Ciri-Ciri Munafik, Peringatan agar Umat Tidak Terjebak dalam Kemunafikan
- 10 Agt 2026 06:00 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Umat Islam diingatkan untuk mewaspadai sifat-sifat kemunafikan yang dapat muncul dalam kehidupan sehari-hari. Kemunafikan tidak hanya berkaitan dengan perkataan, tetapi juga dapat tercermin melalui sikap terhadap ibadah, amanah, hingga hubungan dengan sesama manusia.
Ustaz Irfan Jaya Hafidzahullah saat menjadi narasumber acara Mutiara Pagi RRI Nunukan membahas tentang ciri-ciri munafik dengan merujuk pada surah An-Nisa ayat 142. Dalam ayat tersebut, Allah SWT menjelaskan empat ciri utama yang perlu menjadi bahan introspeksi bagi setiap Muslim.
Ciri pertama, orang munafik berusaha menipu Allah SWT. Menurut Ustaz Irfan Jaya, orang yang mengaku sebagai seorang Muslim tetapi meninggalkan salat atau melaksanakan salat secara tidak konsisten karena mengikuti suasana hati perlu melakukan evaluasi terhadap kualitas keimanannya.
“Misalnya mengaku Muslim, tetapi tidak salat. Atau salatnya bolong-bolong, sesuai mood,” jelasnya, Senin (10/8/2026).
Kedua, mengakhirkan waktu salat dan tidak memberikan perhatian yang semestinya terhadap ibadah. Salat hendaknya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, termasuk memperhatikan kesiapan dan kepantasan ketika menghadap Allah SWT.
Ustaz Irfan Jaya mengingatkan bahwa salat merupakan amal pertama yang akan dihisab dari seorang hamba. Apabila salatnya baik, maka diharapkan amal-amal lainnya juga menjadi baik. Sebaliknya, jika salatnya rusak, hal tersebut dapat berdampak pada amal lainnya.
Ketiga, beramal karena ingin dilihat dan dipuji manusia. Perbuatan ini berkaitan dengan sifat riya, yakni melakukan ibadah atau kebaikan bukan semata-mata mengharap ridha Allah SWT, tetapi menginginkan pengakuan dan pujian dari manusia. Menurutnya, sifat tersebut harus diwaspadai karena dapat menghilangkan keikhlasan dalam beramal.
Keempat, sedikit mengingat Allah SWT. Ustaz Irfan Jaya menjelaskan bahwa salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang lebih banyak menggunakan lisannya untuk berkata kotor, melakukan ghibah, menyinggung perasaan orang lain, atau bahkan membuat orang saling bermusuhan, sementara mengingat Allah hanya dilakukan ketika sedang sakit atau tertimpa musibah.
“Allah disebut ketika sedang sakit atau sedang terlilit musibah saja,” ungkapnya.
Selain ciri-ciri yang disebutkan dalam Al-Qur'an, Ustaz Irfan Jaya juga mengingatkan tentang ciri orang munafik sebagaimana dijelaskan Nabi Muhammad SAW dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, salah satunya adalah ketika diberikan amanah, ia berkhianat.
Menurutnya, amanah merupakan tanggung jawab yang harus dijaga oleh setiap orang, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam menjalankan tugas dan jabatan. Hal tersebut, kata dia, berlaku bagi siapa saja, termasuk pemimpin, pegawai, anggota legislatif, maupun setiap individu yang mendapatkan kepercayaan dan tanggung jawab dari orang lain.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pembahasan mengenai ciri-ciri munafik bukan untuk memberikan label kepada orang lain, melainkan sebagai peringatan dan bahan introspeksi diri.
“Dari ciri yang disebutkan Allah dan Nabi, ini memperingatkan kepada kita tentang bahaya ciri munafik,” ujarnya.
Ustaz Irfan Jaya menambahkan, seseorang bisa saja memiliki sebagian dari sifat-sifat tersebut sehingga perlu terus melakukan perbaikan diri. Sementara kemunafikan yang sesungguhnya merupakan kondisi yang jauh lebih berat ketika sifat-sifat tersebut telah melekat secara menyeluruh.
Karena itu, umat Islam diajak untuk menjaga salat, meningkatkan keikhlasan dalam beramal, memperbanyak mengingat Allah SWT, menjaga lisan, serta menjalankan setiap amanah dengan penuh tanggung jawab.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....