajaran filosofis yang sangat dalam bahwa pada akhirnya semua manusia kembali ke titik yang sama.

  1. Rumput Yang Kita Injak Adalah Pengingat Diam

Rumput tumbuh tanpa suara, tanpa ambisi untuk dipuji. Ia rela diinjak, namun tetap hijau. Betapa sering kita berjalan di atasnya tanpa pernah memikirkan makna yang tersembunyi. Hari ini rumput berada di bawah kaki kita, besok ia mungkin tumbuh di atas makam kita. Ada pesan yang sunyi namun tajam bahwa hidup ini hanyalah persinggahan.

  1. Kebesaran Sejati Lahir Dari Kerendahan Hati

Dalam banyak tradisi kebijaksanaan, kerendahan hati selalu ditempatkan sebagai tanda kedewasaan jiwa. Orang yang benar-benar besar tidak perlu mengumumkan kebesarannya. Ia justru semakin sadar betapa kecil dirinya di hadapan semesta.

  1. Hidup Adalah Titipan, Bukan Kepemilikan

Kita sering berbicara tentang milikku dan punyaku, seolah semuanya benar-benar milik kita. Padahal tubuh, waktu, bahkan napas adalah sesuatu yang tidak bisa kita jamin keberlanjutannya. Kesadaran bahwa hidup hanyalah titipan membuat kita lebih bijak dalam menggunakan setiap kesempatan.

  1. Setiap Manusia Sama-Sama Rapuh

Di balik wajah yang tegas dan langkah yang percaya diri, setiap orang menyimpan ketakutan, luka, dan keraguan. Kesombongan sering menjadi topeng untuk menutupi rasa tidak aman.

(Sumber: Jalaluddin Rumi)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....